JAKARTA – Negara Amerika Serikat resmi menandai kiprah perdana mereka sebagai tuan rumah ajang Piala Dunia di rumah sendiri sejak periode 1994 lewat gelaran upacara pembukaan yang berlangsung meriah serta penuh energi di Los Angeles.
Musisi Katy Perry yang merupakan penyanyi asli kelahiran California Selatan tampak naik ke atas panggung utama beberapa menit sebelum para punggawa sepak bola memasuki area lapangan hijau.
Sebelum kemunculannya, panggung terlebih dahulu dihentak oleh aksi musisi rapper papan atas East Coast, Future, beserta rentetan jajaran penyanyi berkelas dunia lainnya.
Di luar tensi keseruan dari laga perdana sepak bola, turnamen akbar tahun ini berhasil menyedot atensi publik global berkat sajian pentas musik lintas genre yang kaya akan akulturasi pengaruh budaya.
Mulai dari aliran musik Latin, Kpop, Afrobeats, pop arus utama, hingga suguhan balada orkestra dihadirkan oleh masing-masing negara tuan rumah guna menonjolkan identitas artistik khas mereka.
Pihak Meksiko memilih untuk merangkul kehangatan atmosfer festival Latin yang semarak, sementara pihak Amerika Serikat condong mengusung konsep kemegahan panggung konser musik pop berskala besar.
Di sisi lain, pihak Kanada menjatuhkan pilihan pada konsep presentasi seni yang dinilai jauh lebih elegan serta berakar kuat pada nilai warisan kebudayaan lokal.
Pasca bergulirnya rangkaian tiga malam upacara pembukaan di tiga negara berbeda, sorotan media internasional kini tertuju pada lima nama musisi yang dinilai paling mencuri perhatian publik.
Nama diva pop Shakira mencuat sebagai salah satu penampil yang mendulang panen pujian paling masif setelah merampungkan aksi panggungnya pada seremoni pembukaan di Meksiko.
Ia tampil memukau lewat skema kolaborasi apik bersama Burna Boy, yang menyuntikkan dimensi warna musik Afrobeats ke dalam karakter vokal suara Latin khas miliknya.
Tata panggung yang disuguhkan dinilai sukses merepresentasikan atmosfer perayaan negara tuan rumah dengan sangat sempurna lewat pameran visual bertema Latin.
Sajian tersebut kian semarak dengan kehadiran para penari latar yang energik, kibaran bendera beraneka warna, serta efek tata cahaya dramatis yang menyulap kondisi stadion laksana sebuah pesta karnaval.
Lewat lagu bertajuk "Dai Dai", sang superstar asal Kolombia ini kembali mempertegas ikatan emosionalnya yang telah lama terjalin erat dengan sejarah kompetisi akbar Piala Dunia.
Langkah ini menyusul kesuksesan warisan karya musiknya terdahulu yang telah meninggalkan rekam jejak tak terlupakan di benak publik lewat lagu "Waka Waka" serta "La La La".
Apabila Shakira dinilai sukses mendominasi panggung lewat aspek simbolisme dan nostalgia, maka upacara pembukaan di Amerika Serikat dinilai unggul telak dalam urusan jangkauan impresi di media sosial.
Mengambil tempat di Stadion SoFi, pertunjukan Amerika Serikat sangat menonjolkan atmosfer konser stadion modern yang dilengkapi panggung utama megah, transisi rumit, hingga tim penari berskala masif.
Ditambah dengan suguhan visual replika trofi Piala Dunia berukuran raksasa, kemasan acara tersebut terasa sangat berjiwa muda, mencolok, dan berorientasi penuh pada aspek kualitas pertunjukan.
Kehadiran Lisa, Anitta, Rema, Tyla, Future, serta Katy Perry sukses mentransformasikan upacara di Los Angeles tersebut menjadi sebuah panggung akbar pop multikultural.
Titik pusat perhatian penonton tertuju pada lagu "Goals", sebuah karya kolaborasi yang dibawakan oleh Lisa, Anitta, dan Rema yang memadukan unsur Kpop, pop Latin, serta Afrobeats menjadi satu kesatuan.
Kendati tingkat popularitas Lisa berhasil memikat atensi yang sangat besar, sebagian kalangan penonton menilai bahwa lagu "Goals" masih terasa kurang memiliki kedalaman intensitas emosional.
Rangkaian lirik di dalam lagu tersebut dinilai oleh sejumlah kritikus musik masih belum berhasil menangkap esensi semangat dan persatuan yang biasa melekat kuat pada lagu kebangsaan sepak bola.
Sementara itu, Katy Perry yang tampil memukau di Stadion SoFi terpantau sukses melanjutkan kemegahan atmosfer konser yang telah dibangun sejak awal di Los Angeles.
Dibalut gaun bernuansa perak berkilauan, sang penyanyi membawakan lagu bertajuk "Wonder" yang menyuguhkan nuansa momen lebih lembut sekaligus syahdu bagi para penonton.
Penampilan Perry ini sukses memicu rasa penasaran yang tinggi sejak sebelum acara dimulai, lantaran momen ini menandai kali pertama bagi dirinya membawakan lagu tersebut secara langsung di panggung Piala Dunia.
Di sisi lain, nama musisi EJAE awalnya sempat dipandang sebagai sosok penampil yang tidak terduga di dalam daftar jajaran artis global layaknya Shakira, Lisa, ataupun Katy Perry.
Namun, kepiawaiannya dalam melantunkan lagu berjudul "DNA" terbukti ampuh dengan cepat membalikkan rupa-rupa persepsi miring yang sempat beredar sebelumnya.
Berbeda dari konsep tari berenergi tinggi yang mendominasi upacara pembukaan, panggung aksi EJAE justru menawarkan atmosfer yang dirasa jauh lebih elegan serta menyentuh sisi emosional.
Saat melantunkan nada di samping Andrea Bocelli, ia sukses melahirkan perpaduan vokal yang menawan antara karakter suara klasik Bocelli yang kuat dengan karakter vokal mudanya yang kontemporer.
Berbeda dengan ledakan energi Latin di Meksiko atau kemegahan pop di Amerika Serikat, pihak Kanada memilih untuk merangkul atmosfer acara yang terasa jauh lebih formal serta tenang.
Dalam suasana tersebut, Michael Bublé memilih untuk tetap tampil setia dengan karakter aslinya yang lebih mengedepankan kualitas vokal dan penyampaian rasa ketimbang pameran aksi panggung spektakuler.
Namun, keputusan dirinya dalam membawakan lagu "Bring It On Home To Me" justru memantik jalannya arus perdebatan di kalangan publik penonton internasional.
Banyak pihak mempertanyakan kesesuaian lagu tersebut dengan esensi pesta sepak bola yang identik dengan pacuan adrenalin, luapan gairah, serta gelombang energi besar dari bangku penonton.