Studi: Kehilangan Banyak Gigi Terkait Risiko Kematian Lebih Cepat

Rabu, 10 Juni 2026 | 23:11:31 WIB
Gambar Gigi.

JAKARTA - Jangan mengabaikan kondisi gigi yang rusak atau tanggal. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa jumlah gigi yang masih dimiliki seseorang merupakan indikator penting bagi kesehatan secara keseluruhan, bahkan berkaitan dengan risiko kematian dini.

Temuan ini didasarkan pada studi yang dilakukan para ilmuwan di Jepang terhadap lebih dari 190 ribu lansia berusia 75 tahun ke atas. Peneliti mendapati bahwa individu dengan lebih banyak gigi sehat memiliki peluang hidup lebih panjang dibandingkan mereka yang kehilangan banyak gigi atau memiliki gigi berlubang yang tidak ditangani.

Menariknya, gigi yang telah diperbaiki melalui tambalan memberikan manfaat kesehatan yang hampir setara dengan gigi sehat. Hal ini mengindikasikan bahwa perawatan gigi yang tepat tidak sekadar membantu fungsi mulut, tetapi juga mendukung kesehatan jangka panjang.

Tim peneliti dari Universitas Osaka menganalisis data kesehatan dan kondisi gigi dari 190.282 lansia, dengan mengklasifikasikan gigi ke dalam kategori sehat, ditambal, berlubang, atau hilang. 

Hasilnya menunjukkan bahwa jumlah total gigi sehat ditambah gigi yang telah ditambal merupakan prediktor yang lebih akurat dalam memetakan risiko kematian dibandingkan jika hanya menghitung jumlah gigi sehat.

"Jumlah total gigi sehat dan gigi yang ditambal memprediksi angka kematian akibat semua penyebab dengan lebih akurat daripada hanya jumlah gigi sehat saja," tulis para peneliti dalam publikasi ilmiahnya, Rabu (10/6/2026).

Para peneliti menduga hubungan tersebut berkaitan dengan pengaruh kesehatan mulut terhadap kondisi tubuh secara menyeluruh. Gigi yang rusak atau hilang dapat memicu peradangan kronis yang berpotensi berdampak pada organ tubuh lain. 

Selain itu, kehilangan gigi dapat menurunkan kemampuan seseorang dalam mengunyah makanan bergizi secara optimal.

Kendati demikian, para ilmuwan mengakui adanya faktor pengganggu. Sebagai contoh, individu dengan perawatan gigi yang kurang memadai mungkin berasal dari kelompok sosial ekonomi rendah, yang secara independen memang memengaruhi kesehatan dan harapan hidup.

Hasil penelitian ini sejalan dengan studi dalam jurnal Geriatrics & Gerontology oleh peneliti dari Institut Sains Tokyo, yang menyoroti fenomena "kerapuhan mulut". Kondisi ini mencakup kehilangan gigi, gangguan mengunyah, kesulitan menelan, mulut kering, hingga gangguan bicara. Dalam analisis terhadap 11.080 lansia, mereka yang mengalami tiga gejala kerapuhan mulut atau lebih memiliki risiko 1,23 kali lebih tinggi membutuhkan perawatan jangka panjang dan 1,34 kali lebih berisiko meninggal selama masa penelitian.

Peneliti Universitas Osaka menegaskan bahwa studi lanjutan diperlukan untuk memahami mekanisme mendalam di balik kaitan antara kerusakan gigi dan angka kematian.

Terkini