Enam Cara Sederhana Membuat Anak Suka Makan Sayur Menurut Peneliti

Rabu, 01 Juli 2026 | 05:47:32 WIB
Ilustrasi anak makan sayur.

JAKARTA - Banyak wali murid merasa kewalahan ketika buah hati mereka menolak hidangan hijau dan hanya terpaku pada menu tertentu saja.

Namun, para pakar menegaskan aksi memaksa anak menghabiskan sayuran bukanlah jalan keluar yang tepat untuk mengatasi kendala tersebut.

Sebaliknya, ada beberapa metode sederhana berbasis sains yang dapat diaplikasikan guna menumbuhkan kegemaran anak pada sayur sejak dini.

Melansir BBC (30/6/2026), preferensi kuliner anak rupanya dapat dibentuk lewat rutinitas harian yang ditanamkan secara konsisten di rumah.

Penyesuaian minor pada metode menyajikan hidangan sanggup memicu efek jangka panjang bagi pola konsumsi mereka hingga dewasa.

Anak secara biologis memiliki kecenderungan menyukai cita rasa manis sejak usia dini, bahkan sejak mengonsumsi ASI yang berkarakter serupa.

Oleh karena itu, menyajikan menu sayur yang berasa agak getir atau tawar kerap kali menjelma menjadi tantangan besar bagi keluarga.

Padahal, kecukupan asupan nabati sangat krusial untuk menunjang kebugaran, daya konsentrasi, perangai, hingga tumbuh kembang anak.

Mengenai trik memicu ketertarikan anak pada sayur, Profesor Biopsikologi dari University of Leeds, Marion Hetherington, membagikan pandangannya.

Ia menyebut anak perlu mencicipi sayur berulang kali sebelum akhirnya dapat menerima jenis makanan sehat tersebut di lidah mereka.

"Jika orangtua tidak mulai meningkatkan paparan sayuran sebelum usia lima tahun, itu akan menjadi jauh lebih sulit," ujarnya.

Sederet riset memperlihatkan balita membutuhkan pengenalan makanan baru berkisar antara lima hingga 15 kali uji coba sebelum terbiasa.

Mekanisme pembentukan preferensi kuliner ini bahkan disinyalir sudah dimulai sejak masa kehamilan lewat zat makanan yang dikonsumsi ibu.

Metode lain yang dinilai manjur adalah mendahulukan sajian sayur di piring sebelum lauk utama lainnya dihidangkan ke hadapan anak.

Hetherington berpendapat anak cenderung mengonsumsi menu yang paling disukai terlebih dahulu saat isi perut mereka masih kosong.

Ketika sudah kenyang, mereka umumnya enggan melirik sisa sayur yang tertinggal, sehingga menyajikannya saat lapar menjadi kunci utama.

Penelitian di Inggris menunjukkan anak mau menyantap sayur saat sarapan pada 60 persen kesempatan jika menu itu diberikan di awal.

Orang tua juga disarankan menambah porsi sayur di piring, misalnya sebagai pendamping atau memarut wortel ke dalam saus.

Riset membuktikan anak mengonsumsi sayur lebih banyak saat porsinya diperbesar hingga 50 persen di dalam wadah makan mereka.

Sisi estetika visual masukan juga memengaruhi minat, di mana anak lebih tertarik pada bentuk unik seperti hewan atau bunga.

Menata sayuran di lokasi yang mudah dijangkau juga memperbesar peluang bahan tersebut dipilih sebagai camilan harian anak.

Kebiasaan makan pendamping juga memegang peran masif, karena anak adalah peniru ulung dari apa yang dikonsumsi anggota keluarga.

Makan bersama keluarga minimal tiga kali seminggu terbukti berkorelasi positif dengan tingginya minat anak mengonsumsi sayur.

Pakar mengingatkan tekanan emosional justru memicu anak makin antipati terhadap jenis makanan nabati yang disodorkan.

Sebuah studi mengajak anak berinteraksi dengan sayur lewat indra peraba dan penciuman tanpa keharusan untuk menelannya.

Metode rekreatif ini terbukti efektif membuat anak menjadi lebih terbuka dan tidak takut mencicipi menu baru tersebut di kemudian hari.

Melibatkan anak dalam aktivitas memasak di dapur juga dipercaya mampu memicu ketertarikan pada bahan pangan yang mulanya asing.

"Kuncinya adalah mengubah cara anak mengalami makanan. Dalam suasana santai dan tanpa tekanan, anak-anak jauh lebih bersedia bermain, mencicipi, dan bereksperimen dengan berbagai jenis makanan," kata koki eksperimental Jozef Youssef yang terlibat dalam penelitian tersebut.

Melalui temuan ilmiah ini, disimpulkan bahwa membangun kecintaan anak pada sayur tidak selamanya harus diwarnai dengan ketegangan.

Terkini