Kinerja Perusahaan BUMN Melonjak Signifikan di Bawah Naungan Danantara

Minggu, 05 Juli 2026 | 18:03:01 WIB
Ilustrasi Gedung Danatara.

JAKARTA - Kinerja operasional dan keuangan dari sejumlah perusahaan pelat merah terpantau mengalami tren perbaikan yang sangat signifikan.

Pencapaian positif tersebut terekam sepanjang periode April 2025 hingga April 2026 atau selama kurun satu tahun belakangan sejak Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia resmi dibentuk.

Berlandaskan dokumen publikasi resmi, seluruh entitas BUMN yang bernaung di bawah payung Danantara dilaporkan telah merampungkan penyusunan Laporan Keuangan Tahun Buku 2025 per tanggal 30 Juni 2026.

Walaupun berkas laporan konsolidasi pada level induk korporasi masih dalam proses audit, perilisan kinerja sektoral ini dinilai menjadi indikator awal guna mengukur efisiensi dari transformasi terintegrasi tersebut.

Lembar catatan performa setahun terakhir ini mempertontonkan pertumbuhan profit yang merata, di mana PT Pertamina (Persero) memimpin lewat lonjakan laba bersih sebesar 80 persen menjadi Rp24,9 triliun.

Langkah serupa juga diikuti PT Pupuk Indonesia yang sukses mencetak lompatan keuntungan bersih hingga 202 persen ke posisi Rp4,8 triliun setelah mengubah skema bisnis menjadi model mark-to-market.

Sementara pada lini logistik maritim, PT Pelabuhan Indonesia (Persero) tercatat sukses mengamankan perolehan laba senilai Rp1,5 triliun, atau meroket sebesar 169 persen jika disandingkan dengan realisasi tahun lalu.

Dampak positif dari penataan portofolio oleh Danantara Asset Management (DAM) juga sukses menstimulus pembalikan performa finansial dari deretan emiten yang sempat berada dalam kondisi tertekan.

Sebagai contoh, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) dilaporkan berhasil membebaskan diri dari zona kerugian dengan mengantongi laba Rp635 miiliar usai memangkas kepemilikan utang menjadi US$1,1 miliar.

COO Danantara, Dony Oskaria memaparkan bahwa lompatan margin margin keuntungan tersebut bersumber dari kebijakan pemotongan jalur transaksi berlapis yang kerap terjadi antara induk BUMN dan pihak anak usaha.

"Efisiensi yang paling besar sebetulnya datangnya dari layering transaction, karena umumnya anak perusahaan mengerjakan pekerjaan induknya," ujar Dony Oskaria dalam keterangan resminya, dikutip pada Jumat (3/7/2026).

Skema penyederhanaan birokrasi transaksi ini dikalkulasikan sanggup menghemat dana inefisiensi operasional hingga Rp30 triliun per tahun, serta Rp20 triliun dari hasil penutupan unit anak usaha yang merugi.

CEO Danantara, Rosan Roeslani menambahkan bahwa penataan ulang peran strategis dari entitas milik negara ini tidak boleh dipandang sebatas instrumen pemburu keuntungan bersih semata.

Menurut pandangan Rosan, visi penciptaan nilai dalam jangka panjang wajib berjalan selaras dengan kontribusi riil yang dapat dirasakan langsung oleh beraneka lapisan masyarakat ekonomi bawah.

“BUMN semata-mata tidak hanya mengejar dari segi laba, tetapi juga harus dirasakan kehadirannya ke masyarakat,” ujarnya baru-baru ini.

Di luar agenda restrukturisasi internal, pihak Danantara juga mulai mengeksekusi mandat investasi dengan memanfaatkan dividen BUMN 2025 guna menyuntik modal bagi proyek strategis nasional.

Beberapa program kerja yang mulai mendapatkan kucuran dana segar mencakup ekspansi ekosistem Haji dan Umrah di wilayah Makkah demi memperkokoh kedudukan ekonomi global milik Indonesia.

Selain itu, instrumen pendanaan juga dialokasikan untuk pembangunan proyek Waste-to-Energy (WTE) sebagai bagian dari akselerasi transisi menuju ekosistem ekonomi hijau yang berkelanjutan.

Terkini