Harga Cabai Rawit Merah Sentuh Angka 63 Ribu Rupiah per Kilogram

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:22:01 WIB
Petani cabai rawit.

JAKARTA - Harga cabai rawit merah di tingkat konsumen kembali merangkak naik secara drastis hingga menembus nominal Rp63 ribu per kilogram.

Akan tetapi, di tengah melambungnya harga yang wajib dibayarkan oleh masyarakat di pasar, para petani justru mengaku sama sekali belum memperoleh keuntungan yang proporsional dari hasil bumi mereka.

Anomali ini dirasakan secara nyata oleh para pembudidaya cabai rawit yang berada di kawasan Desa Blender, Kecamatan Karangwareng, Kabupaten Cirebon.

Kendati banderol komoditas cabai di sejumlah pasar tradisional maupun modern terus meroket, angka jual di tingkat petani terpantau masih tertahan di kisaran Rp17 ribu per kilogram.

Berdasar kompilasi data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) kelolaan Bank Indonesia, harga cabai rawit merah pada level konsumen menyentuh Rp63.900 per kilogram, sedangkan tipe cabai merah keriting berada di rentang Rp30 ribu sampai Rp51.600 per kilogram.

Sementara itu, untuk komoditas cabai merah besar berada di kisaran Rp44 ribu hingga Rp51.800 per kilogram, lalu jenis cabai rawit hijau diperdagangkan antara Rp31 ribu sampai Rp50.150 per kilogram.

Kesenjangan nilai jual yang sangat lebar antara produsen dan konsumen ini memicu keprihatinan, karena saat publik terbebani harga tinggi, petani justru tidak menikmati hasil maksimal dari jerih payah budidaya mereka.

Menurut salah satu petani cabai rawit di Desa Blender, Jaelani, nominal jual dari hasil panen sekarang ini masih belum beranjak dari angka Rp17 ribu per kilogram.

Nominal tersebut dirasa belum mampu menutup ongkos produksi secara optimal, terlebih komponen biaya perawatan serta kebutuhan operasional tanaman terus merangkak naik.

Bukan hanya masalah harga jual yang rendah, tingkat produktivitas dari tanaman cabai juga merosot tajam akibat pengaruh faktor cuaca yang tidak menentu selama beberapa bulan ke belakang.

“Kemarin-kemarin hujan masih ada, kondisi tanah yang kurang ideal, serta musim tanam yang tidak menentu membuat pertumbuhan tanaman cabai menjadi kurang maksimal.”

“Akibatnya, jumlah buah yang dihasilkan jauh lebih sedikit dibandingkan kondisi normal,” katanya.

Jaelani sendiri menggarap lahan tanaman cabai rawit dengan total luas mendekati 5 hektare, namun hingga detik ini kuantitas panen yang didapatkan masih sangat jauh dari target.

Bahkan sepanjang siklus musim tanam yang tengah berjalan, kelompok petani setempat baru bisa melaksanakan dua kali proses pemetikan dengan volume produksi yang sangat minim.

Guna mengumpulkan sekitar 2 kuintal cabai rawit, petani dipaksa memanen area lahan hingga seluas 2 hektare.

Kondisi tersebut memperlihatkan performa panen komoditas hortikultura ini mengalami penurunan yang sangat drastis jika disandingkan dengan periode tanam sebelumnya.

Di samping persoalan faktor alam, minimnya ketersediaan tenaga kerja pemetik di wilayah setempat juga menjadi rintangan krusial tersendiri.

“Disini sulit nyari orang yang mau metik cabai, sehingga proses panen tidak dapat dilakukan secara maksimal,” imbuhnya.

Imbasnya, target tonase produksi yang sudah diproyeksikan dari awal kerap kali meleset dari rencana, sehingga menambah beban psikologis bagi petani yang sejatinya berharap mendapat margin laba saat harga pasar melonjak.

Para petani sangat berharap dinamika cuaca bisa segera kondusif agar tanaman cabai mereka dapat kembali tumbuh subur dan produktif.

Mereka pun mengharapkan intervensi dari pihak pemerintah melalui program bimbingan budidaya, restorasi kualitas lahan, hingga suplai bantuan obat penangkal hama penyakit tanaman.

Berdasarkan penuturan Jaelani, kombinasi cuaca buruk dan sebaran penyakit tanaman menjadi pemicu utama matinya kesuburan pohon cabai sehingga buah tidak lebat dan merusak hasil panen.

Selain hal itu, petani meminta ketegasan pemerintah dalam mengontrol stabilitas harga pasar agar selisih harga antara petani dan konsumen tidak terlampau timpang.

Lebarnya jurang perbedaan harga jual cabai saat ini mengindikasikan adanya kendala struktural yang belum terurai dalam alur rantai distribusi serta tata niaga sektor pertanian.

Ketika banderol di pasar meroket tajam, keuntungan riil yang mengalir ke kantong petani justru sama sekali tidak menunjukkan tren peningkatan yang berarti.

Realita ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi instansi pemerintah dan pemangku kebijakan untuk segera membenahi sistem logistik pertanian agar tercipta keadilan bagi semua lini.

Terkini