ESDM: Angkutan Logistik Pakai BBM Subsidi Tekan Efek Domino Pertamax

Kamis, 11 Juni 2026 | 22:16:01 WIB
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia.

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa angkutan logistik dan angkutan umum masih memakai bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi guna menekan efek domino akibat kenaikan harga Pertamax.

“Paling tidak, efek domino bisa diminimalisir. Contoh, untuk transportasi umum, angkutan umum, angkutan logistik, itu kan masih menggunakan BBM yang disubsidi oleh pemerintah,” ujar Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia saat dijumpai di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis.

Oleh karena itu, kata Anggia, dampak domino dari kenaikan BBM nonsubsidi semacam Pertamax dan Pertamax Green dapat diminimalisir.

“Kalau mau jujur dan tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan, pasti dampaknya minimal dari peningkatan harga BBM nonsubsidi ini,” kata Anggia.

Pernyataan ini berkaitan dengan kekhawatiran mengenai dampak kenaikan harga Pertamax yang bervariasi pada setiap sektor usaha. 

Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Anggawira memprediksi industri logistik, transportasi, distribusi barang, jasa lapangan, konstruksi, perkebunan, sampai usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan mobilitas tinggi bakal mengalami peningkatan biaya operasional secara langsung.

Sebab itu, HIPMI mendesak pemerintah untuk menyiapkan beragam langkah mitigasi demi menjaga daya saing dunia usaha. 

Menurut dia, upaya yang bisa ditempuh antara lain melalui penguatan efisiensi rantai logistik nasional, percepatan pembangunan infrastruktur energi dan transportasi, serta pemberian insentif bagi sektor-sektor produktif yang terdampak signifikan, terutama industri padat karya dan UMKM.

Mengenai kenaikan harga Pertamax, Pertamina Patra Niaga mengumumkan mulai 10 Juni 2026, harga bahan bakar non-subsidi Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter serta Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Perusahaan memastikan keamanan stok BBM di jaringan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) milik Pertamina di seluruh Indonesia. 

Perusahaan mengungkapkan bahwa harga produk bahan bakar Pertamina di luar Pertamax dan Pertamax Green tidak naik. Harga produk bahan bakar non-subsidi Pertamax Turbo (RON 98) tetap Rp20.750 per liter, Dexlite (CN 51) tetap Rp23.000 per liter, dan Pertamina Dex (CN 53) tetap Rp24.800 per liter. 

Bahan bakar minyak bersubsidi jenis Pertalite tetap dipasarkan seharga Rp10 ribu per liter dan Biosolar harganya masih Rp6.800 per liter.

Terkini