Waspada Bahaya Produk Pelangsing Instan, Simak Penjelasan Dokter

Rabu, 17 Juni 2026 | 17:17:32 WIB
Illustrasi Produk Pelangsing Instan. (Foto: NET)

JAKARTA - Saat ini terdapat banyak produk pelangsing di pasaran yang menjanjikan penurunan berat badan instan, mulai dari pil, minuman, hingga gummy

Selain itu, banyak klinik khusus juga menawarkan hasil yang sangat cepat.

Secara medis, penurunan berat badan yang terlalu drastis justru berisiko bagi kesehatan karena bukan hanya lemak yang hilang, melainkan juga massa otot dan cairan tubuh.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrinologi, metabolik, dan diabetes di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), Dicky Levenus Tahapary, menyatakan bahwa penurunan berat badan yang tinggi memang baik, namun harus dilakukan bertahap dan tidak ekstrem.

"Perlu diingat, badan kami itu ada otot, ada tulang, ada lemak, ada air. Biasanya kalau berat badannya turun cepat, itu yang berkurang airnya," kata Dicky saat ditemui usai Diskusi Media Global Fatty Liver Day 2026 di Jakarta Pusat, Kamis (11/6).

Banyak produk pelangsing yang memicu pengeluaran cairan dalam waktu singkat. Menurut Dicky, produk tersebut umumnya bersifat diuretik, yang mendorong tubuh mengeluarkan cairan melalui urine.

"Nah kedua, kalau berat badannya berkurang cepat, biasanya enggak cuma lemaknya yang turun, ototnya bisa turun," ucap Dicky.

Hilangnya massa otot tidak baik untuk jangka panjang karena otot berfungsi mengatur kecepatan metabolisme tubuh. 

Selain itu, jika seseorang kembali ke pola makan lama, kenaikan berat badan dapat terjadi lebih cepat. 

Salah satu metode klinis yang terkadang disalahgunakan adalah pemberian hormon tiroid, yang dapat memengaruhi massa otot.

"Hormon tiroid itu mempercepat metabolisme tubuh. Lemaknya turun, tapi ototnya juga turun," tambah Dicky.

Oleh karena itu, penurunan berat badan tidak bisa sekadar dilihat dari angka di timbangan. Diperlukan pemeriksaan komposisi tubuh guna mengukur kadar lemak, otot, dan air.

Hanya ada 3 jenis obat penurun berat badan di Indonesia Dicky menjelaskan, hanya ada tiga jenis obat penurun berat badan yang disetujui di Indonesia, dan penggunaannya harus berdasarkan resep serta pengawasan ketat dokter.

Pertama, diethylpropion untuk menekan nafsu makan. Kedua, orlistat yang menghambat penyerapan lemak. Terakhir, GLP-1 yang juga berfungsi menekan nafsu makan.

"Cuma tiga di Indonesia yang di-approve untuk obesitas. Obat-obat yang lain enggak ada, [seperti] fentermin yang di luar negeri, enggak masuk ke sini," ucap Dicky.

Ia mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap klinik pelangsing yang tidak terbuka mengenai obat yang digunakan, termasuk potensi penggantian label obat. 

"Saya rasa kami perlu edukasi pasien untuk lebih pintar, ya. Tanyakan ke dokternya obatnya apa, efek sampingnya apa. Kan obat itu bukannya tanpa efek samping. Sebagus-bagusnya obat, pasti ada efek samping yang dokternya harus asesmen," tutur Dicky.

Target penurunan berat badan yang ideal Saat menjalani diet, target utama seharusnya adalah penurunan massa lemak. Penurunan yang terlalu cepat hanya menciptakan efek semu, meningkatkan hormon stres, serta memicu peradangan.

Ketika kadar lemak berkurang, fungsi tubuh akan bekerja lebih baik, seperti mengurangi risiko perlemakan hati, diabetes, hingga tekanan darah tinggi. Lalu, bagaimana cara idealnya?

"Prinsipnya penurunan berat badan itu lebih bagus pelan-pelan tapi steady, dibandingkan langsung turun secara drastis. Makanya, biasa kami targetnya lima persen dalam tiga bulan itu sudah bagus," ujar Dicky.

Sebagai contoh, seseorang dengan berat badan 80 kg idealnya turun 4 kg dalam waktu tiga bulan, atau sekitar 1 kg per bulan. Adapun penurunan 500 gram per minggu sudah tergolong baik.

Terkini