Ini Sederet Strategi PT Indofarma Tbk Demi Cetak Laba Pada Tahun Ini

Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:48:31 WIB
PT Indofarma (Persero) Tbk.

JAKARTA - Perusahaan emiten yang bernaung di bawah holding Biofarma, PT Indofarma Tbk. (INAF), terpantau masih menaruh rasa percaya diri yang tinggi untuk bisa membalikkan keadaan guna mencetak laba bersih pada periode tahun ini.

Langkah optimis dari pihak korporasi tersebut tetap dipertahankan dengan kuat, kendati bayang-bayang tantangan berupa potensi kerugian finansial masih terus membayangi jalannya operasional perseroan.

Direktur Utama Indofarma, Sahat Sihombing, menjabarkan bahwa meskipun gejolak pergerakan nilai tukar mata uang rupiah serta risiko kerugian terus mengancam kinerja internal, manajemen telah menyiapkan rentetan strategi jitu.

Satu di antara skema taktis yang dipersiapkan oleh pihak perseroan adalah dengan bergerak secara aktif melakukan proses negosiasi bersama para mitra pemasok bahan baku obat-obatan.

Langkah ini ditempuh guna mengamankan penawaran harga beli di tingkat batas toleransi yang sekiranya masih sanggup diakomodasi dan diterima dengan baik oleh struktur keuangan internal perusahaan.

”Tahun ini kami tetap optimistis sebetulnya karena walaupun memang ada kondisi pelemahan rupiah, kami terus berkomunikasi dengan para stakeholder kami, yaitu terutama pihak pemasok bahan baku dan kami melakukan negosiasi,” katanya kepada wartawan dalam RUPST Indofarma, Kamis (25/6/2026).

Di samping skema tersebut, Sahat turut menegaskan bahwasanya ritme roda bisnis yang berjalan di dalam internal perseroan saat ini dinilai sudah berada dalam kondisi yang cukup efisien.

Sepanjang periode tahun 2025 lalu, aksi efansi operasional secara masif telah dieksekusi oleh perusahaan, di mana salah satunya diimplementasikan lewat perombakan portofolio bisnis.

Melalui kebijakan penyesuaian tersebut, fokus kerja perusahaan kini dialihkan sepenuhnya untuk menggarap produk-produk farmasi yang memiliki ceruk pangsa pasar kokoh dan solid.

Langkah taktis ini diambil agar Indofarma tidak lagi gegabah dalam memproduksi komoditas yang justru berisiko menumpuk di gudang stok dan berujung pada pembengkakan kerugian baru.

Manajemen emiten berkode saham INAF ini diklaim benar-benar menerapkan pola tata kelola arus kas atau manajemen cash flow secara ketat dan berada dalam level yang optimal.

”Itu salah satu mitigasi perusahaan untuk mendorong optimisme mencapai laba,” tegasnya.

Sebagai bagian dari program strategis lainnya guna mendongkrak performa bisnis perseroan di masa mendatang, INAF kini mulai serius memacu lini pemanfaatan komoditas obat herbal.

Formulasi langkah penyehatan ini dikabarkan masih berada di dalam koridor tahap diskusi intensif bersama pihak Danantara demi mematangkan proyek pengembangan produk herbal nasional.

Menengok rekam jejaknya di lantai bursa, aktivitas perdagangan saham dari Indofarma sendiri diketahui telah resmi dibekukan atau disuspensi oleh pihak BEI sejak tanggal 2 Juli 2024.

Akibat pembekuan operasional saham yang telah berlangsung lama melewati kurun waktu 12 bulan tersebut, posisi INAF kini terancam sanksi berat berupa penghapusan pencatatan atau delisting.

Sahat memaparkan bahwa jajaran manajemen terus intens menjalin komunikasi serta koordinasi bersama pihak otoritas regulator bursa demi mencari jalan keluar guna membuka suspensi saham tersebut.

Dirinya pun menegaskan bahwa manajemen INAF bersikap sangat terbuka terhadap segala bentuk opsi dan skenario terbaik yang dapat ditempuh demi mengamankan status perusahaan terbuka.

”Kami akan berkoordinasi dengan regulator mengenai apa langkah selanjutnya, baru mungkin kami bisa sampaikan apa opsi-opsi yang akan kami tempuh,” katanya.

Lewat dokumen penjelasan resmi yang dilayangkan kepada BEI per tanggal 7 Januari 2026, manajemen INAF sempat membeberkan cetak biru pemulihan performa korporasi.

Langkah perbaikan tersebut mencakup tata kelola proses bisnis yang jauh lebih selektif, penataan sirkulasi produksi dan distribusi, hingga penekanan pengeluaran beban operasional.

Agenda restrukturisasi kinerja pada tahun ini diproyeksikan bakal berlanjut melalui proses penyeimbangan portofolio bisnis dengan memperkuat kontribusi dari sektor produk farmasi.

