Ancol dan Bluebird Prediksi Lonjakan Pendapatan Saat Libur Sekolah

Senin, 29 Juni 2026 | 21:39:01 WIB
Bianglala, salah satu wahana di Dufan, Ancol.

JAKARTA - Fase liburan sekolah di semester 2 2026 diproyeksikan bakal menjadi stimulus utama bagi pertumbuhan bisnis emiten pariwisata PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk. (PJAA) dan korporasi transportasi PT Blue Bird Tbk. (BIRD).

Manajemen PJAA mengantisipasi adanya lonjakan kunjungan rekreasi keluarga, sedangkan pihak BIRD memprediksi kurva permintaan akomodasi transportasi akan merangkak naik seiring tingginya pergerakan publik menuju kawasan wisata.

Corporate Communication PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk. Daniel Windriatmoko menjabarkan bahwa pihak internal sudah mematangkan beragam portofolio hiburan, atraksi baru, serta pelaksanaan event guna memanen untung dari momentum tersebut.

"Libur sekolah merupakan salah satu momentum paling penting bagi Ancol setiap tahunnya. Pada periode ini kami melihat peningkatan minat masyarakat untuk berwisata bersama keluarga, sehingga secara historis jumlah kunjungan maupun aktivitas ekonomi di kawasan Ancol cenderung meningkat," ujarnya kepada Bisnis, Senin (29/6/2026).

Dirinya menambahkan, pihak perseroan menyimpan rasa optimistis bahwa pergerakan angka kunjungan sepanjang masa libur sekolah tahun ini bakal menyalip pencapaian pada periode yang sama di tahun lalu.

Kendati demikian, realisasi target performa keuangan ke depan dinilai tetap bergantung pada sejumlah variabel eksternal seperti iklim ekonomi makro, faktor cuaca, hingga daya beli masyarakat.

Daniel menguraikan esensi fokus perusahaan tidak sekadar memburu kuantitas wisatawan, melainkan juga mematangkan kualitas kunjungan dengan memperpanjang durasi tinggal pelancong serta mengungkit nilai transaksi belanja selama berada di area Ancol.

Sederet destinasi rekreasi unggulan diyakini masih bertindak sebagai tulang punggung pendapatan, meliputi Pantai Ancol, Dunia Fantasi (Dufan), Sea World, Atlantis Samudra, Jakarta Bird Land, serta aneka festival liburan.

Di luar ranah hiburan, manajemen Ancol memproyeksikan sektor turunan seperti bisnis kuliner, ritel, dan hospitality akan kecipratan berkah ekonomi imbas tren durasi kunjungan wisatawan yang semakin lama.

Ia melihat ceruk industri rekreasi masih mengantongi potensi ekspansi yang besar pada paruh kedua tahun 2026 ini, didorong oleh naiknya mobilitas publik dan tingginya animo masyarakat atas destinasi rekreasi yang strategis.

Namun, korporasi tetap memasang sikap waspada terhadap tantangan riil berupa fluktuasi daya beli masyarakat, ketatnya iklim kompetisi antar-destinasi wisata, hingga kondisi alam atau cuaca yang sewaktu-waktu bisa memangkas kehadiran turis.

Demi memelihara tren pertumbuhan jangka panjang, manajemen Ancol bertumpu pada inovasi berkala produk rekreasi, pergelaran acara unik, pembenahan mutu pelayanan, serta pengetatan efisiensi anggaran operasional.

Menilik rapor keuangan, realisasi pendapatan usaha emiten PJAA bertengger di angka Rp207,58 miliar pada kuartal 1 2026, memperlihatkan pelemahan tipis sebesar 1,52 persen dari torehan kuartal 1 2025 yang senilai Rp210,80 mIliar.

Selaras dengan menciutnya pendapatan, beban rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk terpantau membengkak ke posisi Rp38,80 mIliar dari catatan rugi periode sebelumnya sebesar Rp11,17 mIliar.

Hampir serupa, angin segar dari libur sekolah turut memberikan dampak positif bagi emiten transportasi. Direktur Utama PT Blue Bird Tbk. Andre Djokosoetono memaparkan bahwa eskalasi agenda wisata keluarga umumnya linier dengan peningkatan kebutuhan armada angkutan.

Andre mencermati, basis data historis tahun lalu mengonfirmasi adanya tren kenaikan permintaan jasa di bawah payung bisnis Bluebird Group.

Sebagai ilustrasi, pada Juli 2025, angka pemesanan armada taksi reguler Bluebird sukses mendaki mendekati 10 persen jika dibandingkan dengan posisi Juni 2025, dipicu oleh tingginya mobilitas menuju pusat wisata, stasiun, dan bandara.

Di samping lini taksi reguler, manajemen melihat potensi pertumbuhan dari taksi premium Silverbird, penyewaan mobil Goldenbird, armada bus Bigbird, hingga layanan travel antarkota Cititrans yang kerap diandalkan rombongan keluarga.

"Kami melihat layanan transportasi yang aman, nyaman, dan andal masih menjadi kebutuhan utama masyarakat dalam mendukung aktivitas selama masa libur sekolah," tuturnya.

Membedah aspek finansial, emiten taksi milik dinasti Djokosoetono ini sukses meraup omzet pendapatan hingga Rp1,45 triliun pada kuartal 1 2026, alias melesat sebanyak 11,6 persen dari raihan kuartal 1 tahun lalu senilai Rp1,3 triliun.

Akan tetapi, performa gemilang pada pos pendapatan tersebut belum berbanding lurus dengan perolehan keuntungan bersih perusahaan.

Berdasarkan publikasi laporan keuangan per 31 Maret 2026, emiten BIRD mengunci laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp155,5 mIliar, atau mengalami penurunan 6 persen dari profit tahun lalu senilai Rp165,4 mIliar, sementara pos EBITDA tercatat di level Rp341,8 mIliar.

Terkini