JAKARTA - Perusahaan pelayaran dan logistik nasional, PT Bintang Samudera Mandiri Lines Tbk atau BSML, menargetkan pertumbuhan pendapatan secara signifikan pada 2026 lewat diversifikasi usaha serta penataan armada.
Perseroan membidik angka pendapatan sebesar Rp159,84 milar pada 2026, alias melesat sebesar 152,1 persen jika dibandingkan dengan pencapaian omset pada tahun sebelumnya yang sebesar Rp63,4 miliar.
Sejalan dengan target itu, keuntungan bersih diproyeksikan mampu menyentuh level Rp16,37 miliar, melonjak hingga 550,1 persen dari perolehan tahun buku 2025 yang tercatat senilai Rp2,52 miliar.
Direktur Utama BSML, David Desanan Anan Winowod, menjelaskan rencana kerja ini disusun matang dengan menakar dinamika peluang dan hambatan pada industri logistik transportasi laut mendatang.
“Meski 2026 menghadapi fluktuasi harga komoditas, serta dinamika sosial dan geopolitik yang kompleks, kami meyakini tantangan tersebut dapat menjadi peluang apabila ditunjang dengan strategi yang cermat dan terukur,” ujarnya.
Demi memuluskan target kinerja tersebut, emiten pelayaran ini menyiapkan enam pilar strategi operasional utama untuk memperkokoh fundamental bisnis jangka panjang perusahaan.
Langkah tersebut mencakup fokus angkutan tambang jarak dekat-menengah, perluasan variasi jasa, maksimalisasi utilitas kapal, efisiensi rantai pasok, perluasan pasar, hingga eksplorasi lini pendapatan baru.
David memaparkan bahwa target finansial ini akan menjadi kompas operasional bagi perseroan dalam menjaga tren pertumbuhan niaga yang sehat secara berkelanjutan di masa depan.
“Perseroan menetapkan target kinerja sebagai acuan dalam menjaga pertumbuhan usaha yang berkelanjutan. Realisasi kinerja akan terus dimonitor dan dievaluasi secara berkala guna memastikan pencapaian target pada akhir tahun buku,” katanya.
Di sisi lain, manajemen BSML melihat prospek bisnis angkutan laut di tanah air masih sangat potensial seiring dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi makro nasional yang stabil di kisaran 5 persen.
Kendati demikian, perseroan tetap mewaspadai beberapa faktor luar seperti penyesuaian kuota komoditas nikel dan batu bara, pengetatan RKAB, serta pembengkakan ongkos bahan bakar akibat konflik geopolitik global.
Sebagai langkah antisipasi terhadap penurunan kuantitas angkutan, BSML mengadopsi model usaha asset-light dengan melakukan penjualan sebagian kapal lama serta memanfaatkan opsi sistem kapal sewa.
Sementara itu, untuk menyiasati tekanan kurs mata uang dan harga energi, perusahaan memperketat kontrol bahan bakar, menata rute pelayaran, serta menjadwalkan perawatan armada secara berkala.
Saat ini, BSML mengoperasikan total 10 unit armada operasional milik sendiri yang terdiri atas 5 unit kapal tunda serta 5 unit kapal tongkang untuk menunjang aktivitas logistik.
Perseroan juga menambah kapasitas angkutnya dengan menyewa 1 kapal tunda dan 1 kapal tongkang tambahan dari mitra kerja untuk mengamankan kebutuhan pengiriman dari pelanggan.
Cakupan wilayah operasional pelayaran komersial perusahaan saat ini telah menjangkau pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi dengan membawa berbagai komoditas curah maupun alat konstruksi.
Melalui agenda Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan atau RUPST, pemegang saham menyepakati untuk menahan seluruh perolehan laba bersih tahun buku 2025 senilai Rp2,52 miliar.
Keputusan penahanan keuntungan operasional tersebut diambil demi mempertebal modal kerja korporasi serta menyokong ekspansi usaha lanjutan yang telah direncanakan oleh manajemen.