Ikut Dinner with Stranger: Menakutkan atau Justru Seru?

Ikut Dinner with Stranger: Menakutkan atau Justru Seru?
Tren dinner with stranger.

JAKARTA - Suasana asing terasa saat puluhan orang datang satu per satu ke sebuah restoran yang cukup mewah. 

Mereka bukan teman lama, bukan rekan kerja, bukan pula orang yang sebelumnya saling mengenal. Mereka datang untuk satu alasan yang sama: bertemu orang asing.

CNNIndonesia.com mengikuti salah satu kegiatan dinner with stranger dari Mutual Friends di Jakarta. Konsepnya sederhana, yakni makan malam bersama orang-orang yang belum dikenal.

Pada sepuluh menit pertama, suasana terasa menegangkan karena minimnya interaksi. 

Namun, acara kemudian dimulai dengan permainan sederhana yang memecah kebekuan. Peserta diminta mencari orang dengan kriteria tertentu, seperti zodiak yang sama, lalu menggambar wajahnya. 

Aktivitas itu terbukti ampuh membuat orang-orang yang tadinya hanya saling melirik mulai saling menyapa, bertukar cerita, hingga tertawa bersama.

Menjelang acara berakhir, rasa khawatir yang sempat muncul di awal perlahan hilang. 

Para peserta ternyata memiliki kegelisahan yang serupa: ingin bertemu orang baru, keluar dari rutinitas, atau sekadar mencari teman mengobrol di luar lingkaran pertemanan yang sudah ada.

Saat mencari teman terasa semakin sulit

Di fase usia 20-an akhir hingga 30-an, mencari teman baru dirasa tidak semudah saat sekolah atau kuliah. 

Pertemanan tidak lagi terjadi secara otomatis. Setelah bekerja, pindah kota, atau menjalani gaya hidup kerja jarak jauh, lingkar sosial perlahan menyempit.

Bagi banyak pekerja profesional, bertemu orang asing menjadi semacam jalan pintas yang terstruktur untuk membuka ruang obrolan. 

Inisiator Mutual Friends, Bella dan Klemens, mengungkapkan bahwa platform tersebut dirancang karena keresahan akan sulitnya mencari teman baru di tengah kehidupan dewasa muda.

Fenomena serupa juga muncul di kota lain lewat platform seperti Kenal ID, yang mempertemukan orang-orang asing di Yogyakarta, Solo, Semarang, hingga Surabaya. 

Mereka tidak bertujuan untuk networking profesional atau mencari pasangan, melainkan untuk mencari teman dalam arti yang lebih personal.

Respons terhadap kehidupan perkotaan yang paradoksal

Dosen Psikologi UIN Jakarta, Ikhwan Lutfi, menjelaskan bahwa fenomena ini adalah respons terhadap kehidupan perkotaan yang membuat banyak orang merasa terasing atau kesepian. 

Manusia pada dasarnya adalah makhluk komunal yang memiliki kebutuhan untuk terhubung.

"Fenomenanya adalah anonimitas yang membebaskan. Ketika kita bertemu dengan orang yang kita tidak takut identitas kita terbongkar atau masa lalu kita diketahui, kita bisa berekspresi secara bebas," ujar Ikhwan.

Selain kesepian, ada pula unsur novelty seeking atau pencarian pengalaman baru. Bagi sebagian orang, bertemu orang asing menghadirkan rasa penasaran dan pengalaman sosial yang segar.

Pentingnya menjaga batas aman

Meski menyenangkan, bertemu orang asing tetap memiliki risiko. Oleh karena itu, penyelenggara menerapkan langkah mitigasi, seperti biaya keanggotaan untuk menyaring peserta, serta pemilihan lokasi di ruang publik yang ramai.

Ikhwan juga menyarankan agar peserta tetap berhati-hati dan memberi tahu orang terdekat saat mengikuti acara serupa. Batas antara keberanian dan sikap nekat terletak pada seberapa jauh seseorang membuka informasi personal.

Pada akhirnya, dinner with stranger menjadi ruang kecil bagi banyak orang untuk merasa terhubung kembali. 

Mungkin tidak semua pertemuan berlanjut menjadi pertemanan panjang, tetapi bagi sebagian orang, dua jam obrolan tersebut cukup berarti untuk sekadar merasa bahwa mereka tidak sepenuhnya sendirian.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index