Simak Bahaya Duduk Terlalu Lama bagi Kesehatan Tubuh Manusia

Rabu, 08 Juli 2026 | 04:59:01 WIB
Ilustrasi Sedang Duduk.

JAKARTA — Sudah bukan rahasia lagi bahwa durasi duduk yang terlampau lama memiliki dampak yang buruk bagi kondisi kesehatan tubuh. Namun, apa sajakah efek negatif nyata dari kebiasaan terlalu lama duduk tersebut?

Duduk dengan rentang waktu yang lama tampaknya telah menjelma menjadi gaya hidup harian bagi mayoritas kalangan masyarakat di era modern. Rutinitas pekerjaan menuntut banyak individu untuk terus bersandar di depan laptop selama berjam-jam.

Padahal, aktivitas duduk konstan kerap disejajarkan dengan istilah sedentary lifestyle alias sebuah pola hidup yang sangat minim akan pergerakan fisik. Tabiat sedenter ini terbukti mampu merusak kebugaran tubuh secara gradual.

Lantaran efeknya yang teramat krusial, beberapa praktisi medis serta media massa melabeli kebiasaan duduk berdurasi lama ini lewat julukan the new smoking. Duduk yang melampaui batas wajar dinilai memiliki kadar bahaya yang setara dengan aktivitas merokok.

Guna memperoleh gambaran yang lebih transparan, cermati beberapa efek buruk dari kebiasaan duduk terlalu lama di bawah ini. Bersumber dari rangkuman bermacam literatur, seluruh poin berikut telah dibuktikan lewat kajian ilmiah.

Meningkatkan risiko kematian akibat kanker Poin ini bersumber dari studi kontemporer yang membahas seputar efek buruk dari durasi duduk yang berlebihan. Menukil laporan The Guardian, berdiam diri dalam posisi duduk melampaui 30 menit tiap harinya terdeteksi sanggup menaikkan ancaman kanker.

Riset yang dimuat pada jurnal PLoS Medicine ini dikerjakan dengan memantau perkembangan lebih dari 900 ribu orang selama rentang waktu satu dekade. Potensi kematian yang disebabkan oleh kanker didapati bakal terus menanjak pada setiap penambahan jam duduk.

Walau demikian, tim peneliti turut menjumpai fakta bahwa menyelingi aktivitas duduk yang melewati batas 30 menit dengan gerakan fisik dapat efektif memangkas risiko tersebut. Upayakan untuk aktif bergerak tiap 30 menit serta melakukan jalan-jalan kecil karena metode ini membawa faedah melimpah bagi tubuh.

"Data kami menunjukkan bahwa duduk selama lebih dari 30 menit berturut-turut sangat terkait dengan risiko kanker yang lebih tinggi. Kabar baiknya, mengurangi waktu duduk dengan sesuatu yang sederhana seperti berjalan kaki dapat memberikan perlindungan," ujar penulis utama studi dari Glasgow University, Frederick Ho.

Ho memaparkan bahwa panduan baku saat ini pada umumnya lebih menitikberatkan pada gerakan fisik dengan level intensitas menengah hingga tinggi. Kendati begitu, pergerakan dalam skala ringan pun tidak boleh dikesampingkan begitu saja.

Meningkatkan risiko obesitas Mengutip ulasan Better Health, mengaktifkan pergerakan pada otot dapat menolong sistem tubuh dalam mengurai kandungan lemak serta gula yang masuk lewat makanan. Apabila waktu harian hanya habis untuk duduk, maka sistem pencernaan tidak dapat beroperasi secara maksimal.

Konsekuensinya, unsur lemak serta gula akan mengendap di dalam tubuh hingga memicu problem kegemukan atau obesitas.

Kajian riset menyebutkan bahwa aktivitas fisik dengan skala sedang selama 60 hingga 75 menit setiap harinya amat diperlukan demi menangkal bahaya dari durasi duduk yang berlebih.

Masalah pada punggung Bagian pinggul serta tulang punggung tidak bakal mampu menyangga postur tubuh secara optimal apabila Anda terbiasa duduk dalam jangka waktu yang kelewat lama. Aktivitas duduk memaksa otot fleksor di area pinggul mengalami pemendekan, yang mana situasi ini berisiko memicu problem pada persendian pinggul.

