Ketahui 3 Karakteristik Psikologis Orang yang Sering Mengeluh

Senin, 29 Juni 2026 | 22:23:01 WIB
Ilustrasi Sedang Mengeluh.

JAKARTA - Aktivitas mengeluh sebenarnya bertindak sebagai satu bentuk penyaluran yang sehat bagi kondisi psikologis seseorang. Daripada terus-menerus dipendam di dalam hati, suasana perasaan tentu akan terasa jauh lebih plong jika dikeluarkan secara bebas.

Akan tetapi, bagaimana ceritanya bila tindakan tersebut justru dipraktikkan secara berlebihan atau terlalu sering dalam dinamika keseharian?

Bagi sebagian individu, kebiasaan terlalu sering mengeluh bisa memicu rasa jengkel bagi lingkungan sekitar, terlebih bila keluhan tersebut terus dilontarkan tanpa disertai dengan adanya rumusan solusi nyata.

Namun, di balik watak individu yang gemar mengeluh, ternyata terdapat sejumlah karakteristik kepribadian tertentu yang dapat teridentifikasi.

Lantas, apa sajakah jenis karakter tersebut? Berikut ini adalah beberapa di antaranya yang berhasil dirangkum dari berbagai sumber tepercaya.

Tipe pertama adalah Neurotisisme. Di dalam model pengelompokan big five personalities, kecenderungan neurotisisme kerap dikaitkan erat dengan kepemilikan aneka emosi negatif, seperti rasa cemas, mudah dihinggapi frustrasi, hingga tingkat sensitivitas yang tinggi terhadap tekanan stres.

Menukil laporan dari laman Britannica, kelompok individu dengan profil kepribadian neurotisisme cenderung memandang dunia sebagai lingkungan yang penuh masalah dan kurang aman bagi mereka.

Mereka juga lazim dilekatkan dengan rasa tidak puas yang konstan, sehingga tidak mengherankan jika kelompok ini pada akhirnya memproduksi banyak keluhan.

Individu dengan kecenderungan neurotik ini juga memiliki habituasi untuk merasa tidak puas, baik terhadap performa diri mereka sendiri maupun atas jalannya roda kehidupan yang dilewati.

Karakteristik kedua adalah fokus pada hal negatif. Sejalan dengan penjelasan sebelumnya, seorang neurotik pada umumnya memiliki kapasitas perhatian yang lebih tersedot pada sisi-sisi minus dari sebuah peristiwa.

Sementara itu, kelompok orang yang kedapatan sering mengeluh mayoritas diidentifikasi sebagai seorang neurotik.

Mengutip laporan publikasi Sage Journal, sebuah studi populer yang dipimpin oleh Roy Baumeister mengungkapkan bahwa pada dasarnya organ otak manusia memiliki kepekaan yang jauh lebih tajam dalam merespons ancaman serta pengalaman negatif daripada momen positif.

Fenomena psikologis unik inilah yang kemudian dikenal luas di dunia sains dengan istilah negativity bias.

Menyadur rilis ilmiah dari laman Verywell Mind, keberadaan negativity bias pada gilirannya akan menggiring seseorang untuk menjadi lebih mudah memperhatikan celah kesalahan, kekurangan, serta hambatan, ketimbang mengapresiasi hal-hal yang sejatinya sudah berjalan dengan lancar.

Karakteristik ketiga adalah perfeksionis. Orang-orang dengan corak perfeksionis terbilang sangat akrab dengan aktivitas mengeluh lantaran kepemilikan standar hidup serta ekspektasi yang dinilai terlampau kaku.

Patokan baku yang tidak fleksibel ini secara otomatis memicu lahirnya perasaan bahwa diri mereka selalu berada dalam kondisi 'tidak sempurna'.

Menukil data dari laman American Psychological Association (APA), kaum perfeksionis menaruh fokus penuh pada kelemahan maupun kekeliruan dalam skala kecil.

Konsekuensinya, mereka menjadi sangat gampang merasa tidak puas terhadap suatu capaian yang sebenarnya sudah beres dieksekusi dengan baik, sehingga keluhan pun menjadi sangat mudah terucap dari mulut.

Bukan hanya itu, kelompok ini juga kerap kali didera perasaan frustrasi, kecemasan akut, hingga hobi menunda-nunda pekerjaan akibat adanya ketakutan mendalam dalam menerima hasil akhir yang tidak sempurna.

Kendati demikian, pada dasarnya tidak terdapat sebuah formula atau patokan baku yang mutlak mengenai tipe kepribadian apa saja yang dapat dinilai langsung dari kebiasaan mengeluh seseorang.

Hanya saja, aktivitas mengeluh yang dilakukan secara konstan memang sering kali merefleksikan adanya karakteristik atau kecenderungan psikologis tertentu pada diri individu.

Terkini