JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan Indonesia telah mencapai swasembada pangan meskipun masih mengimpor sejumlah komoditas strategis, seperti bawang putih, kedelai, dan daging, untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan kondisi pangan nasional saat ini berada dalam posisi yang aman dan menjadi salah satu faktor utama yang menopang pengendalian inflasi nasional.
Menurut dia, stabilitas pasokan beras dan berbagai komoditas pangan strategis membuat tekanan inflasi dari sektor pangan semakin terkendali.
Beras yang selama ini menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi terbesar juga dinilai berada dalam kondisi yang relatif stabil.
Amran menilai ketahanan pangan nasional terus menguat seiring peningkatan produksi domestik dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data pemerintah, dari 11 komoditas pangan utama yang menjadi fokus pengendalian, sebanyak delapan komoditas telah dipenuhi dari produksi dalam negeri.
Adapun tiga komoditas lainnya masih memerlukan tambahan pasokan impor.
"Kebutuhan [komoditas pangan] kami sekitar 68 juta ton, produksi mencapai 73 juta ton. Impor hanya sekitar 3,5 juta ton atau sekitar 4%. Berdasarkan konsensus FAO, impor di bawah 10 persen sudah termasuk swasembada. Jadi saat ini kami sudah swasembada pangan," ujar Amran dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (15/6/2026).
Menurut perhitungan Kementan, volume impor pangan Indonesia saat ini hanya sekitar 4 persen dari total kebutuhan nasional.
Angka tersebut jauh di bawah ambang batas 10 persen yang disebut pemerintah sebagai salah satu indikator swasembada pangan berdasarkan konsensus internasional.
Pemerintah menilai capaian tersebut menunjukkan kemampuan produksi nasional yang semakin kuat dalam memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.
Selain berkontribusi terhadap ketahanan pangan, peningkatan produksi domestik juga dinilai berperan penting dalam menjaga stabilitas harga dan mengurangi tekanan inflasi pangan.
Amran mengatakan keberhasilan tersebut perlu dijaga melalui penguatan produksi di tingkat petani, perbaikan sistem distribusi pangan, serta peningkatan koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Menurutnya, sinergi antarpemangku kepentingan menjadi faktor penting untuk memastikan pasokan pangan tetap tersedia secara merata di seluruh wilayah Indonesia.
Kementan juga menilai stabilitas pasokan pangan memiliki peran strategis dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah berbagai tantangan ekonomi global maupun domestik.
Ke depan, pemerintah menargetkan produksi pangan nasional terus meningkat sehingga ketergantungan terhadap impor komoditas strategis yang masih tersisa dapat semakin ditekan.
Dengan peningkatan produktivitas dan penguatan sistem pangan nasional, pemerintah optimistis ketahanan pangan Indonesia akan semakin kokoh sekaligus mendukung stabilitas ekonomi dan pengendalian inflasi dalam jangka panjang.