Duduk dalam durasi panjang juga sanggup mendatangkan keluhan pada area punggung, terlebih jika Anda duduk memakai posisi tubuh yang keliru. Postur yang tidak ideal dapat memperburuk tingkat kesehatan tulang belakang, layaknya terjadinya penekanan pada bantalan cakram tulang belakang.

Kecemasan dan depresi Minimnya pergerakan fisik memiliki keterikatan timbal balik dengan kemunculan masalah pada mental, contohnya rasa cemas. Fakta ini berhasil dibuktikan melalui sebuah ulasan ilmiah yang dirilis dalam BMC Public Health.

"Temuan dari tinjauan kami menunjukkan bahwa menghabiskan waktu lama dalam sehari dengan duduk dikaitkan dengan peningkatan risiko kecemasan," ujar penulis utama Megan Teychenne, mengutip Psychology Today.

Rasa cemas yang melanda sanggup menguras cadangan energi sekaligus mengikis motivasi seseorang untuk aktif bergerak. Semakin pasif pergerakan tubuh seseorang, maka akan semakin besar pula peluang bagi dirinya untuk diserang problem kecemasan serta depresi.

Penyakit jantung Poin ini pun sudah bukan menjadi sebuah rahasia umum lagi, di mana durasi duduk yang kelewat lama sanggup membawa imbas buruk terhadap tingkat kesehatan organ jantung.

Menilik laporan The Harvard Gazette, sebuah kajian riset menunjukkan bahwa pola hidup sedenter mampu melipatgandakan risiko penyakit jantung, bahkan pada kalangan individu yang terhitung aktif berolahraga sekalipun.

Salah satu contohnya ialah risiko keluhan gagal jantung serta kematian akibat insiden kardiovaskular yang kedapatan menanjak berkisar 40 hingga 60 persen tatkala seseorang malas bergerak atau tidak melakukan aktivitas fisik melampaui 10,6 jam per harinya.

"Risiko gaya hidup sedentari tetap ada bahkan pada orang yang aktif secara fisik," ujar penulis utama studi dan ahli kardiologi Ezimamaka Ajufo.

Diabetes Riset terpisah yang dimuat pada jurnal Annals of Internal Medicine mendapati fakta bahwa minimnya pergerakan tubuh turut andil mendongkrak risiko penyakit diabetes.

Akan tetapi, mengutip publikasi Harvard Health Publishing, sejauh ini belum diketahui secara pasti bagaimana sistem biologis duduk berlebih dapat memantik diabetes. Hanya saja, para praktisi sepakat bahwa fenomena ini dipicu oleh terganggunya efisiensi metabolisme gula serta lemak sewaktu tubuh terlalu konstan dalam posisi duduk.

"Keduanya [metabolisme gula dan lemak] memengaruhi risiko seseorang terkena diabetes dan penyakit jantung," ujar ahli kedokteran Harvard Medical School, I-Min Lee.

Masalah pembuluh darah Berada dalam posisi duduk dengan durasi yang lama dapat memicu kemunculan varises. Pasalnya, posisi duduk membuat aliran darah cenderung mandek dan menumpuk di area kaki.

Meskipun pada umumnya tidak tergolong berbahaya, namun dalam beberapa situasi tertentu, gangguan varises sanggup memicu terjadinya pembekuan darah.

Di samping itu, terlalu lama duduk juga berpotensi memicu penyakit trombosis vena dalam atau deep vein thrombosis (DVT). Istilah medis ini merujuk pada kondisi ditemukannya gumpalan darah yang terbentuk di dalam jaringan pembuluh vena kaki.

DVT tergolong sebagai problem kesehatan yang serius. Apabila sebagian dari gumpalan darah tersebut terlepas lalu bergerak, maka pasokan aliran darah menuju bagian organ tubuh yang lain ikut terhambat, termasuk ke area paru-paru yang berisiko menyulut emboli fatal.

Manusia yang hidup di era modern ini barangkali tidak akan bisa mengelak sepenuhnya dari rutinitas duduk dalam waktu yang lama. Namun, dengan memahami aneka bahaya dari duduk terlalu lama di atas, Anda dapat merumuskan langkah-langkah simpel untuk mengimbanginya.

Sebagai contoh, sisihkan sedikit waktu untuk melakukan pergerakan ringan setelah Anda berada dalam posisi duduk selama sekitar 30 menit. Aplikasikan kiat ini secara konsisten, maka secara bertahap berbagai bahaya yang mengancam akibat duduk lama dapat direduksi.

Terkini