JAKARTA - PT Bank KB Indonesia Tbk (BBKP) terus mengaselerasi langkah pembaruan bisnis lewat penguatan jangkauan penghimpunan dana murah (current account saving account/CASA).
Langkah strategis ini dibarengi upaya menekan ongkos modal (cost of fund) serta mematangkan skema penyaluran kredit berbasis ekosistem demi membenahi rasio profitabilitas sekaligus mutu aset perseroan.
Direktur Utama KB Bank Kunardy Darma Lie mengutarakan bahwa korporasi konsisten melanjutkan kelangsungan agenda transformasi yang tengah berjalan.
Agenda ini mencakup pula pergantian identitas korporat menjadi KB Bank yang menjadi bagian integral dengan entitas grup keuangan raksasa asal Korea Selatan.
Kunardy menjabarkan bahwa dirinya mulai memperkuat barisan transformasi KB Bank sejak resmi bergabung pada bulan Agustus 2025.
Berdasarkan penjelasannya, KB Group didaulat sebagai salah satu konglomerasi jasa keuangan terbesar di Korea Selatan yang kini telah memiliki delapan anak usaha afiliasi di Indonesia, mulai sektor sekuritas hingga pembiayaan.
Sementara itu, KB Bank sendiri telah mengantongi kepemilikan total aset senilai Rp 89,79 triliun dengan sokongan jaringan operasional mencakup 153 kantor cabang di tanah air.
"Fokus kami saat ini adalah terus mendorong peningkatan CASA sehingga cost of fund dapat semakin turun. Dari sisi permodalan juga terus kami dorong agar semakin kuat," ujar Kunardy dalam kunjungan ke Wisma Bisnis Indonesia, Jumat (26/6/2026).
Dia menambahkan, langkah transformasi yang diimplementasikan tidak sebatas mengubah citra jenama perusahaan, melainkan menyentuh ranah pembaruan model bisnis serta efisiensi kerja operasional.
Kendati demikian, perolehan laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPOP) saat ini masih mengalami tekanan akibat beban biaya yang masih melampaui margin laba kucuran kredit.
Namun, jajaran manajemen menaruh optimisme tinggi bahwa kurva performa finansial tersebut bakal berangsur pulih pada paruh kedua tahun 2026.
"Kami memperkirakan PPOP mulai positif pada semester II-2026," katanya.
Di sisi lain, Direktur Wholesale KB Bank Widodo Suryadi menerangkan bahwa perseroan tengah merombak formula penyaluran modal dari yang mulanya condong pada fungsi konvensional (loan engine) beralih ke skema ecosystem-based financing.
Melalui penerapan taktik baru ini, KB Bank bakal menggandeng korporasi skala besar bertindak selaku jangkar (anchor) dalam memperluas penetrasi pembiayaan bagi pelaku usaha di jejaring pasokannya.
Skema penyaluran dana pinjaman tersebut ditargetkan mampu merangkul sektor usaha segmen menengah hingga industri kecil dan menengah (UKM).
"Kami akan mengambil anchor perusahaan besar untuk masuk ke middle market hingga SME. Dengan pendekatan yang lebih dekat seperti ini, risiko dapat diminimalisir," ujar Widodo.
Widodo mengimbuhkan, format bisnis teranyar ini membuka peluang besar bagi KB Bank untuk menyuguhkan pelayanan modal terintegrasi secara menyeluruh dari hulu ke hilir (end-to-end financial financing).
Mekanisme ini diyakini mampu mempererat kemitraan dengan debitur sekaligus meningkatkan kualitas jaminan portofolio pembiayaan perseroan.