JAKARTA - Grafik nilai emas dunia terpantau kembali meneruskan tren penguatan pada sesi pembukaan perdagangan Selasa pagi (16/6/2026).
Komoditas logam mulia ini terpantau kokoh melaju di area positif setelah pada penutupan hari sebelumnya sukses menguat selama tiga hari berturut-turut.
Berdasarkan data grafik Refinitiv, pada Selasa (16/6/2026) jam 06.30 WIB, nilai emas dunia bertengger pada level US$4.315,31 per troy ons atau mengalami kenaikan sebesar 0,22 persen.
Sinyal positif ini menyambung tren kenaikan pada perdagangan Senin (15/6/2026), di mana harga emas kala itu mendarat di level US$4.305,83 per troy ons.
Apresiasi harga logam mulia ini dipicu oleh reda berlebihnya kepanikan pasar global pasca-munculnya laporan bahwa Amerika Serikat (AS) bersama Iran telah mengesahkan draf perdamaian guna menghentikan konflik.
Informasi kondusif itu membuat pelaku usaha mulai menepis kekhawatiran terkait potensi lonjakan nilai minyak, tekanan inflasi makro, hingga ancaman naiknya suku bunga acuan AS.
Sebelum wacana damai mengemuka, gesekan senjata antara pihak AS dan Iran sempat menahan laju pertumbuhan nilai emas dunia akibat meroketnya tarif energi global.
Kondisi tersebut sejatinya kurang menguntungkan bagi emas lantaran komoditas ini tidak menyerahkan imbal hasil langsung layaknya instrumen obligasi ataupun deposito keuangan.
Namun, angin segar perdamaian merombak arah prediksi pasar yang berimbas pada koreksi harga minyak, melemahnya imbal hasil obligasi AS, dan tertekannya indeks dolar AS.
Peluang naiknya suku bunga AS ikut menyusut, di mana pelaku pasar memotong prediksi kenaikan bunga The Fed edisi Desember ke level 58 persen dari semula 70 persen.
Nota kesepahaman damai tersebut dilaporkan telah disetujui lewat tanda tangan Presiden AS Donald Trump, Wakil Presiden AS JD Vance, serta pimpinan parlemen Iran.
Kendati komoditas emas sedang dalam tren menguat, arah pergerakan aset selanjutnya bakal sangat bertumpu pada hasil keputusan sidang komite bank sentral AS (The Fed).
Otoritas moneter tertinggi di AS tersebut dijadwalkan bakal melangsungkan rapat penentuan kebijakan strategis pada rentang tanggal 16-17 Juni 2026.
Pasar dipastikan bakal menyoroti arah pandangan Ketua The Fed Kevin Warsh, terutama tentang proyeksi kebijakan suku bunga ke depan untuk mengukur posisi aman emas.
Selain mencermati arah The Fed, para pelaku usaha juga mengamati rilis data ekonomi AS teranyar, meliputi angka penjualan ritel, sektor properti, dan aktivitas manufaktur.
Prospek cerah emas turut disuarakan Robert Kiyosaki, penulis buku Rich Dad Poor Dad, yang memproyeksikan harga emas bisa menembus US$35.000 per ons pada 2035.
Akan tetapi, Kiyosaki memberi peringatan agar investor tetap waspada terhadap risiko kerugian di tengah fluktuasi pasar obligasi AS dan euforia aset alternatif.
Kondisi sebaliknya menimpa perak yang terkoreksi 0,24 persen ke posisi US$69,84 per troy ons pada Selasa pagi, setelah menguat 3 persen ke level US$70,01 pada hari Senin.