Kerap Pakai High Heels? Simak Tips Dokter Biar Kaki Bebas Nyeri

Senin, 06 Juli 2026 | 03:17:31 WIB
Panduan Aman Pakai Sepatu Hak Tinggi Menurut Dokter Spesialis [FOTO: NET].

JAKARTA - Daya tarik mengenakan sepatu hak tinggi untuk menunjang penampilan agar tampak anggun memang sulit untuk ditepis. Kendati demikian, di balik pesona estetikanya, jenis alas kaki ini kerap kali memicu persoalan serius bagi kesehatan area kaki serta persendian lutut. Cukup banyak pengguna yang pada akhirnya terpaksa menjalani perawatan medis oleh dokter akibat keluhan rasa sakit yang menahun.

"Sepatu hak tinggi adalah salah satu penyebab paling umum dari nyeri kaki kronis pada wanita," ungkap podiatris sekaligus ahli bedah kaki dan pergelangan kaki, dr. Ebonie Vincent-Sleet, Minggu (5/7/2026).

Ia mengutarakan bahwa dirinya kerap menangani pasien yang menderita masalah neuroma, bunion, hammer toe, patah tulang akibat tekanan (fraktur stres), bahkan gejala radang sendi dini, yang dipicu atau diperparah oleh kebiasaan memakai sepatu hak tinggi dalam jangka waktu yang panjang.

Pakar podiatris dr. Anne Sharkey mengimbau bahwa efek merugikan tersebut umumnya bukan bersumber dari aktivitas pemakaian sepatu hak tinggi yang dilakukan sekali dua kali saja.

"Ini adalah efek kumulatif selama bertahun-tahun akibat memakai sepatu trendi tapi tidak pas dan tidak menopang kaki," jelas dia.

Panduan memilih sepatu hak tinggi yang aman

Batas ideal 5 sentimeter Sebagian besar ahli medis merekomendasikan batas toleransi maksimal untuk ketinggian hak sepatu adalah 5 sentimeter (cm).

"Itu adalah ketinggian yang didasarkan pada studi berbasis bukti ilmiah," kata podiatris dan spesialis kaki dan pergelangan kaki, dr. Hira H. Mirza.

Sejumlah penelitian membuktikan bahwa hak dengan ketinggian 7,6 cm dapat memicu lonjakan tekanan pada area kaki bagian depan hingga mencapai 76 persen jika disandingkan dengan penggunaan alas kaki yang rata. Sementara itu, hak berukuran tinggi 5 cm memicu kenaikan tekanan sebesar 57 persen, dan hak setinggi 2,5 cm memberikan tekanan sebesar 22 persen.

"Sebagian besar orang dapat mempertahankan biomekanik yang lebih baik, sambil tetap mengenakan sepatu bergaya, asalkan mereka mematuhi pedoman 5 cm ke bawah," terang dr. Mirza.

Dokter Vincent-Sleet menimpali bahwa saat seseorang mulai melewati ambang batas ukuran 5 cm tersebut, maka struktur biomekanik pada kaki akan mulai beralih secara drastis.

"Berat badanmu terdorong ke depan menuju telapak kaki, menegangkan tulang metatarsal, memperpendek tendon Achilles, dan membahayakan stabilitas pergelangan kaki. Seiring berjalannya waktu, hal ini menyebabkan nyeri dan cedera kronis," jelas dia.

Perhatikan struktur dan model sepatu Selain mengukur tingkat ketinggian, rancangan model dari alas kaki juga memegang peran krusial dalam menentukan level kenyamanan bagi pemakainya. Jauhi pemilihan sepatu yang memiliki ujung runcing karena berisiko mengakibatkan kelainan bunion serta jepitan pada jaringan saraf.

Model platform heels diklaim menjadi opsi yang paling aman, lantaran konsep desainnya mampu menaikkan posisi tumit sekaligus area telapak depan secara berbarengan, sehingga dapat mereduksi tingkat kemiringan serta ketegangan pada bagian otot betis.

Di sisi lain, model block heels serta wedge heels menawarkan topangan pijakan yang jauh lebih stabil dibandingkan model stiletto. Keunggulan ini membuat distribusi bobot tubuh dapat tersebar secara merata sekaligus memperkecil risiko pergelangan kaki terkilir. Penggunaan sepatu dengan ujung terbuka (open-toe) juga amat disarankan supaya posisi jari-jari kaki tidak mengalami kram.

Bila kamu tetap berkeinginan memakai jenis sepatu yang dilengkapi tali, jatuhkan pilihan pada model tali pengikat yang tebal di bagian depan serta pergelangan. Hal ini berguna untuk mengunci posisi kaki dengan kokoh agar tidak gampang tergelincir ke depan.

"Kaki kami adalah fondasi pergerakan kami, dan kerugian dari pilihan alas kaki sering kali tidak disadari sampai rasa sakit itu muncul," ujar dr Sharkey.

"Kecantikan tidak seharusnya mengorbankan mobilitasmu. Lewat beberapa penyesuaian dan rencana strategis dalam memakai sepatu hak tinggi, kamu tetap bisa tampil gaya sekaligus melindungi kakimu," tambah dia.

Pakar podiatris dr. Jacqueline Donovan turut menyepakati pandangan tersebut. Menurut penuturannya, penggunaan sepatu hak tinggi pada dasarnya bukan merupakan suatu hal yang sepenuhnya buruk, namun faktor pembatasan intensitas beserta kesadaran diri adalah aspek kuncinya.

"Saya selalu memberi tahu pasien saya bahwa mereka tidak perlu berhenti total mengenakan sepatu hak tinggi, tetapi mereka harus memikirkan tujuannya. Ketahui batasan, prioritaskan penyangga, dan beri kaki istirahat kapan pun mereka bisa," ucap dia.

Selaras dengan pernyataan dr. Donovan, dr. Vincent-Sleet menekankan kembali bahwa munculnya rasa sakit semestinya bukan menjadi konsekuensi yang wajib ditebus demi mengejar sebuah keindahan penampilan fisik.

"Jika kamu mendapati dirimu menghindari acara jalan-jalan atau berjalan tertatih-tatih usai menghadiri sebuah acara, maka sepatu hak tinggimu tidak sepadan. Dengarkan kakimu, karena mereka sedang mencoba memberi tahu kamu sesuatu," pungkas dr. Vincent-Sleet.

Terkini