Langkah PTPN 1 Bangun Peternakan Ayam Petelur untuk Dukung MBG

Langkah PTPN 1 Bangun Peternakan Ayam Petelur untuk Dukung MBG
Sekretaris Perusahaan PTPN I Aris Handoyo menjawab pertanyaan awak media di Jakarta, Senin (15/6/2026) malam.

JAKARTA - PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I menjalankan proyek pengembangan kawasan peternakan ayam petelur terintegrasi di wilayah Bone, Sulawesi Selatan demi menopang ketersediaan stok telur nasional sekaligus menyokong pemenuhan logistik program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sekretaris Perusahaan PTPN I Aris Handoyo mengutarakan bahwa proyek strategis tersebut kini sudah menginjak fase awal pengerjaan konstruksi lewat agenda peletakan batu pertama atau groundbreaking yang bertempat di Bone, Sulawesi Selatan.

"Kami ada program peternakan ayam terintegrasi di Bone. Kami sudah groundbreaking di sana. Nanti harapannya telur-telurnya (yang diproduksi) bisa membantu proses pemenuhan kebutuhan telur di MBG," kata Aris dalam bincang bersama awak media di Jakarta, Senin malam.

Berdasarkan penjelasan Aris, pengerjaan kawasan peternakan ayam terintegrasi ini dipersiapkan matang guna mengover keseluruhan rantai bisnis, mulai dari sektor pembenihan, pembesaran bibit ayam petelur, hingga pemrosesan produksi telur siap edar.

Manajemen PTPN I menaruh harapan agar output produksi telur dari sentra peternakan ini ke depannya dapat langsung dialokasikan untuk menyuplai agenda program MBG dalam memenuhi target pangan padat gizi untuk warga.

Aris menerangkan kapasitas produksi yang tengah dirancang korporasi tergolong besar dengan target populasi menyentuh angka ribuan ekor ayam petelur, walaupun untuk kalkulasi angka pastinya masih dikaji mendalam.

Ekspansi bisnis pada sektor perunggasan ini sekaligus menjadi bagian dari taktik diversifikasi portofolio usaha PTPN I yang kini tidak sekadar bertumpu pada komoditas kebun, melainkan merambah ke sektor ternak.

Dirinya menyebutkan bahwa angka serapan kebutuhan komoditas telur nasional masih menyimpan potensi pertumbuhan yang lebar, terkhusus bagi area di luar Pulau Jawa yang memerlukan pasokan tambahan demi memenuhi kebutuhan konsumen.

Berdasarkan penilaian Aris, situasi surplus produksi daging ayam serta telur yang sering kali bergulir lebih banyak berpusat di Pulau Jawa, sementara sejumlah wilayah provinsi lain terpantau masih sangat membutuhkan pasokan ekstra.

Oleh karena itu, kehadiran program nasional MBG dinilai memiliki andil besar dalam mengatrol volume penyerapan telur secara optimal sekaligus menjaga stabilitas angka pasokan serta harga di level produsen perunggasan.

Dalam mengeksekusi proyek ini, PTPN I mengadopsi pola kemitraan strategis dengan menggandeng pihak korporasi swasta bersama PT Berdikari, entitas BUMN peternakan terintegrasi, guna menyerap pengalaman dan inovasi teknologi perunggasan modern mereka.

Melalui penerapan skema tersebut, PTPN I memegang peranan untuk menyedikan hamparan lahan pengembangan, sedangkan untuk operasional teknis peternakan serta adopsi teknologi produksi mutakhir diserahkan kepada mitra usaha.

Aris berpandangan skema kemitraan tiga pihak ini krusial diterapkan lantaran internal perusahaan masih dalam fase penjajakan awal serta penyesuaian untuk mengelola bisnis perunggasan secara berkelanjutan dan kompetitif.

Untuk langkah jangka panjang, PTPN I mengupayakan agar proyek peternakan ayam terintegrasi di Sulawesi Selatan tersebut mampu menjadi percontohan model bisnis yang mengokohkan ketahanan pangan serta menunjang kelancaran program MBG.

Aris menyertakan informasi bahwa PTPN I tidak hanya berfokus membangun sentra peternakan ayam petelur terintegrasi di Bone, melainkan ikut menggodok proyek serupa di Lampung guna mendongkrak volume kapasitas produksi.

Agenda penanaman modal peternakan di Lampung dipastikan bakal mengeksplorasi formula kerja sama yang serupa, yakni pola kemitraan bersama PT Berdikari diiringi keikutsertaan pihak swasta.

"Jadi ada di Lampung maupun di Sulawesi. Sama-sama dengan Berdikari dan sama dengan swasta, tiga pihaklah kerja sama," katanya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index