BCA Catat Tren Pertumbuhan Positif pada Layanan Transaksi Remitansi

BCA Catat Tren Pertumbuhan Positif pada Layanan Transaksi Remitansi
Ilustrasi Karyawan Bank BCA.

JAKARTA - Lini bisnis pengiriman uang luar negeri atau remitansi perbankan terpantau tetap berkembang pesat di tengah situasi ekonomi dunia maupun domestik yang diwarnai ketidakpastian.

Salah satu pelaku industri yang membukukan performa impresif adalah Bank Syariah Indonesia (BSI). Sampai dengan periode April 2026, akumulasi nilai transaksi remitansi BSI melonjak tinggi mencapai 47 persen secara tahunan hingga menyentuh angka Rp56 triliun.

Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar mengutarakan bahwa pencapaian positif ini salah satunya dipicu oleh langkah perluasan jaringan remitansi perusahaan. Hingga kini, sistem remitansi BSI sudah menjangkau 15 negara dengan dukungan 29 mitra skala global.

“Ekspansi jaringan menjadi salah satu pendorong peningkatan transaksi remitansi di sejumlah negara, salah satunya mitra-mitra remitansi di Asia,” jelas Wisnu kepada Kontan, pekan lalu.

Secara lebih rinci, dirinya memaparkan saat ini layanan BSI Remittance telah beroperasi di Malaysia, Hong Kong, Singapura, Jepang, Australia, Uni Emirat Arab, Brunei Darussalam, Korea Selatan, Qatar, Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Indonesia. Malahan baru-baru ini, BSI juga membuka ekspansi baru di negara Turki dan Oman.

Melalui kehadiran jaringan yang luas, diserai fasilitas layanan yang komprehensif serta terintegrasi pada sistem e-channel bank yang dapat diakses dari luar negeri, Wisnu merasa sangat optimis laju pertumbuhan bisnis remitansi BSI bakal bergerak lebih cepat dari realisasi tahun sebelumnya. Terlebih lagi, sektor remitansi memegang peranan penting sebagai penyumbang pendapatan komisi bagi pihak bank.

Kondisi yang seirama juga ditunjukkan oleh EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn yang memaparkan bahwa pergerakan performa pada sektor layanan remitansi BCA menampilkan grafik kenaikan yang menjanjikan.

Peningkatan volume transaksi remitansi ikut menyumbang andil besar bagi kenaikan pendapatan non-bunga BCA yang per Maret 2026 melonjak 14,2 persen secara year on year (yoy) menjadi Rp6,6 triliun, di mana raihan ini disokong penuh oleh omzet fee dan komisi yang merangkak naik 14,2 persen yoy ke level Rp5,5 triliun.

“Pencapaian tersebut sejalan dengan komitmen BCA untuk senantiasa menghadirkan solusi layanan keuangan terbaik guna memenuhi kebutuhan nasabah di berbagai segmen,” kata Hera.

Saat ini, fasilitas remitansi milik BCA sanggup melayani penukaran lebih dari 100 mata uang asing dengan fokus utama pada 18 mata uang dunia yakni USD, CNY, EUR, SGD, AUD, AED, CAD, CHF, DKK, GBP, HKD, JPY, SAR, SEK, NZD, THB, MYR, dan KRW.

Lebih lanjut, Hera menerangkan bahwa tren kenaikan transaksi pengiriman uang asing ini merata terjadi pada bermacam-macam kanal e-channel perbankan. Kemudahan operasional lewat transaksi elektronik tersebut juga sudah difasilitasi dengan menu unggah berkas validasi untuk pengiriman dana yang melampaui ambang batas regulasi resmi. Lewat terobosan ini, proses pengiriman modal berjalan lebih praktis serta efisien.

Bukan hanya itu, BCA juga meluncurkan menu Poket Valas pada platform aplikasi myBCA guna menyodorkan fleksibilitas bagi para nasabah dalam mengatur kepemilikan mata uang asing.

Melalui pemanfaatan fitur digital ini, para pengguna jasa perbankan bisa melangsungkan pengisian saldo, penarikan uang tunai, pengiriman, hingga penerimaan bermacam-macam valuta asing secara kilat dan mudah. Untuk saat ini, terdapat 18 jenis mata uang dunia yang sudah kompatibel untuk ditransaksikan lewat Poket Valas myBCA.

Hera menegaskan bahwa korporasinya senantiasa memegang komitmen penuh dalam mendongkrak mutu sekaligus menjamin keandalan sistem remitansi BCA demi menyajikan keuntungan ekstra bagi para penggunanya.

“Dengan begitu, jumlah transaksi remitansi diharapkan akan terus bertumbuh hingga akhir tahun ini,” tukasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index