OJK Ingatkan Dampak Buruk Doom Spending Bagi Catatan Kredit Gen Z

Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:16:01 WIB
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat memberikan peringatan serius terhadap maraknya fenomena doom spending

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat memberikan peringatan serius terhadap maraknya fenomena doom spending atau perilaku belanja kompulsif di kalangan generasi muda sebagai pelarian dari tekanan ekonomi.

Tren belanja yang tidak terkontrol ini dinilai bisa menjadi pemicu utama melonjaknya angka penggunaan pinjaman online (pinjol) serta layanan Buy Now Pay Later (BNPL) di wilayah tersebut.

Kepala OJK Jawa Barat Darwisman mengungkapkan terdapat disparitas yang tajam antara pertumbuhan perbankan konvensional dan platform teknologi finansial (fintech).

Berdasarkan data OJK, jumlah rekening pinjaman pada layanan fintech di Jawa Barat kini telah menyentuh angka hampir 8 juta rekening, berbanding terbalik dengan Bank Perekonomian Rakyat (BPR) yang hanya 700.000 rekening.

"Ini fenomena yang sedang tren di kalangan generasi muda karena faktor FOMO (Fear of Missing Out) dan YOLO (You Only Live Once), sehingga mereka sangat aktif melakukan pinjaman. Bayangkan, BPR yang sudah lebih dari 40 tahun hanya memiliki 700.000 rekening, sementara fintech yang baru beberapa tahun sudah mencapai 7,9 juta rekening," ujar Darwisman.

OJK menilai perilaku doom spending muncul akibat rendahnya literasi keuangan, sehingga masyarakat kesulitan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Pola konsumsi tanpa perencanaan matang tersebut sering kali berujung pada jeratan utang.

"Tadi istilahnya checkout dulu, bayarnya mikir belakangan. Ketika keinginan lebih ditonjolkan daripada kebutuhan, inilah yang memicu orang memaksakan pinjam tanpa berpikir panjang. Dampak sosialnya sangat luar biasa," lanjutnya.

Selain faktor gaya hidup, dinamika ekonomi global seperti konflik geopolitik dan kenaikan harga energi turut memengaruhi daya beli, sehingga generasi muda dituntut lebih disiplin dalam mengelola pengeluaran.

Ia mengingatkan setiap tunggakan pinjaman, sekecil apa pun nominalnya, akan tercatat secara otomatis dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) atau OJK Checking yang bisa menghambat akses kredit masa depan.

"Pesan saya, tolong tahan dulu untuk pengeluaran yang tidak perlu. Jangan sampai pinjaman di BNPL maupun pinjol mengalami kendala, karena satu rupiah pun masuk dalam laporan SLIK. Jika track record sudah tidak baik, akan sulit ke depannya," tegasnya.

Senada dengan OJK, Rektor Universitas Islam Bandung (Unisba) Harits Nu'man menekankan pentingnya literasi keuangan bagi mahasiswa di tengah masifnya era digitalisasi guna membentengi sivitas akademika.

"Jangan hanya berpikir manfaat, tetapi juga harus berpikir dampak. Inilah peran literasi keuangan dilakukan agar masyarakat paham mana yang betul-betul aman untuk bertransaksi. Tadi disampaikan, paylater saja itu belum dipahami apa dampaknya ke depan," ujar dia.

Ia pun mengingatkan agar mahasiswa tidak terjebak dalam arus transaksi online yang justru merugikan masa depan mereka akibat rasa ingin tahu yang besar terhadap tren baru.

"Jangan sampai ke-fomo-an ini memberikan dampak negatif terhadap para generasi Z yang sebetulnya lebih melek terhadap teknologi. Mudah-mudahan dengan adanya literasi ini mereka punya gambaran dampaknya seperti apa, kemudian mengikuti norma yang ada untuk melakukan transaksi," jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, OJK Jawa Barat berkomitmen untuk terus meningkatkan literasi keuangan secara masif hingga ke tingkat desa dan kelurahan melalui sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan.

 

Terkini