Premi Tunggal Topang Pertumbuhan Industri Asuransi Jiwa Nasional

Premi Tunggal Topang Pertumbuhan Industri Asuransi Jiwa Nasional
ilustrasi asuransi jiwa.

JAKARTA - Pertumbuhan realisasi premi pada sektor industri asuransi jiwa per April 2026 dilaporkan berhasil mencatatkan raport hijau berkat sokongan masif dari lini premi tunggal yang bergerak lebih agresif daripada premi reguler.

Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono, memaparkan bahwa akumulasi pendapatan premi industri asuransi jiwa di periode tersebut menembus angka Rp62,58 triliun atau tumbuh 3,28 persen secara tahunan.

“OJK melihat bahwa pertumbuhan premi tunggal di tengah ketidakpastian ekonomi antara lain dipengaruhi oleh preferensi sebagian nasabah untuk memperoleh perlindungan sekaligus melakukan penempatan dana dalam satu transaksi,” katanya.

Ogi menilai untuk model premi reguler secara umum memiliki tingkat sensitivitas yang jauh lebih tinggi terhadap dinamika makro ekonomi serta kondisi daya beli riil masyarakat karena menuntut adanya komitmen finansial jangka panjang.

“Meski demikian, kedua kanal tersebut tetap memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan industri dan memenuhi kebutuhan perlindungan masyarakat yang beragam,” katanya.

Pada kesempatan berbeda, Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia, Albertus Wiroyo, berpendapat bahwa dinamika antara premi tunggal dan reguler membuktikan potret kebutuhan proteksi masyarakat yang kian bervariasi.

Masyarakat kini cenderung memilah produk asuransi secara cermat, baik yang berbasis proteksi jangka panjang maupun instrumen fleksibel yang adaptif terhadap kondisi cash flow atau preferensi finansial personal.

Albertus menganalisis bahwa kurva kenaikan pada pos premi tunggal ini didorong kuat oleh performa produk asuransi jiwa kumpulan serta produk berbasis investasi atau unitlink yang tumbuh positif.

Menurut pandangannya, di tengah kondisi pasar yang fluktuatif, para nasabah memandang asuransi tidak hanya sebagai jaring pengaman risiko melainkan juga sarana penempatan dana investasi yang potensial.

“Karena kalau kami lihat premi tunggal itu kan biasanya nasabah punya dana besar dan masuk. Jadi ada dua faktor sih. Pertama dari premi tunggal unitlink-nya meningkat, kedua premi tunggal dari asuransi kumpulan,” jelasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index