Pelita Teknologi Global Tebar Dividen dan Bidik Pasar Nigeria

Senin, 29 Juni 2026 | 21:43:32 WIB
Ilustrasi Produksi Kartu SIM.

JAKARTA - PT Pelita Teknologi Global Tbk. (CHIP) menetapkan kebijakan untuk tetap mendistribusikan dividen tunai tahun buku 2025, meskipun korporasi mengalami koreksi laba bersih mencapai 50 persen akibat imbas tensi geopolitik global serta lesunya daya beli masyarakat.

Emiten yang bergerak di bidang teknologi ini mematok nilai dividen tunai sebesar Rp1,43 per lembar saham atau mencerminkan rasio pembayaran sebesar 25 persen dari total perolehan laba bersih. Ketetapan tersebut disepakati melalui forum Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Senin (29/6/2026).

Direktur Keuangan CHIP Hasri Zulkarnaen mengutarakan bahwa realisasi aksi korporasi ini bertindak sebagai perwujudan komitmen penuh dari jajaran manajemen demi menjaga tingkat kepercayaan para investor.

Ia memaparkan sepanjang rentang tahun lalu, perolehan keuntungan bersih perusahaan terpangkas menjadi di kisaran Rp4 miliar dari capaian periode tahun sebelumnya yang mampu menyentuh Rp8 mIliar. Walau begitu, arus kas dari sektor operasional dipastikan konsisten positif di angka Rp1,2 mIliar.

"Walaupun laporan keuangan sepanjang 2025 menghadapi tantangan geopolitik dan penyesuaian ekonomi di Indonesia, kami tetap konsisten untuk membagikan dividen,” ucap Hasri Zulkarnaen dalam keterangan resmi, Senin (29/6/2026).

Sampai pada penutupan tahun 2025, akumulasi total aset milik CHIP berada di posisi Rp115 miliar, alias merangkak naik tipis dari pembukuan akhir tahun 2023 yang senilai Rp113 mIliar.

Pihak manajemen juga sukses memotong rasio utang dengan capaian current ratio menyentuh tiga kali lipat dari total kewajiban jangka pendek, serta rasio utang terhadap modal (DER) yang terkendali aman pada level 69 persen.

Guna menyiasati lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang melambung 20 persen hingga 30 persen dalam rentang empat bulan terakhir, manajemen CHIP mengambil langkah mempertebal stok bahan baku untuk pemenuhan tiga hingga enam bulan ke depan demi mengunci harga impor.

Di sisi lain, Direktur Utama CHIP Ardarini memberikan konfirmasi bahwa perseroan saat ini tengah menjajaki kesepakatan kontrak baru bersama mitra bisnis di Nigeria, mengikuti jejak ekspansi yang sebelumnya telah berjalan di Zambia.

Langkah perluasan pasar ini dieksekusi sebagai bagian dari strategi korporasi dalam memulihkan kurva pertumbuhan nilai penjualan dengan cara merambah kawasan pasar nontradisional.

“Target kami dapat menambah jaringan di dua negara baru pada 2027. Produk eSIM yang kami kembangkan menjadi salah satu unggulan yang dipasarkan ke pasar Afrika seiring dengan pengetatan regulasi keamanan data di sana,” kata Ardarini.

Direktur Operasional CHIP Mulyo Suseno ikut menambahkan, tingkat utilitas pabrik milik perusahaan yang berlokasi di Jatake, Tangerang, saat ini sudah berjalan penuh dengan kapasitas produksi sim card minimal berada di angka 8 juta unit per bulan atau mendekati 100 juta unit per tahun.

Fasilitas produksi massal tersebut dioptimalkan guna menyuplai kebutuhan operator seluler raksasa domestik seperti Indosat, XL, Smartfren, sekaligus untuk memenuhi pasar ekspor.

Melirik pergerakan di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), saham berkode CHIP terpantau bertengger pada level Rp930 per saham hingga sesi penutupan perdagangan Senin (29/6). Posisi harga tersebut memperlihatkan koreksi sebesar 30,86 persen sepanjang tahun berjalan (YtD).

Terkini