JAKARTA - Perusahaan emiten telekomunikasi milik negara, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk atau TLKM, secara terbuka membeberkan landasan mendasar di balik langkah besar pemangkasan puluhan anak usahanya.
Manajemen perusahaan memutuskan untuk mengurangi total anak perusahaan secara drastis dari yang sebelumnya berjumlah 67 entitas kini diringkas hingga menyisakan 19 entitas usaha saja.
Direktur Utama Telkom Indonesia, Dian Siswarini, memaparkan bahwa agenda perampingan korporasi ini dijalankan sebagai bentuk realisasi atas amanat dari pihak Danantara Indonesia selaku institusi pemegang saham negara.
Dalam mengeksekusi misi konsolidasi struktur korporasi tersebut, pihak internal perusahaan menerapkan kombinasi metode pelepasan saham atau divestasi serta mekanisme penutupan hukum atau likuidasi.
“Kami harus menyederhanakan portofolio bisnis yang sekarang tumpang tindih, dan merampingkan jumlah anak perusahaan menjadi di bawah 20 anak perusahaan,” ujar Dian di Komisi VI DPR RI.
Tercatat hingga periode Juni 2026, korporasi telekomunikasi ini sudah resmi melepas kepemilikan modal pada dua anak usahanya yang bergerak di sektor fasilitas kesehatan, yaitu AdMedika dan Telkomedika.
Kedua entitas penunjang medis tersebut dialihkan porsi kepemilikannya melalui transaksi komersial divestasi kepada salah satu korporasi kesehatan asal Singapura, Fullerton Health.
Di samping itu, pihak Telkom juga telah resmi membubarkan enam anak perusahaan lain yang setelah dievaluasi posisinya berada di luar batas kompetensi dasar grup serta minim menyumbang profit.
Adapun jajaran enam entitas yang masuk daftar likuiditas tersebut meliputi PT Citra Sari Makmur, PT Media Nusantara Data Global, PT Omni Inovasi Indonesia, Sigma AIT Bhd, PT Alam Pesona Wisata, dan PT Pojok Celebes Mandiri.
“Untuk streamlining ini kami sudah menutup beberapa perusahaan yang juga di luar dari core strength kami dan juga tidak memberikan value, atau bahkan menggerus value atau hasil dari Telkom Group,” pungkasnya.
Pada kesempatan terpisah, Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, memberikan pandangan bahwa restrukturisasi portofolio yang ditempuh oleh manajemen Telkom Group merupakan instrumen krusial bagi masa depan bisnis.
Kebijakan ini menjadi strategi esensial korporasi dalam menanggapi pergeseran serta dinamika pada kancah industri digital dunia yang melaju dengan ritme yang sangat dinamis.
“Transformasi ini penting untuk memperkuat focus bisnis dan memastikan Telkom Group bergerak lebih agile dalam menjawab kebutuhan ekosistem digital nasional,” ujar Dony.
Selain agenda penyusutan entitas anak, program transformasi di bawah kendali BP BUMN dan Danantara ini turut diprioritaskan untuk memacu deretan proyek besar pada lini infrastruktur jaringan.
Rencana strategis yang masuk target konsolidasi meliputi penyatuan jaringan kabel optik antar-BUMN (FiberCo BUMN), ekspansi pusat data (Data Center), optimalisasi menara (TowerCo), dan penguatan infrastruktur (InfraCo).
Secara pararel dengan manuver korporasi tersebut, Telkom juga mengawal penataan ulang aspek perizinan operasional di lingkup internal agar ekosistem niaga grup menjadi jauh lebih adaptif.