JAKARTA – Di tengah tren penguatan indeks dolar AS (DXY) dan pelemahan nilai tukar rupiah, instrumen reksadana berbasis dolar Amerika Serikat (USD) dinilai tetap menawarkan prospek menarik bagi investor domestik.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa kinerja reksadana USD sangat bergantung pada kelas aset yang mendasari portofolionya.
Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Eri Kusnadi, menjelaskan bahwa performa produk sangat dipengaruhi oleh instrumen yang dipilih.
"Kalau berbasis saham USD, tergantung saham negara mana yang diinvestasikan. Kalau obligasi, saya rasa lebih terpengaruh oleh suku bunga The Fed," ujar Eri, Kamis (11/6/2026).
Ia menambahkan bahwa kebijakan suku bunga AS ke depan akan menjadi penentu utama stabilitas pasar saham dan koreksi pada pasar obligasi.
Meski demikian, Eri menekankan bahwa fungsi utama berinvestasi pada reksadana berbasis USD bukan sebagai alat spekulasi nilai tukar, melainkan sebagai sarana diversifikasi aset untuk menyeimbangkan portofolio.
"Sebenarnya reksadana USD itu utamanya untuk diversifikasi aset. Jadi bukan karena rupiah melemah atau menguat," tegasnya. Investor disarankan untuk tidak menunggu momentum kurs tertentu jika memang membutuhkan eksposur terhadap pasar global.
Sejumlah produk reksadana berbasis USD telah mencatatkan performa positif sepanjang tahun 2026.
Data Infovesta Utama per 8 Juni 2026 menunjukkan Panin Global Sharia Equity Fund memimpin dengan return 47,19% YTD, diikuti oleh Mandiri Asia Sharia Equity Dollar Kelas B (38,19% YTD) dan Kelas A (36,80% YTD).
Selain itu, produk dari Batavia Prosperindo Aset Manajemen, seperti Batavia Technology Sharia Equity USD, juga berhasil mencetak return dua digit sebesar 21,51% YTD.