JAKARTA — PT Astra International Tbk. (ASII) dan PT Alam Sutera Realty Tbk. (ASRI) mulai menyusun strategi dalam merespons kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) ke level 5,5%.
Kedua emiten tersebut memandang bahwa tingginya biaya pendanaan berisiko menekan daya beli masyarakat, sehingga mendorong perusahaan untuk bersikap lebih waspada dalam menjaga pertumbuhan bisnis. Kenaikan suku bunga ini menjadi sorotan utama bagi sektor yang sangat bergantung pada pembiayaan, seperti properti, otomotif, dan jasa keuangan.
Head of Corporate Investor Relations Astra International, Tira Ardianti, menyatakan bahwa suku bunga yang lebih tinggi pada dasarnya dapat memengaruhi biaya pendanaan dan daya beli konsumen di berbagai sektor. Walau begitu, ia menilai dampak terhadap kinerja grup tidak akan seragam karena Astra memiliki portofolio usaha yang terdiversifikasi.
"Terkait kenaikan BI Rate, secara umum suku bunga yang lebih tinggi dapat memengaruhi daya beli konsumen dan biaya pendanaan di beberapa sektor. Namun, dampaknya terhadap masing-masing lini bisnis Perseroan dapat berbeda-beda mengingat Astra memiliki portofolio usaha yang terdiversifikasi," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (10/6/2026).
Menurut Tira, segmen otomotif dan jasa keuangan merupakan lini bisnis yang paling sensitif terhadap kenaikan suku bunga karena sangat bergantung pada pembiayaan konsumen. Untuk memitigasi risiko ini, perseroan memperkuat manajemen risiko pada sektor pembiayaan dengan menjaga kualitas aset, profitabilitas, serta mengelola biaya pendanaan secara disiplin.
Selain itu, Astra menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan kredit guna menjaga kualitas portofolio di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu.
Sikap kehati-hatian serupa juga diterapkan di sektor properti. Direktur Corporate Finance Alam Sutera Realty, Edward Tanuwijaya, mengungkapkan bahwa kenaikan suku bunga dan ketidakpastian ekonomi menuntut perusahaan untuk bekerja lebih ekstra dalam mempertahankan laju penjualan.
"Keadaan pasar bisa dibilang mirip-mirip dengan tahun lalu untuk Alam Sutera. Kami masih fokus pada strategi marketing sales yang sama," katanya.
Untuk memacu pertumbuhan penjualan, Alam Sutera mengandalkan strategi diversifikasi produk, yakni dengan berfokus pada penjualan hunian serta rumah toko di berbagai rentang harga. Selain itu, perseroan terus memperkuat sumber pendapatan berulang (recurring income) melalui penyewaan gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, hingga pengelolaan kawasan wisata Garuda Wisnu Kencana (GWK).
Di tengah tantangan suku bunga tinggi, ASRI berharap pemerintah tetap konsisten melanjutkan kebijakan pendukung sektor properti, seperti insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP).