JAKARTA - Level kesejahteraan petani di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) memperlihatkan tren yang baik pada akhir paruh pertama tahun ini.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulsel Aryanto memaparkan, kemakmuran petani yang ditakar lewat Nilai Tukar Petani (NTP) di daerah tersebut pada Juni 2026 mengalami pertumbuhan sebesar 0,42% jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
NTP pada Juni 2026 tercatat pada level 118,80, naik dari posisi Mei 2026 yang berada di angka 118,30.
Percepatan indikator kemakmuran ini paling utama dipicu oleh pergerakan indeks harga yang diterima petani (It) yang melaju lebih progresif dibandingkan dengan beban biaya yang mesti dikeluarkan oleh rumah tangga petani.
"Kenaikan NTP tersebut terjadi karena indeks harga yang diterima petani mengalami kenaikan yang lebih besar dibandingkan indeks harga yang dibayar petani (Ib). Secara bulanan, It tumbuh sebesar 0,94%, sementara Ib hanya terkerek sebesar 0,51%," kata Aryanto dalam konferensi pers di Makassar, Rabu (1/2/2026).
Secara terperinci, indeks harga yang didapatkan petani di Sulsel meningkat dari 147,97 pada Mei 2026 menjadi 149,36 pada Juni 2026. Laju It ini ditopang kuat oleh performa yang baik di empat subsektor pertanian utama.
Subsektor hortikultura memimpin lompatan dengan pertumbuhan It menyentuh 5,05%, dibuntuti oleh subsektor tanaman perkebunan rakyat yang menguat 2,73%.
Berikutnya, subsektor perikanan memperoleh kenaikan It sebesar 0,88% dan subsektor tanaman pangan tumbuh tipis 0,32%.
Sebaliknya, penyusutan It cuma didapati pada subsektor peternakan yang merosot sedalam 2,13%. Beberapa komoditas yang menjadi penggerak utama kenaikan pendapatan petani bulan ini di antaranya kelapa sawit, kakao biji, bawang merah, dan jagung.
Di sisi lain, tekanan inflasi perdesaan yang digambarkan dari indeks harga yang dibayar petani (Ib) ikut merangkak naik 0,51%, bergerak dari 125,08 menjadi 125,73. Kenaikan ongkos produksi dan konsumsi rumah tangga ini dialami secara merata pada seluruh subsektor pertanian.
BPS mencatat kenaikan Ib paling tinggi bertempat di subsektor perikanan sebesar 0,61%, disusul subsektor tanaman pangan dan tanaman perkebunan rakyat yang masing-masing naik 0,52%. Sementara itu, subsektor hortikultura dan peternakan mengalami peningkatan Ib masing-masing sebesar 0,46% dan 0,42%.
"Komoditas utama pemicu kenaikan Ib meliputi bawang merah, cabai merah, bensin, serta komponen upah pemanenan," tutur Aryanto.
Melalui dinamika kedua indeks itu, tiga dari lima subsektor pertanian berhasil menorehkan rapor hijau pada angka akhir NTP Juni 2026.
Subsektor hortikultura kembali jadi sandaran utama dengan lonjakan NTP sebesar 4,57%, disusul subsektor tanaman perkebunan rakyat yang naik 2,21%, dan subsektor perikanan yang menguat tipis 0,27%.
Sementara itu, subsektor tanaman pangan dan peternakan terpaksa mengalami kontraksi masing-masing sebesar 0,20% dan 2,53% lantaran tingginya tekanan biaya produksi jika dibandingkan harga jual di tingkat petani.
Secara nominal, angka NTP subsektor hortikultura menduduki posisi teratas yaitu sebesar 150,74; diikuti subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 134,69; subsektor perikanan sebesar 121,21; subsektor tanaman pangan sebesar 112,84; dan subsektor peternakan sebesar 106,28.
Kendati didapati penurunan pada beberapa bidang seperti pangan dan peternakan, daya beli serta kesejahteraan absolut petani Sulawesi Selatan secara umum masih terjaga dengan aman di atas ambang batas 100.
Angka tersebut mengindikasikan bahwa secara rata-rata, pendapatan yang didapatkan petani dari hasil produksi mereka masih lebih besar jika dibandingkan pengeluaran demi keperluan konsumsi maupun biaya operasional bauran pertanian.