Selain itu, perusahaan juga mengincar pengembangan varian produk yang kompetitif di pasar, optimalisasi jaringan kemitraan strategis, hingga peningkatan performa perdagangan ekspor.

”Selain itu, perseroan menerapkan prinsip lean manufacturing melalui penataan proses produksi dan struktur organisasi, pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efisiensi biaya pabrikasi, serta pelaksanaan efisiensi operasional secara menyeluruh,” kata manajemen.

Saat ini, korporasi Indofarma menaruh harapan yang terhitung cukup besar terhadap kontribusi kinerja dari sektor pasar ekspor internasional.

Sepanjang tahun lalu, performa angka penjualan ekspor dari Indofarma dilaporkan sukses menorehkan grafik pertumbuhan positif di angka 11,9 persen secara year-on-year (YoY).

Pencapaian ini sekaligus memberikan sinyal segar yang membuktikan tingkat daya saing tinggi dari komoditas produk farmasi dalam negeri di kancah pasar global.

Langkah penetrasi pasar internasional paling anyar dibuktikan oleh emiten melalui realisasi aksi pengiriman komoditas ekspor sebanyak 5 kontainer menuju negara Afghanistan.

Sahat Sihombing menegaskan perseroan berkomitmen penuh untuk terus memperluas cakupan wilayah pasar ekspor dengan konsisten mendongkrak kualitas mutu produk farmasi.

“Dengan pengalaman lebih dari tiga darsawarsa di pasar ekspor, Indofarma akan terus memperluas jangkauan pasar internasional, memperkuat kualitas produk, serta menghadirkan nilai tambah yang berkelanjutan. Kami meyakini bahwa produk farmasi nasional memiliki kemampuan untuk bersaing dan memperoleh kepercayaan di pasar global,” katanya.

Di sisi lain, jajaran pengamat dan analis pasar modal menilai bahwa peta jalan pemulihan bisnis yang mesti dilalui oleh INAF masih terhitung sangat panjang.

Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memberikan pandangan bahwa agenda restrukturisasi utang perseroan diprediksi memakan durasi yang cukup lama.

Meskipun laporan keuangan mencatatkan adanya penyusutan angka kerugian berkat efisiensi, kans INAF untuk berbalik meraup laba bersih di tahun ini dinilai masih berat.

”Upaya INAF dalam menekan beban pokok memang membantu mengurangi pendarahan finansial, tetapi jika tidak dibarengi dengan pemulihan top line yang signifikan, ruang untuk mencetak laba bersih akan sangat terbatas,” tegas Nafan, Kamis (25/6/2026).

Nafan menambahkan, indikator perbaikan operasional mungkin saja mulai terlihat secara gradual, namun akselerasi restrukturisasi bisnis harus segera dipacu oleh manajemen.

Sementara itu, Analis Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis, menjabarkan adanya dua faktor krusial yang menjadi akar dari permasalahan struktural yang mendera internal INAF.

Pertama, adanya guncangan pada aspek profitabilitas perusahaan pasca-berakhirnya masa pandemi, di mana terjadi penurunan omzet pendapatan yang drastis pada pos alat kesehatan.

Kedua, perusahaan terjepit oleh lonjakan harga bahan baku impor, tingginya pengeluaran operasional, pembengkakan beban distribusi, serta tanggungan beban keuangan.

”Selain kedua hal tersebut, terdapat juga beban utang dan kewajiban keuangan serta persaingan industri farmasi yang semakin ketat,” katanya, Kamis (25/6/2026).

Terlebih lagi, peta kompetisi industri farmasi saat ini sedang dihadapkan pada situasi pelemahan kurs rupiah serta ketegangan geopolitik dunia yang memicu naiknya ongkos produksi.

Alrich menilai, hantaman biaya bahan baku impor tersebut otomatis bakal memberikan tekanan tambahan yang masif terhadap perolehan margin keuntungan bagi korporasi.

”Risiko inflasi medis memang meningkatkan potensi kerugian, tetapi tidak otomatis menggagalkan proses pemulihan yang sedang berlangsung,” tegasnya.

Walau berada dalam situasi sulit, INAF dinilai masih mengantongi modal berupa status sebagai BUMN farmasi serta kepemilikan citra merek yang sudah melekat kuat di publik.

Ditambah lagi, perusahaan berpeluang memetik keuntungan besar jangka panjang dari bergulirnya implementasi kebijakan program kemandirian farmasi yang dicanangkan pemerintah.

Senada dengan itu, Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai privilese INAF selaku entitas BUMN membuka karpet merah untuk masuk ke program strategis negara.

”Tapi keunggulan ini belum cukup mengompensasi beban struktural dan tanpa restrukturisasi tuntas dan fresh capital, keunggulan operasional tidak bisa termonetisasi optimal,” katanya, Kamis (25/6/2026).

Terkini