JAKARTA - Performa nilai tukar mata uang garuda mencatatkan penurunan berturut-turut pada penutupan perdagangan sesi pekan ini di hadapan mata uang dolar Amerika Serikat.
Berdasarkan pencatatan data pasar keuangan terbaru, pergerakan nilai tukar rupiah terkoreksi sebesar 0,52 persen atau merosot sebesar 93 poin menuju ke posisi Rp17.952 per dolar Amerika Serikat.
Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan performa indeks dolar Amerika Serikat atau DXY yang justru terpantau mengalami penguatan sebesar 0,17 persen menuju ke level 101,57.
Pada perdagangan hari sebelumnya, posisi kurs rupiah juga sempat ditutup melemah tipis sebesar 16 poin atau setara 0,09 persen untuk bersandar di level Rp17.859 per dolar Amerika Serikat.
Senior Currency Analyst MUFG, Lloyd Chan, berpendapat bahwa kebijakan bank sentral menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen sejatinya bertujuan menahan laju depresiasi rupiah.
Langkah pengetatan moneter tersebut diambil oleh pihak Bank Indonesia setelah nilai mata uang dalam negeri sempat terpuruk hingga menembus level psikologis baru yakni Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.
"Namun, meningkatnya ketidakpastian global kemungkinan akan membatasi pemulihan rupiah yang berkelanjutan. Likuiditas dolar AS di dalam negeri tetap ketat, menunjukkan adanya permintaan dasar yang masih kuat terhadap dolar. Tekanan eksternal tetap ada, termasuk tingginya yield AS dan harga minyak yang tinggi," ujarnya.
Melihat indikator fundamental makro, performa neraca dagang Indonesia dilaporkan menyusut drastis ke angka 89 juta dolar Amerika Serikat pada April 2026 dari posisi sebelumnya sebesar 3,3 miliar dolar Amerika Serikat.
Di sisi lain, komponen cadangan devisa negara juga ikut tergerus menjadi 144,9 miliar dolar Amerika Serikat dibanding posisi akhir Desember tahun lalu yang berada di angka 156,5 billion dolar Amerika Serikat.
Kondisi tersebut kian dipersulit dengan adanya lonjakan inflasi pada sektor komoditas pangan sebesar 6,2 persen secara tahunan yang berisiko memicu efek berantai pada instrumen inflasi lainnya.
Melihat tekanan eksternal yang belum mereda, Lloyd memproyeksikan adanya potensi penambahan suku bunga acuan BI Rate sebesar 25 basis poin lagi pada periode kuartal III tahun 2026.
Penyesuaian suku bunga lanjutan tersebut diperkirakan bakal dieksekusi paling cepat pada bulan Juli mendatang demi mengamankan stabilitas nilai tukar serta menekan pergerakan inflasi.
Dalam estimasi jangka pendek, kurs rupiah diprediksi akan bergerak fluktuatif pada kisaran level Rp17.500 hingga Rp17.800 per dolar Amerika Serikat jika kondisi tensi geopolitik mereda.
"Namun, dengan meningkatnya kembali ketegangan di Timur Tengah, risiko cenderung mengarah ke atas. Risikonya adalah konflik berlanjut hingga kuartal III, dengan rupiah bergerak sedikit lebih tinggi kembali menuju Rp18.200. Dalam kondisi ini, lonjakan kenaikan secara episodik masih mungkin terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global," tandasnya.
Pada pergerakan harian, TradingView merekam fluktuasi rupiah yang sempat tergelincir sebesar 0,49 persen ke level Rp17.950 per dolar Amerika Serikat pada sesi siang sebelum akhirnya ditutup di posisi terendah baru.