Otoritas Kesehatan Beri Peringatan Keras Terkait Diet Tayyibat

Senin, 15 Juni 2026 | 00:57:31 WIB
Ilustrasi Orang Diet.

JAKARTA - Diet Tayyibat tengah menjadi perbincangan hangat di sejumlah negara Timur Tengah setelah diklaim mampu membantu mengatasi berbagai penyakit kronis hanya melalui pengaturan makanan.

Namun, di saat yang sama, otoritas kesehatan di Arab Saudi dan Mesir justru mengeluarkan peringatan keras terhadap pola makan tersebut secara resmi.

Pola makan ini menjadi viral di media sosial karena dianggap menawarkan cara alami untuk memulihkan kesehatan tanpa terlalu bergantung pada penggunaan obat-obatan medis.

Meski begitu, para pejabat kesehatan memperingatkan bahwa mengikuti pola makan tersebut tanpa pengawasan medis dapat menimbulkan risiko serius, terutama bagi penderita penyakit kronis.

Diet Tayyibat atau nizam el tayyibat sendiri dikenal secara luas oleh masyarakat sebagai sebuah "sistem makanan baik".

Pola makan ini dipopulerkan oleh seorang dokter asal Mesir, Diaa El Awady, yang sebelumnya berpraktik di bidang anestesi dan perawatan intensif sebelum beralih.

Dalam konsepnya, makanan dibagi menjadi dua kelompok, yakni makanan yang dianggap "baik" atau tayyibat dan makanan yang dianggap "buruk" atau khabithat.

Pendukung diet ini meyakini bahwa berbagai penyakit kronis dapat membaik dengan memperbaiki kondisi saluran pencernaan serta menghindari makanan pemicu peradangan.

Diet tersebut menganjurkan konsumsi daging sapi dan kambing, kentang, nasi, kurma, pisang, anggur, jenis keju tertentu, serta lemak hewani.

Sebaliknya, metode ini melarang atau sangat membatasi konsumsi telur, ayam, susu segar, yoghurt, berbagai jenis ikan, seafood, sayuran hijau, tomat, bawang, dan kacang-kacangan.

Pasta, sebagian besar produk berbahan tepung gandum, serta minuman ringan juga termasuk dalam daftar asupan yang tidak dianjurkan untuk dikonsumsi.

Pendukung diet menilai pembatasan ekstrem tersebut dapat membantu menenangkan sistem pencernaan sehingga tubuh mampu memulihkan dirinya sendiri secara alami. Namun, pendekatan tersebut memicu kekhawatiran.

Kementerian Kesehatan Arab Saudi mengungkapkan bahwa sejumlah pasien harus dirawat di unit perawatan intensif akibat mengikuti pola makan yang tidak memiliki dasar ilmiah kuat.

Para pasien tersebut diketahui mengalami pemburukan kondisi kesehatan yang cukup fatal setelah mereka nekat menghentikan penggunaan insulin secara sepihak.

Pihak kementerian juga mengingatkan bahwa menghentikan atau mengurangi obat diabetes tanpa konsultasi dokter dapat memicu komplikasi serius yang mengancam jiwa pasien.

Selain risiko akibat penghentian pengobatan, otoritas kesehatan juga menyoroti kemungkinan terjadinya kekurangan zat gizi penting yang dibutuhkan oleh tubuh manusia.

Menghilangkan kelompok makanan penting tanpa alasan medis yang jelas dapat menyebabkan defisit nutrisi untuk menjalankan fungsi normal organ.

Ahli gizi dan dokter endokrin memperingatkan bahwa pola makan Tayyibat berpotensi mengurangi asupan protein, kalsium, zat besi, dan berbagai vitamin penting.

Di sisi lain, diet tersebut justru mendorong konsumsi beberapa sumber gula dan pati dalam jumlah yang dinilai relatif besar bagi tubuh.

Para ahli juga mengkhawatirkan kemungkinan pasien diabetes, hipertensi, atau penyakit ginjal menghentikan obat-obatan mereka karena percaya pada pola makan ini.

Meski mendapat peringatan keras, popularitas diet ini di berbagai grup Telegram dan platform media sosial seperti TikTok belum menunjukkan tanda mereda.

Para pengikutnya masih aktif membagikan pengalaman pribadi, termasuk klaim sepihak mengenai perbaikan kualitas tidur hingga peningkatan energi tubuh.

Fenomena ini bahkan melahirkan restoran dan usaha kuliner baru yang secara khusus memasarkan menu sesuai dengan prinsip diet tersebut.

Otoritas kesehatan menegaskan bahwa pola makan sehat seharusnya didasarkan pada keseimbangan, keberagaman, serta panduan gizi yang berbasis pada bukti ilmiah.

Terkini