JAKARTA - Dokter Hewan sekaligus Ahli Mikrobiologi di Sekolah Kedokteran Hewan Colorado State University, Dr. Josh Daniels memaparkan bahwa kebiasaan tidur bersama hewan peliharaan menyimpan risiko penularan penyakit pada pemiliknya.
Melalui laporan resmi siaran Channel News Asia, Josh Daniels menyampaikan bahwa hewan peliharaan dapat membuat kami terpapar berbagai jenis serangga dan kuman, seperti kutu, parasit, dan bakteri.
Komoditas kutu bertindak selaku jenis serangga yang paling jamak dijumpai masyarakat tatkala berbagi ruang tidur dengan hewan piaraan mereka.
Keberadaan serangga parasit tersebut dinilai merugikan karena berpotensi besar menyebarkan penularan penyakit Lyme serta gangguan medis serius lainnya.
Menurut pemaparannya, para pemilik wajib meningkatkan kewaspadaan ekstra apabila satwa piaraan baru saja dievakuasi dari area penampungan atau masih berstatus anakan.
Para pemilik disarankan untuk mengantisipasi potensi penularan gangguan kesehatan kulit, salah satunya infeksi kurap yang sangat mudah menular via sentuhan fisik.
Josh Daniels mencontohkan sebuah kasus pada tahun 1991, di mana seorang wanita berusia 81 tahun di negara Finlandia terpaksa dilarikan ke rumah sakit akibat demam dan infeksi bakteri kulit kaki.
Tim peneliti melaporkan wanita tersebut menderita bisul di sela jari kaki akibat infeksi bakteri khas yang biasa hidup di dalam rongga mulut anjing maupun kucing.
Pasien tersebut diketahui memiliki kebiasaan rutin tidur bersama kucing kesayangannya yang kerap menjilati bagian kaki serta sela-sela jari kakinya.
Kasus serupa terjadi pada tahun 2000, melibatkan pria berumur 69 tahun yang kedapatan mengalami infeksi akut di area bekas operasi pinggul akibat tidur bersama anjingnya.
Bakteri pemicu infeksi tersebut bersumber dari jenis mikroba mulut hewan yang umumnya berpindah ke tubuh manusia lewat perantara gigitan ataupun cakaran.
Guna memitigasi risiko tersebut, pemberian obat cacing secara berkala sangat disarankan karena efektif membasmi parasit usus berbahaya seperti cacing gelang.
Sementara itu, Profesor Emeritus dari Fakultas Kedokteran Hewan California, Davis, Bruno Chomel mengonfirmasi adanya laporan pemilik anjing yang terjangkit wabah akibat kutu pasca-tidur bersama.
Kendati demikian, kasus ekstrem ini tergolong langka dan ancaman sakit serius sejatinya relatif rendah, kecuali jika pemilik memiliki sistem imun yang lemah.
Pada aspek lain, Asisten Profesor Psikologi Klinis di Mississippi State University, Brittany Lancaster menyebut riset terkait dampak hewan terhadap kualitas tidur masih minim.
Walau begitu, sekumpulan data sekilas mengindikasikan bahwa tidur satu ranjang bersama hewan peliharaan berpotensi memperburuk efisiensi istirahat malam.
Dalam sebuah eksperimen pada tahun 2017, sebanyak 40 wanita pemilik anjing dipasangi alat monitor aktivitas tidur selama tujuh malam berturut-turut.
Hasil riset membuktikan partisipasi tidur menjadi kurang efisien saat anjing berada di atas kasur, dibandingkan jika hewan berada di lantai kamar.
Bukti ilmiah lain pada tahun 2020 terhadap 12 wanita menunjukkan bahwa anjing kerap mengganggu tidur pemiliknya, meski partisipan jarang menyadarinya saat terbangun.
Uniknya, sejumlah ilmuwan juga mendapati fakta bahwa sebagian masyarakat justru merasa kehadiran hewan peliharaan berdampak positif bagi psikologis tidur mereka.
Dokter Tidur sekaligus Profesor Neurologi Klinis di Universitas Miami, Dr. Douglas Wallace mengamini fenomena ini berdasarkan temuan klinis di ruang praktiknya.
Ia berteori bahwa pasokan dukungan emosional dari hewan peliharaan mampu mengeliminasi efek negatif dari gangguan fisik yang muncul selama tidur.
Bahkan, aktivitas merawat hewan seperti mengajjak anjing berjalan-jalan di pagi hari secara tidak langsung melatih pemiliknya berolahraga dan bangun tepat waktu.