Imbas Harga BBM dan Bahan Pokok Melonjak Pedagang Gorengan Merugi

Jumat, 19 Juni 2026 | 00:12:32 WIB
Ilustrasi Pedagang Ilustrasi.

JAKARTA - Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai mendatangkan efek riil terhadap para pelaku usaha mikro di wilayah Kabupaten Lebak.

Kelompok pedagang gorengan yang selama ini mengandalkan margin margin tipis sekarang terpaksa berhadapan dengan kenaikan harga aneka komoditas bahan baku, mulai dari tepung terigu hingga minyak goreng.

Amin, salah seorang pelaku usaha gorengan di kawasan Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, menyebutkan situasi ini mengakibatkan ongkos produksi usahanya membengkak cukup drastis dalam beberapa hari belakangan.

Menurut hitungan Amin, nilai jual BBM varian Pertamax pada level eceran saat ini sudah menembus nominal kisaran Rp18 ribu per liter.

Sementara itu, banderol di SPBU juga merangkak naik bila disandingkan dari periode sebelumnya, sehingga memicu efek berantai pada ongkos logistik serta harga pangan dasar.

“Kami merasakan langsung dampaknya. Harga bahan baku terus naik, sementara pembeli juga mempertimbangkan pengeluaran mereka,” ujar Amin, Jumat (19/6/2026).

Dirinya menjabarkan, harga tepung terigu yang semula berada pada kisaran Rp7.000 per kilogram sekarang merangkak naik menyentuh angka Rp9.000 per kilogram.

Peningkatan harga juga melanda komoditas tepung aci yang awalnya dibanderol Rp9.000 menjadi Rp14.000 untuk tiap satu kilogramnya.

Bukan cuma itu, harga minyak goreng kemasan merek Minyakita di sejumlah toko kelontong dikabarkan telah bertengger pada nominal Rp22.000 per liter.

Keadaan pelik tersebut mengakibatkan biaya operasional pengolahan gorengan menjadi kian melonjak tinggi.

Lantaran himpitan pengeluaran yang terus meroket, Amin pada akhirnya terpaksa merombak nilai jual barang dagangannya.

Apabila sebelumnya satu biji gorengan dihargai Rp1.000, sekarang nominalnya berubah menjadi Rp1.250 untuk per buahnya.

“Kenaikan harga ini bukan karena ingin mengambil keuntungan lebih, tetapi untuk menjaga usaha tetap berjalan. Kalau harga tidak disesuaikan, modal yang keluar tidak sebanding dengan hasil penjualan,” katanya.

Walau nilai jual dagangannya naik, Amin mengaku tetap berikhtiar mempertahankan mutu serta volume gorengannya supaya para konsumen tidak merasa kecewa.

Dirinya menaruh asa agar harga BBM beserta bahan baku makanan dapat kembali normal sehingga kelompok pelaku usaha cilik tidak kian terhimpit beban.

Melonjaknya nilai komoditas bahan bakar dan kebutuhan pangan saat ini menjadi batu sandungan tersendiri bagi kelangsungan para penggiat UMKM.

Di tengah situasi pelik ini, mayoritas pedagang kecil sangat menantikan hadirnya kepastian harga agar bisnis mereka sanggup bertahan dan daya beli publik tidak kian merosot.

Terkini