Babak Baru Industri Fintech Indonesia Mulai Fokus Kejar Profit

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:03:02 WIB
Ilustrasi teknologi finansial atau fintech.

JAKARTA - Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) menyatakan bahwa industri teknologi finansial (fintech) di dalam negeri saat ini sudah melangkah ke babak baru. Fase ini diwarnai dengan pergeseran fokus para pelaku usaha yang kini lebih memprioritaskan profitabilitas serta penguatan fundamental bisnis.

Ketua Dewan Etik Aftech, Harun Reksodiputro, menguraikan bahwa perjalanan industri fintech dalam kurun waktu satu dekade terakhir memperlihatkan dinamika perubahan yang amat besar. Pada masa awal perkembangannya, mayoritas pelaku industri masih bergelut untuk menemukan keselarasan produk dengan kebutuhan pasar.

Namun saat ini, lanskap bisnis tersebut sudah jauh berubah seiring dengan bermunculannya perusahaan fintech yang memiliki fondasi bisnis jauh lebih kokoh. Sektor digital ini pun telah menjelma menjadi instrumen krusial bagi ekosistem keuangan tanah air.

"Kalau 10 tahun lalu kami bicara tentang startup yang sedang mencari product-market fit, hari ini kami melihat semakin banyak fintech dengan fundamental yang jauh lebih kuat, memasuki fase profitabilitas, mengakses pasar modal, dan menjadi bagian penting dari sistem keuangan nasional," ujarnya dalam Indonesia Digital Bank Summit, Senin (7/7).

Harun memaparkan bahwa pergeseran tren bisnis ini bergulir di tengah pengetatan aliran dana investasi global yang kini jauh lebih selektif. Kendati demikian, sektor fintech dinilai masih menjadi magnet utama yang paling sukses menjaring modal bagi ekosistem startup di Indonesia.

Di samping itu, tolok ukur keberhasilan di dalam industri finansial digital ini juga telah mengalami reorientasi yang fundamental. Penilaian kemajuan sektor ini tidak lagi bersandar pada kuantitas atau banyaknya jumlah perusahaan rintisan baru yang bermunculan di pasar.

Indikator kesuksesan kini lebih dititikberatkan pada daya tahan operasional korporasi dalam jangka panjang. Kemampuan dalam memelihara kepercayaan masyarakat serta kontribusi konkretnya bagi pertumbuhan ekonomi makro menjadi variabel penentu yang utama.

"Keberhasilan fintech hari ini kami ukur bukan dari berapa banyak startup yang lahir, tetapi dari berapa banyak institusi yang mampu bertahan, dipercaya, dan memberikan dampak nyata bagi perekonomian," katanya.

Ia menggarisbawahi bahwa seiring dengan semakin krusialnya kontribusi sektor fintech bagi sistem keuangan negara, maka hambatan yang membayangi industri pun ikut meningkat. Berbagai ancaman digital mulai dari fraud, serangan siber, hingga eksploitasi AI kini menjadi tantangan serius.

Oleh sebab itu, Harun memprediksi bahwa kompetisi bisnis di masa mendatang tidak lagi sekadar menguji kecepatan korporasi dalam melahirkan inovasi digital. Aspek penentu kemenangan di pasar akan sangat bergantung pada efektivitas sistem pertahanan dalam mengamankan data konsumen.

"Trust is the key. Perlombaan berikutnya adalah siapa yang paling mampu mempertahankan kepercayaan konsumen," ujarnya.

Menurut pandangan Harun, masa transisi industri ini memerlukan sokongan berupa jalinan sinergi yang lebih erat antara pelaku usaha, regulator, dan pihak asosiasi. Langkah kolektif ini penting demi menciptakan pertumbuhan jasa keuangan digital yang sehat dan berkelanjutan bagi publik.

Terkini