Makna Mulih kagem Pulih dalam Peringatan 1 Suro 2026

Senin, 15 Juni 2026 | 01:18:01 WIB
pura mangkunegaran

JAKARTA - Pergantian tahun Jawa selalu menjadi momen yang sarat makna bagi masyarakat. Malam 1 Suro bukan sekadar penanda waktu, melainkan ruang untuk merenung dan menyambut lembaran baru.

Dalam peringatan 1 Suro Be 1960 di Pura Mangkunegaran, tema yang diangkat adalah "Mulih kagem Pulih". Tema ini dirangkum dalam tiga kata kunci yakni Mulih, Manunggal, dan Pulih.

Mulih berarti pulang, namun bukan sekadar fisik. Ini adalah perjalanan kembali kepada diri sendiri untuk mengenali jati diri di tengah tuntutan hidup modern.

"Ini adalah undangan untuk pulang—ke waktu ini, ke tempat ini, tentang diri ini—untuk menciptakan ruang dalam diri, mengenal siapa diri yang sesungguhnya, manunggal, dan pulih," tulis keterangan resmi peringatan 1 Suro 2026 Mangkunegaran.

Tahap selanjutnya adalah manunggal yang bermakna menyatu atau selaras. Konsep ini mengajak masyarakat menghadirkan kesadaran penuh pada apa yang sedang dialami saat ini.

Tujuan akhirnya adalah pulih, yaitu proses menerima pengalaman hidup dan melangkah maju. Ini adalah ajakan menemukan keseimbangan hidup di tengah berbagai perubahan.

Filosofi ini tercermin dalam tiga fase yaitu Atita, Atiki, dan Anagata. Ketiga fase tersebut menggambarkan proses setiap individu dalam menjalani perjalanan hidupnya.

Peringatan ini menandai pergantian dari Tahun Dal 1959 ke Tahun Be 1960. Tahun Be dipandang sebagai fase refleksi dan penyusunan ulang arah kehidupan.

Makna tersebut menarik minat masyarakat, termasuk Nindi, mahasiswa asal Kalimantan di Solo. Ia ingin mengikuti kirab karena tradisi ini dianggap sangat istimewa.

"Sudah sejak lama sih sebenarnya. Orang sini juga kan sayang kalau melewatkan momennya. Mumpung masih kuliah di sini juga," ujarnya.

Nindi sempat gagal mendapatkan tiket pada gelombang pertama. Ia baru berhasil memperoleh kesempatan setelah kuota tambahan resmi dibuka oleh pihak penyelenggara.

Terkini