DIM Terbitkan Obligasi Global Perdana Senilai US 1 Koma 5 Miliar

Senin, 15 Juni 2026 | 23:11:32 WIB
Danantara Investment Management (DIM).

JAKARTA - Danantara Investment Management (DIM) telah sukses menerbitkan instrumen obligasi global atau global bond perdana senilai US$1,5 miliar dengan catatan kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga menembus lebih dari tiga kali lipat.

CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengutarakan bahwa perolehan impresif tersebut merefleksikan tingginya tingkat kepercayaan para investor internasional terhadap Indonesia.

Keterangan tersebut diutarakan Rosan setelah menyerahkan laporan hasil roadshow terkait agenda global bond perdana Danantara kepada Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Negara pada hari Senin (15/6/2026).

Rosan menjabarkan bahwa delegasi Danantara telah melangsungkan rangkaian kegiatan roadshow ke pelbagai negara strategis, mulai dari Hong Kong, Inggris, hingga Amerika Serikat sejak tanggal 3 Juni 2026 lalu.

Dalam safari bisnis ke beberapa negara tersebut, pihak Danantara memaparkan secara detail terkait proyeksi prospek global bond beserta capaian hasil peringkat yang telah dikeluarkan oleh berbagai lembaga rating.

Tidak hanya itu, manajemen Danantara pun ikut membeberkan sejumlah regulasi kebijakan serta langkah ekspansi investasi yang akan ditempuh ke depannya.

"Respons positif dari 122 investor dari berbagai negara," kata Rosan.

Dampaknya, produk surat utang valuta asing (valas) yang disodorkan oleh Danantara mengalami oversubscribed lebih dari 3 kali lipat dari target awal.

Pada mulanya, Danantara hanya membidik raupan dana investasi senilai US$1 miliar, namun pada tahapan pembentukan harga (bookbuilding), total penawaran investasi yang masuk justru melonjak ke angka US$4,6 miliar.

"Sehingga melihat bookbuilding tinggi kami upsize atau meningkatkan dari US$1 miliar menjadi US$1,5 miliar. Dibagi 5 tahun dan 10 tahun," ujarnya.

Di samping itu, yield atau imbal hasil dari obligasi tersebut dinilai mampu mendarat di level yang sangat kompetitif, terlepas dari situasi pasar modal serta mata uang global yang sedang dalam kondisi tertekan.

Instrumen global bond untuk tenor jangka waktu 5 tahun mengamankan tingkat yield sebesar 5,35 persen, sedangkan untuk jangka waktu 10 tahun sukses mengamankan yield di level 5,95 persen.

"Ini adalah hasil sangat baik dan ini membuktikan kepercayaan investor ke Indonesia tinggi," ujarnya.

Ia menambahkan, seusai dilaksanakannya agenda penandatanganan komitmen investasi global bond pada 11 Juni 2026, aliran dana segar dijadwalkan bakal segera masuk ke rekening resmi Danantara pada 18 Juni 2026.

Rosan juga memerinci bahwa untuk porsi global bond bertenor 5 tahun, sebanyak 38 persen investor berasal dari Amerika Serikat, lalu 41 persen berasal dari Eropa dan Timur Tengah, serta sisanya 21 persen merupakan investor asal Asia.

Sementara itu, untuk instrumen global bond bertenor 10 tahun, porsi investor asal Amerika Serikat mendominasi sebesar 52 persen, disusul investor dari Eropa dan Timur Tengah sebesar 31 persen, serta sisa 17 persen dari kawasan Asia.

Sebelumnya, lembaga pemeringkat internasional Moody's Ratings telah menyematkan peringkat kredit di level Baa2 bagi Danantara Investment Management (DIM).

Selaras dengan kondisi prospek utang Pemerintah Indonesia, pihak Moody's juga menyematkan outlook negatif untuk pergerakan DIM ke depan.

Dalam rilis laporannya, Moody's menakar bahwa peringkat DIM berada di level yang setara dengan sovereign rating Indonesia, yang mencerminkan kedekatan hubungan kedua belah pihak dari aspek kepemilikan, tata kelola, maupun potensi sokongan finansial.

Vice President sekaligus Senior Analyst Moody's Ratings, Rachel Chua, menerangkan bahwa raihan peringkat Baa2 tersebut disokong kuat oleh posisi strategis DIM dalam skema pengelolaan investasi negara.

“Peringkat Baa2 dengan outlook negatif untuk DIM selaras dengan peringkat sovereign pemerintah Indonesia. Penilaian ini ditopang hubungan kredit yang kuat, struktur kepemilikan, serta ekspektasi dukungan luar biasa pemerintah yang tepat waktu,” tulis Rachel beberapa waktu lalu.

Selain menyematkan peringkat korporasi, Moody's juga menerbitkan peringkat sementara (P)Baa2 bagi program surat utang jangka menengah global (MTN) bentukan DIM, serta rating Baa2 untuk obligasi senior tanpa jaminan yang bakal diluncurkan.

Moody's mengelompokkan DIM ke dalam kategori Government Related Issuer (GRI) lantaran kedekatan hubungannya yang intim dengan pihak pemerintah.

Mengingat korporasi ini masih berada dalam fase awal pengembangan dan belum mempunyai rekam jejak operasional secara mandiri, Moody's sejauh ini belum mengeluarkan nilai Baseline Credit Assessment (BCA).

Terkini