Hidup Terasa Berat Meski Rutinitas Lancar? Kenali Kondisi Languishing

Hidup Terasa Berat Meski Rutinitas Lancar? Kenali Kondisi Languishing
Illustrasi Kondisi Languishing.

JAKARTA - Pernahkah kamu merasa bahwa hidup terasa lebih berat padahal rutinitas sehari-hari berhasil dilalui sebagaimana mestinya? Jika iya, mungkin kamu tidak sendirian saat ini.

Lonjakan harga kebutuhan, ketidakpastian pekerjaan, masa depan yang sukar ditebak, serta paparan kabar buruk di media sosial terus menghantui. Di tengah situasi tersebut, banyak orang merasakan beban hidup yang kian berat, walaupun dari luar tampak baik-baik saja.

Psikolog Arnold Lukito menyatakan bahwa kondisi ini dapat terjadi lantaran kesehatan mental tidak selalu terbagi menjadi dua kutub antara sehat atau sakit. Terdapat ruang di antaranya, yakni saat seseorang tidak mengalami depresi, namun juga tidak benar-benar merasa hidupnya memiliki makna.

Dalam psikologi, kondisi tersebut disebut sebagai languishing. Seseorang masih mampu bekerja, berinteraksi, dan menjalani rutinitas, tetapi di dalam batin merasa hampa, datar, atau sekadar bertahan hidup.

Menurut Arnold, banyak orang terlihat baik-baik saja karena sedang memainkan peran di hadapan orang lain. Istilah psikologi menyebutnya sebagai emotional labor, yaitu energi yang dikerahkan untuk menampilkan emosi yang dirasa pantas.

"Ironisnya, makin jago seseorang terlihat baik-baik saja, makin besar energi yang sebetulnya diam-diam terkuras," ujar Arnold pada CNNIndonesia.com, Kamis (11/6).

Arnold menjelaskan, tekanan ekonomi, ketidakpastian masa depan, dan paparan berita buruk mampu membuat mental merasa lelah. Dampaknya sering kali tidak muncul dari satu peristiwa besar, melainkan akibat tekanan kecil yang terjadi terus-menerus.

Ia mengibaratkan stres akut seperti tembok yang rusak karena sekali pukulan. Sementara itu, stres kronis ibarat tembok yang perlahan rusak akibat rembesan air.

Akumulasi tekanan ini disebut allostatic load, yaitu keausan tubuh akibat terlalu lama berada dalam mode siaga.

"Analoginya seperti HP dengan puluhan aplikasi yang aktif di background. Layarnya terlihat normal, tapi baterai tersedot habis," jelas Arnold.

Oleh karena itu, seseorang tidak perlu memiliki masalah besar untuk merasa terbebani. Terkadang, hal yang melelahkan justru berasal dari banyak kekhawatiran kecil yang terus menyala di belakang pikiran.

Menurut Arnold, ketidakpastian sering kali lebih menguras tenaga dibandingkan kabar buruk yang sudah jelas. Ia merujuk riset de Berker pada 2016 yang menunjukkan bahwa orang bisa merasa lebih stres saat menghadapi kemungkinan buruk yang belum pasti dibanding saat mengetahui kabar buruk yang sudah nyata.

"Otak lebih tidak suka ketidaktahuan atau ketidakpastian dibandingkan kabar buruk," ujar Arnold.

Dalam konteks Indonesia saat ini, pertanyaan seperti 'apakah uang cukup sampai akhir bulan?', 'bagaimana kalau harga kian naik?', atau 'apakah pekerjaan kami aman?' dapat membuat tubuh senantiasa berada dalam mode waspada.

Arnold juga mengutip metafora dari neurobiolog Robert Sapolsky dalam buku Why Zebras Don't Get Ulcers. Zebra akan merasa stres saat dikejar singa, lalu kembali tenang setelah berhasil lolos. Manusia berbeda karena mampu merasa terus 'dikejar singa' dalam kepala lewat pikiran 'bagaimana kalau begini' dan 'bagaimana kalau begitu'.

Akibatnya, seseorang bisa lebih mudah cemas, cepat lelah, sensitif, sulit tidur, atau gampang tersulut oleh hal kecil.

Paparan berita negatif pun dapat memperkuat rasa takut. Arnold menyebut adanya negativity bias, yaitu kecenderungan otak yang lebih peka terhadap hal buruk dibandingkan hal baik.

Riset Baumeister berjudul Bad Is Stronger Than Good menjelaskan bahwa hal buruk memang cenderung lebih kuat ditangkap otak. Secara evolusi, manusia perlu cepat menangkap ancaman agar bisa bertahan hidup.

Masalahnya, di era media sosial, ancaman tersebut bisa muncul terus-menerus melalui layar ponsel. Doomscrolling atau kebiasaan menggulir berita buruk membuat otak merasa dunia jauh lebih berbahaya.

"Satu konten video berita buruk akan mengalahkan ratusan hari aman yang tidak kami rekam di pikiran," kata Arnold.

Kapan perlu waspada?

Lelah biasa umumnya membaik setelah beristirahat. Tidur cukup, libur, atau mengambil jeda dapat membantu tubuh kembali pulih.

Hal yang perlu diwaspadai adalah ketika istirahat tidak lagi membantu. Sudah tidur cukup, namun bangun tetap merasa lelah. Akhir pekan berlalu, tetapi hari Senin tetap terasa sangat berat.

Stres kronis atau burnout sendiri bisa ditandai dengan kelelahan emosional, sulit tidur, mudah sakit, otot tegang, sulit konsentrasi, gampang marah, merasa kosong, menarik diri, atau tidak lagi peduli pada hal yang dulu dianggap penting.

Jika kondisi ini menetap selama berminggu-minggu dan mengganggu aktivitas sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional bisa menjadi langkah yang perlu dipertimbangkan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index