Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Kantongi Izin Rights Issue

Selasa, 30 Juni 2026 | 02:55:02 WIB
Aktivitas offshore support PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk.

JAKARTA — Perusahaan pelayaran terkemuka PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) telah mengantongi surat keputusan efektif dari pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Persetujuan regulator tersebut diberikan untuk mengeksekusi agenda Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) I atau rights issue senilai maksimal Rp739,34 miliar.

Pihak manajemen bakal memanfaatkan perolehan dana segar ini untuk membiayai belanja modal, pendanaan investasi baru, serta memperkokoh struktur modal kerja demi melebarkan jangkauan bisnis.

Direktur Utama ELPI Eka Taniputra memaparkan bahwa emiten transportasi laut ini siap melepas sebanyak 2.112.420.000 (2,11 miliar) lembar saham baru ke pasar modal.

Penetapan harga pelaksanaan aksi korporasi ini berada di angka Rp350 per lembar saham, sehingga total akumulasi modal yang berpotensi dihimpun emiten mencapai Rp739.347.000.000.

"Pernyataan efektif dari OJK menjadi langkah penting bagi perseroan untuk melaksanakan rights issue di tengah kondisi pasar modal yang masih dipengaruhi ketidakpastian global," ujarnya.

Eka menguraikan porsi dana sekitar Rp277,2 miliar dari hasil rights issue ini diprioritaskan untuk kebutuhan belanja modal perusahaan di masa mendatang.

Dari anggaran tersebut, senilai Rp205,2 miliar dialokasikan khusus untuk mendanai proyek pembuatan tiga unit kapal cepat kru serta satu unit kapal tunda multifungsi.

Langkah pengadaan armada baru ini bertujuan memacu kapasitas angkut logistik sekaligus merespons tingginya tingkat permintaan dari basis pelanggan setia.

Sementara sisa anggaran senilai Rp72 miliar bakal dialihkan untuk pengadaan enam unit kapal guna menyokong kemitraan kontrak jangka panjang dengan PT Layar Nusantara Gas (LNG).

Mitra bisnis tersebut merupakan korporasi yang saat ini tengah aktif mengembangkan kawasan fasilitas kilang terapung Genting Floating Liquefied Natural Gas (FLNG).

Menurut penjelasannya, ikatan kerja sama komersial tersebut diproyeksikan memiliki nilai omzet sekitar Rp2,39 triliun sepanjang masa kontrak dengan durasi sewa mencapai 18 tahun.

"Seluruh kapal ditargetkan dapat direalisasikan pada semester II/2027," katanya.

Di luar alokasi belanja modal, Direktur Keuangan ELPI Efilya Kusumadewi menambahkan, korporasi juga menyisihkan dana segar senilai Rp190 miliar sebagai bentuk penyertaan modal.

Dana jumbo tersebut disuntikkan pada badan perusahaan patungan baru yang fokus bergerak dalam ekosistem logistik pelayaran sebagai strategi diversifikasi korporasi.

Selanjutnya, modal sebesar Rp118,3 miliar siap dialirkan ke perusahaan anak, PT ELPI Trans Cargo (ETC), demi memperkuat ketahanan modal sekaligus menyokong operasional kapal.

Unit armada yang dimaksud adalah armada tangguh Multi Purpose Support Vessel (MPSV) Bourbon Evolution 805 yang sukses dimenangi pihak ETC lewat proses lelang internasional.

Efilya menambahkan sisa perolehan dana korporasi ini nantinya akan diserap penuh untuk membiayai modal kerja harian bagi ELPI dan PT Ekalya Purnamasari Offshore (ELPIO).

Cakupan pemanfaatan dana tersebut meliputi pos biaya perawatan rutin kapal, pasokan bahan bakar, premi asuransi, proses sertifikasi lambung, hingga kebutuhan operasional 101 armada.

Komposisi kekuatan laut tersebut terdiri atas kepemilikan saham 83 unit kapal di bawah naungan ELPI serta 18 unit armada yang dikelola oleh ELPIO.

"Posisi kapal Bourbon Evolution 805 saat ini berada di Abidjan, Pantai Gading, dan sedang dalam proses mobilisasi menuju Indonesia. Setelah tiba, kapal tersebut akan segera dioperasikan untuk mendukung proyek-proyek offshore," ujar Efilya.

Corporate Secretary ELPI Wawan Heri Purnomo memastikan manajemen siap menjalankan seluruh tahapan birokrasi PMHMETD I ini sesuai koridor regulasi pasar modal yang berlaku.

"Adapun recording date pemegang saham yang berhak memperoleh Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) ditetapkan pada 8 Juli 2026, sedangkan periode perdagangan HMETD berlangsung pada 10–16 Juli 2026," jelasnya.

Melalui mekanisme aksi korporasi ini, setiap pemilik 200 lembar saham lama yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) berhak memperoleh 57 HMETD.

Hak tersebut nantinya dapat dikonversi langsung oleh para investor untuk menebus kepemilikan unit lembar saham baru yang diterbitkan oleh emiten.

Wawan menegaskan seluruh dana hasil penghimpunan modal lewat rights issue ini murni digunakan untuk membiayai ekspansi usaha tanpa ada porsi yang dialihkan untuk membayar utang.

"Seluruh dana akan diarahkan untuk memperkuat struktur permodalan, meningkatkan kapasitas operasional, serta mendukung diversifikasi bisnis perseroan," ujarnya.

Dalam pelaksanaan aksi PMHMETD I ini, pihak pemegang saham pengendali dari ELPI dilaporkan memilih untuk tidak mengeksekusi hak memesan efek miliknya.

Seluruh hak kepemilikan pengendali tersebut selanjutnya resmi dialihkan kepada PT GMT Kapital Asia yang bertindak sebagai calon investor baru pasca-rights issue rampung.

Guna menjamin kelancaran, korporasi juga telah menunjuk PT Binaartha Sekuritas untuk mengemban peran sebagai Pembeli Siaga yang siap menyerap sisa saham di pasar.

Langkah antisipasi ini disiapkan untuk menyapu bersih sisa kuota saham baru yang sekiranya tidak dieksekusi oleh pemegang saham lama selama periode perdagangan berlangsung.

"Perseroan meyakini aksi korporasi tersebut akan memperkuat fundamental bisnis di tengah meningkatnya kebutuhan jasa pelayaran nasional sekaligus mendukung diversifikasi usaha dari segmen offshore support vessel menuju bisnis tug and barge, transshipment, serta berbagai jenis kapal pendukung lainnya,” pungkasnya.

Terkini