Harga Minyak Dunia Turun Kementerian ESDM Janji Turunkan Pertamax

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:35:02 WIB
ilustrasi pom bensin.

JAKARTA - Harga minyak dunia dilaporkan turun selang beberapa hari setelah pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax.

Langkah penurunan harga komoditas minyak internasional ini terjadi seiring dengan adanya kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dinilai semakin pasti.

Pengumuman mengenai kesepakatan damai kedua belah negara tersebut disampaikan pada Senin (15/6/2026) atau berselang sepekan setelah harga BBM jenis Pertamax resmi dinaikkan.

Terhitung pada hari Rabu (17/6/2026), nilai jual minyak mentah merosot mendekati level 75 dolar AS per barel di pasar perdagangan dunia.

Kondisi merosotnya nilai jual ini merupakan sesi penurunan kelima kalinya secara berturut-turut hingga mencapai level terendah sejak awal Maret 2026 atau masa awal pecahnya konflik AS dan Iran.

Kesepakatan damai tersebut memicu ekspektasi lonjakan pasokan minyak mentah dari kawasan Timur Tengah sehingga ikut menekan harga pasar menjelang penandatanganan resmi perjanjian damai.

Kedua belah pihak negara dijadwalkan bakal melaksanakan penandatanganan resmi kesepakatan damai tersebut di Swiss pada Jumat (19/6/2026) mendatang.

Perjanjian damai ini juga turut menawarkan paket insentif ekonomi berskala luas bagi Teheran, termasuk di dalamnya mengenai pembukaan kembali izin ekspor minyak mereka secara langsung.

Lantas, bagaimana kelanjutan nasib mengenai kebijakan harga BBM jenis Pertamax yang sebelumnya sudah telanjur disesuaikan naik oleh pihak pemerintah?

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan janji akan memotong kembali harga BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax mengikuti arah pergerakan harga minyak global.

Seperti yang telah diketahui sebelumnya, pihak pemerintah sempat menaikkan nilai jual komoditas BBM nonsubsidi terhitung per tanggal 10 Juni 2026.

Tarif eceran Pertamax yang pada mulanya berada di angka Rp12.000 per liter, melompat naik hingga menyentuh angka Rp16.250 per liter di pom bensin.

Namun, dengan adanya indikasi membaiknya harga minyak mentah dunia saat ini, maka penyesuaian harga BBM di dalam negeri pun dipastikan akan segera mengekor.

Pernyataan resmi ini dipaparkan langsung oleh Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, di hadapan rekan media di Kantor Badan Komunikasi (Bakom) RI pada Rabu (17/6/2026).

Dwi Anggia memberikan jaminan kepastian bahwa nominal harga eceran Pertamax dipastikan bakal melandai jatuh apabila tingkat harga minyak dunia terus menurun.

"Apakah (Pertamax) bisa turun? Pasti. Ketika harga minyak dunia turun, sudah bisa dipastikan harga BBM nonsubsidi juga akan turun," kata dia, Rabu.

Lebih lanjut, Dwi Anggia menuturkan bahwa pihak pemerintah membagi regulasi tata niaga BBM ke dalam dua kategori utama, yakni komoditas bersubsidi serta nonsubsidi.

Khusus untuk kelompok nonsubsidi seperti Pertamax dan Dex Series, pemerintah telah menetapkan payung hukum tertulis melalui Keputusan Menteri (Kepmen) 245 Tahun 2022.

Melalui dasar aturan tersebut, fluktuasi harga eceran di setiap SPBU dinilai sebagai suatu hal yang wajar serta tidak dapat dihindari demi menyesuaikan ongkos produksi.

"Ini mekanismenya memang mengikuti mekanisme harga pasar. Minyak mentah dunia berapa harganya, apakah naik atau turun, nah mau tidak mau BBM nonsubsidi ini harus mengikuti itu, mengikuti sesuai dengan harga keekonomiannya," jelasnya.

Diri menyampaikan penjelasan bahwa penerapan mekanisme pasar bebas ini wajib diberlakukan demi menjaga stabilitas serta kesehatan sirkulasi keuangan badan usaha penyedia.

Sebab, apabila korporasi dipaksa untuk menjual di bawah harga modal ketika harga minyak dunia sedang melambung tinggi, maka pasokan stok BBM di SPBU rawan terancam langka.

"Begitu juga sebaliknya, ketika harga minyak dunia mengalami kenaikan, mau tidak mau, tidak terhindarkan harga BBM nonsubsidi harus menyesuaikan dengan harga keekonomiannya."

"Kalau tidak, ini akan mempengaruhi keberlanjutan atau keberlangsungan pengadaan energi nasional," tutur Dwi Anggia.

Terkini