JAKARTA — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjadi tantangan serius bagi industri elektronik nasional, termasuk bagi Sharp Electronics Indonesia.
Lonjakan biaya bahan baku, terutama material plastik yang mendominasi 70% komponen produk, telah menekan margin keuntungan perusahaan secara signifikan.
Meskipun strategi lindung nilai (hedging) di level kurs Rp 16.800 telah terlampaui, Sharp Indonesia tetap mampu mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 4%–5% pada kuartal pertama 2026.
Senior General Manager National Sales Sharp Indonesia, Andry Adi Utomo, menjelaskan bahwa perusahaan terpaksa melakukan penyesuaian harga sebesar 10%–12% untuk mengimbangi kenaikan biaya material.
"Cukup unik, setiap kali kami menaikkan harga justru konsumen bergegas membeli. Mungkin daya beli terbantu oleh berbagai program pemerintah, serta pertumbuhan lapangan kerja dan industri pendukung," ujar Andry, Minggu (21/6/2026).
Kinerja positif ini diperkuat dengan lonjakan penjualan sebesar 120% pada ajang Pekan Raya Jakarta (PRJ) 2026, dengan produk pendingin ruangan (AC) sebagai penopang utama.
Di tengah tekanan biaya operasional, Sharp Indonesia tetap menjalankan komitmen keberlanjutan lingkungan, salah satunya melalui program Sharp Run for the Future yang menginisiasi penanaman 600 pohon di kawasan Suaka Elang pada Juli mendatang.
Presiden Direktur Sharp Indonesia, Shinji Teraoka, menegaskan bahwa kesuksesan perusahaan tidak hanya diukur dari angka penjualan, tetapi juga kontribusi nyata bagi masyarakat dan pelestarian lingkungan selama 56 tahun beroperasi di Indonesia.