JAKARTA - Kalimat seperti 'anak ini pintar ya kayak ibunya' atau 'botaknya pasti nurun dari ayah' mungkin terdengar akrab di banyak keluarga.
Anggapan seperti ini sepenuhnya bukan tanpa dasar, sebab sejumlah penelitian memang menemukan ada sifat atau risiko kesehatan tertentu yang tampak lebih kuat, dengan gen dari ibu atau ayah.
Namun, pewarisan sifat manusia pada dasarnya tidak sesederhana membagi ciri anak menjadi milik ibu atau ayah.
Pada dasarnya, setiap anak mewarisi DNA dari kedua orang tuanya. Hanya saja, pada beberapa kondisi, ada sifat yang tampak lebih dominan berasal dari salah satu pihak.
Berikut sejumlah ciri yang kerap dikaitkan dengan warisan genetik dari ibu atau ayah.
1. Kecerdasan Mengutip dari National Library of Medicine, salah satu anggapan yang paling populer adalah kecerdasan lebih banyak diwariskan dari ibu.
Gen yang berkaitan dengan kecerdasan berada pada kromosom X.
Karena perempuan memiliki dua kromosom X, sementara laki-laki hanya satu, ibu disebut punya peluang lebih besar mewariskan sifat genetik yang terkait dengan kecerdasan.
Meski begitu, kecerdasan jelas tidak dibentuk oleh gen saja. Faktor lingkungan, pendidikan, pola asuh, nutrisi, hingga kesempatan belajar juga ikut memengaruhi.
2. Risiko kanker Berbeda dari beberapa sifat yang kerap dilekatkan pada satu pihak, risiko genetik untuk kanker tertentu bisa diwariskan dari ibu maupun ayah.
Mutasi dalam gen dapat meningkatkan risiko sejumlah kanker, termasuk kanker payudara, ovarium, kolorektal, dan lainnya.
Yang kerap luput dipahami, gen pemicu risiko kanker ini tidak harus datang dari garis keluarga yang tampak sesuai.
Misalnya, gen yang meningkatkan risiko kanker payudara atau ovarium tetap bisa diwariskan dari ayah.
Karena itu, riwayat kesehatan dari kedua sisi keluarga sama pentingnya untuk diperhatikan.
3. Pola tidur Jika Anda merasa sulit tidur dan ternyata ibu juga punya keluhan serupa, mungkin itu bukan kebetulan semata.
Kecenderungan insomnia pada anak berhubungan dengan gejala mirip insomnia yang diwariskan oleh ibu.
Temuan ini menunjukkan pola tidur bisa punya komponen keturunan. Namun demikian, tentu saja faktor gaya hidup, stres, rutinitas, dan penggunaan ponsel sebelum tidur tetap berpengaruh besar.
4. Kolesterol tinggi Ada orang yang sudah menjaga pola makan dan rutin berolahraga, tetapi kadar kolesterolnya tetap tinggi.
Dalam beberapa kasus, kondisi ini memang bisa berkaitan dengan faktor genetik.
Salah satu contohnya adalah familial hypercholesterolemia, kondisi turunan yang membuat tubuh kesulitan mengatur dan membuang kolesterol dari darah.
Mutasi pada gen seperti ini bisa diwariskan dari ibu maupun ayah. Artinya, kadar kolesterol tidak hanya ditentukan kebiasaan makan, tetapi juga bisa dipengaruhi riwayat keluarga.
5. Kemampuan fokus Kemampuan fokus juga termasuk yang kerap dibahas dalam konteks genetik.
Anak dari ibu dengan kadar serotonin otak yang lebih rendah memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami ADHD di kemudian hari.
Meski demikian, fokus dan perhatian tetap merupakan kemampuan kompleks.
Faktor biologis memang ada, tetapi pola asuh, lingkungan belajar, kualitas tidur, dan kondisi psikologis juga ikut memengaruhi.
6. Gangguan penglihatan Melansir dari Reader Digest, beberapa gangguan mata tertentu seperti retinitis pigmentosa, dapat diwariskan dari orang tua.
Dalam hal ini, baik garis ibu maupun ayah sama-sama dapat berperan. Jadi, bila ada riwayat gangguan penglihatan tertentu di keluarga, informasi dari kedua sisi keluarga tetap penting diketahui.
7. Berat badan Berat badan sering dianggap hanya soal gaya hidup, padahal genetik juga punya pengaruh.
Lemak cokelat yang membantu metabolisme sehat mungkin lebih berkaitan dengan gen dari ibu.
Sementara itu, penyimpanan lemak putih terutama di sekitar organ disebut bisa sebagian dipengaruhi gen dari ayah.
Perlu diingat, bahwa berat badan tidak pernah ditentukan satu gen tunggal.
Ada banyak faktor lain, mulai dari pola makan, aktivitas fisik, serta kondisi medis.
8. Pubertas dini Waktu pubertas anak juga dipengaruhi banyak hal, termasuk genetik.
Sebuah studi yang dimuat New England Journal of Medicine menemukan, mutasi gen tertentu dari ayah dapat berkaitan dengan pubertas dini.
Jadi, jika seseorang mengalami pubertas lebih cepat dari rata-rata, faktor genetik dari ayah bisa ikut berperan.
9. Risiko gangguan memori Riwayat Alzheimer dalam keluarga memang diketahui dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit tersebut di kemudian hari.
Dalam salah satu studi, risiko genetik ini disebut lebih kuat berasal dari ibu.
Temuan ini memperlihatkan bahwa riwayat medis ibu bisa memberi petunjuk penting terkait kesehatan otak anak di masa depan.
Namun tentu saja, risiko Alzheimer juga dipengaruhi usia, gaya hidup, kesehatan pembuluh darah, dan faktor lainnya.
10. Kesuburan perempuan Sifat lain yang terdengar mengejutkan adalah soal kesuburan.
Kasus kesuburan perempuan tertentu dapat dipengaruhi gen yang diwariskan dari ayah.
Bila terjadi disfungsi genetik tertentu yang diturunkan dari ayah, maka kondisi tersebut disebut bisa berdampak pada kesuburan perempuan.
11. Kebotakan Mitos paling populer soal genetik mungkin adalah kebotakan laki-laki diturunkan dari ibu.
Ada dasar untuk anggapan ini, karena sebagian gen yang terkait kerontokan pola pria memang berada di kromosom X, yang diwariskan dari ibu.
Studi yang menganalisis lebih dari 55 ribu pria menemukan pola kebotakan jauh lebih kompleks.
Peneliti menemukan ratusan sinyal genetik yang berkaitan dengan kebotakan, dan sebagian besar tersebar di DNA yang diwarisi dari kedua orang tua.
Jadi, garis ibu memang bisa berperan, tetapi bukan satu-satunya penentu.
Dari kecerdasan, pola tidur, fokus, hingga kebotakan, memang ada sifat atau risiko tertentu yang dalam penelitian tampak lebih dekat ke ibu atau ayah.
Namun, menyederhanakan semuanya ke dalam dua kubu itu tetap kurang tepat.
Dalam banyak kasus, tubuh manusia dibentuk oleh kombinasi banyak gen yang saling berinteraksi.
Belum lagi ditambah pengaruh lingkungan, pola makan, kebiasaan hidup, pendidikan, stres, kualitas tidur, hingga kondisi kesehatan.
Artinya, jika seseorang punya kebiasaan tidur seperti ibunya, kolesterol tinggi seperti ayahnya, dan garis rambut yang mirip kakeknya, itu bukan hal aneh.
Genetik memang berperan, tetapi jarang bekerja secara tunggal.