Laba Bersih BEI Melonjak 59,4 Persen Menyentuh Rp1,07 Triliun di 2025

Senin, 29 Juni 2026 | 20:57:31 WIB
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik.

JAKARTA - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sukses mengantongi raihan laba bersih yang tumbuh sebesar 59,4 persen secara year on year (yoy) hingga menyentuh angka Rp1,07 triliun pada tahun 2025. Perolehan keuntungan ini menorehkan rekor sebagai laba bersih tertinggi sepanjang sejarah berdirinya BEI.

Eskalasi perolehan laba bersih perusahaan berjalan selaras dengan realisasi pendapatan konsolidasi yang ikut terkerek naik sebesar 29,8 persen (yoy) menjadi Rp3,66 triliun pada buku tahun 2025.

“Perseroan mampu mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 59,4 persen (yoy) menjadi Rp1,07 triliun di tahun 2025, yang merupakan pencapaian laba bersih tertinggi dalam sejarah,” ujar Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik dalam konferensi pers seusai menggelar RUPST di Jakarta, Senin.

Lonjakan pendapatan korporasi ini disokong secara kuat oleh pertumbuhan nilai transaksi harian rata-rata (RNTH) yang sukses menembus level Rp18,07 triliun sepanjang 2025. Hasil ini turut didorong oleh ekspansi lini jasa transaksi efek sebesar 41 persen serta sektor jasa kliring sebesar 41,3 persen.

Jeffrey memaparkan bahwa pihak internal juga konsisten menggulirkan program diversifikasi pos pemasukan baru lewat jasa informasi, laba investasi, hingga kontribusi anak perusahaan. Pola ini sukses mengungkit pendapatan non-transaksi sebesar 14,6 persen dan pos pendapatan lainnya sebesar 17 persen.

“Meskipun saat ini sebesar 76,8 persen dari total pendapatan dikontribusikan oleh kegiatan terkait transaksi di pasar modal, perseroan tetap berupaya untuk menjaga pertumbuhan dari pendapatan lainnya, yang tercermin dari kenaikan pendapatan tidak terkait transaksi sebesar 14,6 persen, dan pendapatan lainnya sebesar 17 persen,” ujar Jeffrey.

Di sisi lain, total pos pengeluaran beban perseroan tercatat ikut mengalami penambahan sebesar 17,1 persen (yoy) menjadi Rp2,37 triliun pada 2025. Pemicu utamanya bersumber dari naiknya setoran kontribusi tahunan kepada pihak OJK akibat padatnya aktivitas transaksi di pasar saham.

Memasuki masa akhir tahun 2025, akumulasi total aset milik BEI dilaporkan bertumbuh 32 persen (yoy) ke angka Rp14,78 triliun, sedangkan untuk sektor ekuitas bergerak menanjak sebesar 14 persen (yoy) ke level Rp9,45 triliun.

“Pencapaian ini mencerminkan fundamental keuangan perseroan yang semakin kuat,” ujar Jeffrey.

Sepanjang tahun 2025, Jeffrey menguraikan bahwa geliat roda perdagangan di pasar modal Indonesia memperlihatkan performa pertumbuhan yang tangguh. Indikator RNTH saham mampu bertengger di angka Rp18,1 triliun, sementara pos transaksi instrumen nonsaham menyentuh Rp7,6 triliun.

Sementara itu, bursa obligasi di BEI yang digerakkan lewat Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA) mengunci perolehan total volume transaksi di angka Rp1.375 triliun, di samping nilai dagang instrumen karbon di IDXCarbon yang membukukan angka Rp36,37 miliar.

Dari aspek penggalangan dana, pihak BEI tercatat telah mengawal sebanyak 26 perusahaan baru untuk menggelar aksi penawaran umum perdana (IPO) dengan raihan market cap kumulatif menyentuh Rp155,2 triliun kala perdana melantai.

Aliran modal yang sukses dihimpun lewat jalur IPO tersebut berada di kisaran Rp18,1 triliun, atau memperlihatkan tren pertumbuhan sebesar 26 persen (yoy) jika disandingkan dengan perolehan pada periode tahun sebelumnya.

Di luar aksi IPO, ikhtiar penghimpunan dana segar melalui instrumen Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) sukses menyentuh nominal Rp217,4 triliun, disusul perolehan lewat Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) beserta Waran di angka Rp43,7 triliun.

Terkini