7 Kalimat Orangtua yang Ternyata Bisa Memicu Kecemasan Anak

Rabu, 10 Juni 2026 | 02:02:01 WIB
Komunikasi orang tua dan anak.

JAKARTA – Banyak orangtua, guru, maupun pengasuh terbiasa mengucapkan kalimat seperti "Jangan khawatir" atau "Kamu baik-baik saja" ketika anak terlihat takut, sedih, atau cemas.

Meski diucapkan dengan niat baik untuk menenangkan, sejumlah kalimat tersebut ternyata tidak selalu memberikan dampak yang diharapkan.

Neuropsikolog anak, William Cheung Tsang, menjelaskan bahwa beberapa ungkapan yang terdengar menenangkan justru dapat membuat anak merasa tidak dipahami, meragukan emosinya sendiri, atau bahkan menjadi lebih cemas.

"Tujuannya hampir selalu karena kasih sayang," kata Tsang.

"Yang penting dipahami adalah mengapa kata-kata yang dimaksudkan untuk memberi kenyamanan justru dapat meningkatkan kecemasan anak. Dampak tidak selalu sama dengan niat," ujarnya.

Berikut tujuh kalimat yang sebaiknya dihindari karena berpotensi meningkatkan kecemasan pada anak.

1. "Jangan khawatir"

Kalimat ini sering digunakan untuk menenangkan anak yang sedang merasa takut atau cemas. Namun menurut Tsang, ucapan tersebut dapat membuat anak merasa emosinya tidak diakui.

Ia menjelaskan bahwa mengatakan kepada anak agar tidak khawatir bisa membuat mereka merasa perasaan yang dialami tidak penting atau tidak seharusnya dirasakan.

Akibatnya, anak dapat belajar menekan emosi daripada memahami dan mengelolanya dengan baik.

2. "Kamu baik-baik saja"

Banyak orang dewasa mengucapkan kalimat ini ketika menganggap situasi yang dihadapi anak tidak berbahaya.

Padahal, anak mungkin sedang benar-benar merasa takut atau tertekan.

"Bagi anak yang sedang mengalami tekanan emosional, diberi tahu bahwa mereka baik-baik saja bisa terasa membingungkan dan membuat mereka merasa sendirian," kata Tsang.

3. "Itu bukan masalah besar"

Orangtua sering menggunakan kalimat ini agar anak tidak terlalu memikirkan suatu masalah.

Namun, sesuatu yang tampak sepele bagi orang dewasa bisa terasa sangat penting bagi anak.

"Apa yang terlihat kecil bagi orang dewasa bisa terasa sangat penting bagi anak," ujar Tsang.

Kalimat tersebut berisiko membuat anak merasa emosinya diremehkan sehingga enggan berbagi cerita di kemudian hari.

4. "Jangan menangis"

Menangis merupakan respons alami saat seseorang merasa sedih, takut, atau kewalahan.

Menurut Tsang, meminta anak berhenti menangis dapat memberikan pesan bahwa menunjukkan emosi adalah sesuatu yang tidak boleh dilakukan.

"Menangis adalah respons alami saat seseorang merasa kewalahan. Menekan ekspresi ini dapat menyebabkan penumpukan kecemasan dan stres," katanya.

5. "Biar saya yang mengerjakannya"

Kalimat ini biasanya muncul ketika orang dewasa ingin membantu anak yang sedang mengalami kesulitan.

Meski terlihat membantu, kebiasaan mengambil alih tugas anak justru dapat mengurangi rasa percaya diri mereka.

"Dengan mengambil alih, orang dewasa tanpa sadar menyampaikan pesan bahwa anak tidak mampu menghadapi situasi tersebut sendiri," jelas Tsang.

Selain itu, kemampuan anak dalam memecahkan masalah juga bisa terhambat.

6. "Lihat, ternyata tidak ada yang perlu dikhawatirkan"

Kalimat ini sering diucapkan setelah sesuatu yang ditakuti anak ternyata tidak terjadi.

Meski terdengar positif, Tsang menilai ucapan tersebut dapat membuat kecemasan yang sebelumnya dirasakan anak terasa tidak dihargai.

"Kalimat ini bisa terdengar meremehkan dan mengabaikan kecemasan yang benar-benar dirasakan anak sebelumnya," kata dia.

7. "Kamu bikin aku pusing"

Saat merasa frustrasi, orangtua mungkin tanpa sadar melontarkan kalimat ini kepada anak.

Namun bagi anak, ucapan tersebut dapat memunculkan rasa bersalah dan ketakutan.

"Kalimat ini memberi sinyal kemarahan dan ketidaksabaran orang dewasa, yang dapat terasa menakutkan bagi anak," ujar Tsang.

Menurutnya, anak bahkan bisa mulai menganggap dirinya sebagai sumber masalah dan menjadi takut melakukan kesalahan.

Kalimat yang Lebih Baik untuk Anak

Alih-alih menolak atau meremehkan emosi anak, Tsang menyarankan orang dewasa untuk menunjukkan empati dan dukungan.

Salah satu contoh kalimat yang dapat digunakan adalah, "Aku tahu kamu takut, dan aku ada di sini untuk membantu."

Menurut Tsang, pendekatan seperti itu membuat anak merasa dipahami sekaligus memberi ruang bagi mereka untuk mengungkapkan perasaan.

Contoh lainnya adalah, "Aku tahu kamu bisa menghadapi ini, dan kita bisa mencari cara bersama agar terasa lebih mudah."

Dengan cara tersebut, anak tidak hanya merasa didengarkan, tetapi juga belajar bahwa kecemasan merupakan sesuatu yang dapat dikelola, bukan disembunyikan.

Terkini