Kenaikan Harga Beras dan Bensin Seret Inflasi Cirebon ke 2,

Kamis, 02 Juli 2026 | 22:12:01 WIB
Beras dan Bensin Jadi Pemicu Utama Inflasi Cirebon Juni 2026 [FOTO: NET].

JAKARTA - Pergerakan inflasi di Kota Cirebon masih terus merangkak naik pada Juni 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cirebon membukukan inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) menyentuh 2,90%, dipicu oleh lonjakan harga beberapa komoditas kebutuhan masyarakat, khususnya beras dan bensin.

Kepala BPS Kota Cirebon, Samiran, menyampaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juni 2026 berada di level 109,85, menguat jika dibandingkan rentang waktu yang sama tahun sebelumnya yang bertengger di angka 106,75. 

Di samping inflasi tahunan, Kota Cirebon pun mendapati inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) sebesar 0,10% dan inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) senilai 1,47%.

“Perkembangan harga berbagai komoditas pada Juni 2026 secara umum menunjukkan adanya kenaikan sehingga mendorong inflasi baik secara tahunan maupun bulanan,” kata Samiran, Kamis (2/7/2026).

Ditinjau secara tahunan, hampir seluruh kelompok pengeluaran mendapati kenaikan harga. Sektor makanan, minuman, dan tembakau tampil sebagai penyumbang inflasi paling dominan dengan lonjakan 4,95%. 

Diikuti oleh kelompok pendidikan sebesar 4,31%, kelompok kesehatan 3,33%, kelompok transportasi 3,30%, serta kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran senilai 2,89%.

Selanjutnya, sektor rekreasi, olahraga, dan budaya menorehkan inflasi 1,77%, pakaian dan alas kaki 1,71%, perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga 1,29%, perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,99%, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,88%, serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,19%.

BPS mendata bahwa beras tampil sebagai komoditas yang paling kuat memacu inflasi tahunan. Di samping itu, kenaikan tarif bensin, Sigaret Kretek Mesin (SKM), ongkos akademi atau perguruan tinggi, bawang merah, jeruk, minyak goreng, daging sapi, kangkung, serta bakso siap santap ikut andil memicu kenaikan indeks harga konsumen.

Di lain pihak, didapati sejumlah komoditas yang meredam laju inflasi lantaran mengalami koreksi harga. Komoditas dimaksud di antaranya tomat, bawang putih, telur ayam ras, pengharum cucian atau pelembut, kelapa, parfum, sawi putih, sabun mandi, sabun deterjen bubuk, dan ketimun.

Untuk pergerakan bulanan, inflasi sebesar 0,10% pada Juni 2026 dominan dipengaruhi oleh merangkaknya harga bensin dan beras. 

Beberapa komoditas lain yang ikut menyumbang inflasi bulanan yakni wortel, daging sapi, bawang putih, ketupat atau lontong sayur, roti bakar, daun bawang, telepon seluler, serta kentang.

Sementara itu, beberapa komoditas didapati turun harga dan tampil sebagai penyumbang utama deflasi bulanan, antara lain daging ayam ras, cabai merah, jeruk, cabai rawit, telur ayam ras, melon, tisu, sawi hijau, ketimun, serta tarif kereta api.

Menilik kelompok pengeluaran, makanan, minuman, dan tembakau menyumbang porsi terbesar terhadap inflasi tahunan dengan andil sebesar 1,59%. Berikutnya, sektor penyediaan makanan dan minuman atau restoran menyumbang 0,45%, transportasi 0,33%, pendidikan 0,21%, kesehatan 0,08%, perlengkapan rumah tangga 0,06%, pakaian dan alas kaki 0,05%, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,04%, perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,04%, perumahan 0,03%, serta rekreasi, olahraga, dan budaya senilai 0,02%.

Menurut Samiran, fluktuasi harga pada Juni memperlihatkan tekanan inflasi masih dikuasai oleh kelompok pangan dan energi. Kendati begitu, adanya koreksi harga pada beberapa komoditas hortikultura dan keperluan rumah tangga ikut menyokong dalam mengerem laju inflasi agar tidak melonjak lebih tinggi.

Terkini