Harga Pertamax Naik, Pertamina Pastikan Stok Pertalite di DIY Aman

Rabu, 10 Juni 2026 | 15:37:01 WIB
SPBU di Yogyakarta.

SLEMAN - PT Pertamina Patra Niaga memberikan penjelasan mengenai ketersediaan stok bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pasca penyesuaian harga BBM non-subsidi, yaitu Pertamax dan Pertamax Green, yang berlaku mulai Rabu (10/6).

Pertamina secara resmi menaikkan harga Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Di saat yang sama, harga Pertamax Green 95 (RON 95) turut mengalami kenaikan dari Rp12.900 menjadi Rp17 ribu per liter.

Area Manager Communication, Relations & Corporate Social Responsibility (CSR) Jawa Bagian Tengah PT Pertamina Patra Niaga, Taufiq Kurniawan, memaparkan data stok BBM di DIY guna menjawab potensi peralihan sebagian konsumen Pertamax ke Pertalite setelah adanya perubahan harga tersebut.

Menurut Taufiq, cadangan Pertalite saat ini tersedia hingga 12 kali lipat dari konsumsi harian normal. Sementara itu, stok Solar berada pada posisi 20 kali kebutuhan harian, serta stok Pertamax dan Pertamina Dex masing-masing berada di level sekitar 18 kali lipat dari konsumsi harian.

Terkait potensi lonjakan antrean di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), Pertamina berkomitmen untuk memantau dan mengevaluasi pola konsumsi masyarakat secara rutin.

"Kami evaluasi berkala pasca perubahan harga," ucap Taufiq, Rabu (10/6).

Taufiq pun menegaskan agar masyarakat tidak perlu khawatir mengenai ketersediaan BBM di DIY. Ia memastikan bahwa stok, baik di fasilitas penyimpanan maupun di jaringan SPBU, dalam kondisi aman.

"Stok aman sekali di (Fuel Terminal) Rewulu dan di SPBU," ungkapnya.

Merujuk pada data konsumsi BBM hingga Juni 2026 di wilayah Jawa Bagian Tengah, penggunaan BBM masih didominasi oleh produk subsidi dan penugasan yang tidak mengalami kenaikan harga.

Pada segmen gasoline, Pertalite mencakup 73,3 persen dari total konsumsi, sedangkan Pertamax sebesar 25,9 persen. Sementara itu, gabungan konsumsi Pertamax Turbo dan Pertamax Green hanya mencapai 0,9 persen.

Di sisi lain, pada segmen gasoil, Biosolar mendominasi dengan pangsa pasar 96,6 persen. Adapun konsumsi Dexlite dan Pertamina Dex secara kumulatif tercatat sebesar 3,4 persen.

Data tersebut memperlihatkan bahwa sebagian besar masyarakat masih mengandalkan jenis BBM yang tidak terdampak kebijakan penyesuaian harga.

Dengan komposisi tersebut, lebih dari 98 persen konsumsi BBM masyarakat berasal dari produk yang harganya tidak berubah. Dengan demikian, dampak kenaikan harga BBM non-subsidi terhadap masyarakat secara umum diprediksi tidak terlalu signifikan.

"Pertamina sebagai operator menjalankan penyesuaian harga BBM non-subsidi sesuai ketentuan pemerintah dan mekanisme yang berlaku, dengan tetap memastikan ketersediaan dan kelancaran distribusi energi bagi seluruh masyarakat," pungkas Taufiq.

Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green per 10 Juni dilakukan setelah melewati proses evaluasi berdasarkan formula harga yang ditetapkan pemerintah.

Roberth menambahkan, kebijakan harga BBM non-subsidi ini diputuskan melalui koordinasi dengan pemerintah selaku regulator serta mempertimbangkan fluktuasi harga minyak dunia.

"Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal," tutur Roberth.

Pertamina juga menjamin keamanan pasokan BBM di seluruh jaringan SPBU Pertamina yang tersebar di wilayah Indonesia.

Terkini