JAKARTA – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang berlaku efektif sejak 10 Juni 2026 dinilai menjadi salah satu faktor yang memotivasi masyarakat untuk melirik kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
Chief Operating Officer PT Hyundai Motors Indonesia (HMID), Fransiscus Soerjopranoto, menyatakan bahwa situasi ini membuat konsumen lebih kritis dalam memperhitungkan biaya kepemilikan dan efisiensi operasional kendaraan.
"Penyesuaian harga BBM dapat menjadi salah satu faktor yang membuat konsumen semakin memperhitungkan biaya kepemilikan dan melihat EV sebagai pilihan mobilitas yang relevan," ujar Fransiscus, Kamis (11/6/2026).
Namun, ia menekankan bahwa keputusan pembelian tetap dipengaruhi oleh faktor komprehensif lainnya, seperti harga jual kendaraan, nilai produk (value for money), kemudahan pengisian daya, layanan purna jual, serta kepercayaan terhadap teknologi listrik.
Hyundai sendiri terus berupaya memperkuat ekosistem EV di Indonesia melalui lini produk seperti IONIQ 5, IONIQ 6, dan Kona Electric, yang didukung dengan fasilitas charging station serta rantai pasok baterai lokal.
Fransiscus menekankan bahwa kolaborasi lintas pihak, antara pemerintah dan pelaku industri, merupakan kunci utama dalam mengakselerasi adopsi kendaraan listrik yang merata.
Di tengah kondisi pasar otomotif yang stagnan, HMID berhasil mencatatkan pertumbuhan pangsa pasar pada kuartal I-2026, yakni naik menjadi 2,8% per Maret 2026 dari sebelumnya 2,5%.
Keberhasilan ini didorong oleh kuatnya permintaan pada model Stargazer yang menyumbang sekitar 50% dari total penjualan, sementara kendaraan listrik berkontribusi sekitar 15%.
Peningkatan ini juga dipicu oleh tingginya animo masyarakat pada periode Ramadan dan Lebaran lalu.