Bahlil Ajukan Kenaikan Alokasi Volume Solar Bersubsidi Sembilan Belas Juta KL

Senin, 15 Juni 2026 | 20:54:32 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengusulkan agar alokasi volume untuk komoditas solar bersubsidi ditingkatkan, dari jatah semula sebesar 18,64 juta kiloliter (KL) pada periode 2026 bergeser menjadi 18,80 juta hingga 19 juta KL untuk tahun anggaran 2027.

“Minyak solar di 2026 itu 18,64 juta KL. Di 2027, kami alokasikan 18,80 sampai dengan 19 juta KL,” ujar Bahlil dalam Rapat Kerja dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin.

Di sisi lain, catatan realisasi penyaluran dari komoditas solar bersubsidi tersebut hingga bulan Mei 2026 diinformasikan telah menyentuh angka 7,77 juta KL.

Bukan hanya mengusulkan penambahan jatah pada solar bersubsidi saja, Bahlil juga merekomendasikan kenaikan volume minyak tanah bersubsidi, dari pagu awal 0,53 juta KL dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 bergeser menjadi 0,543 juta KL hingga 0,561 juta KL.

Sementara itu, untuk perolehan angka realisasi dari pendistribusian minyak tanah bersubsidi hingga akhir Mei 2026 dilaporkan berada di posisi 0,21 juta KL.

Melalui skema perhitungan kumulatif secara menyeluruh, Bahlil mengajukan penambahan kuota volume BBM bersubsidi dari takaran awal 19,17 juta KL pada 2026 menjadi berkisar antara 19,343 juta KL hingga 19,561 juta KL pada draf RAPBN 2027.

Berbeda halnya dengan jenis komoditas LPG ukuran 3 kg, Bahlil memutuskan untuk tidak mengajukan perubahan kuota alokasi volume sama sekali untuk tahun depan.

Dengan ketetapan tersebut, jatah untuk LPG bersubsidi dipastikan tetap bertahan di angka 8 juta metrik ton pada draf RAPBN 2027, alias tidak mengalami perubahan dari pagu LPG 3 kg pada APBN 2026.

Mengenai data riil penyaluran LPG bersubsidi di lapangan, Kementerian ESDM mendata bahwa kuota yang telah berhasil didistribusikan sudah menyentuh 3,56 juta metrik ton hingga Mei 2026.

“LPG rata-rata sama. Kami alokasikan di angka 8 juta metrik ton, sama dengan 2026,” ujar Bahlil.

Lebih jauh lagi, Bahlil menegaskan tidak mengajukan usulan penyesuaian nominal terkait subsidi tetap untuk jenis minyak solar atau GasOil 48 dalam rancangan anggaran RAPBN 2027, di mana nilai besaran subsidi tetap minyak solar 48 masih dipatok stabil pada angka Rp1.000 per liter.

“Sekali lagi saya katakan bahwa ini sama dengan apa yang disampaikan oleh pemerintah, yang dipimpin oleh Bapak Presiden (Prabowo Subianto), sambil menunggu dinamika geopolitik,” kata Bahlil.

Terkini