JAKARTA - Pergerakan mata uang rupiah diperkirakan kembali ditutup melemah pada rentang Rp17.950 hingga Rp18.020 per dolar AS pada perdagangan Kamis (24/6/2026).
Sebelumnya, rupiah ditutup merosot 0,52 persen atau melemah 93 poin ke posisi Rp17.952 per dolar AS pada perdagangan Rabu (24/6/2026). Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat 0,17 persen menuju level 101,57.
Menurut pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, pergerakan nilai tukar rupiah saat ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik.
Dari sisi global, para pelaku pasar sedang memperhatikan dinamika konflik di Timur Tengah. Kabar terbaru menyebutkan Washington memberikan kelonggaran sanksi bagi Teheran selama 60 hari pasca-dialog perdamaian awal.
"Ketidakpastian tetap ada mengenai keberlanjutan kesepakatan tersebut. Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Selasa bahwa Iran telah menyetujui inspeksi nuklir hingga tak terbatas, sementara Teheran mengatakan bahwa mereka tidak membuat konsesi seperti itu dalam negosiasi," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (24/6/2026).
Selain isu perang, pasar juga tengah mengantisipasi kelanjutan kebijakan moneter dari pasar keuangan The Fed.
Ibrahim menyatakan, investor melihat ada peluang yang lebih besar terkait pengetatan kebijakan The Fed pada beberapa bulan ke depan menyusul pertemuan pekan lalu dan pernyataan agresif dari para pejabatnya.
Pasar memproeksikan peluang kenaikan suku bunga acuan berada di sekitar 70 persen pada bulan September, serta kalkulasi penuh untuk kenaikan berikutnya pada bulan Desember mendatang.
Sementara dari dalam negeri, pasar menyambut positif keputusan MSCI yang menunda evaluasi aksesibilitas pasar ekuitas Indonesia hingga bulan November.
Perpanjangan waktu peninjauan ini menyusul adanya kekhawatiran terkait akses pasar pada awal tahun, yang sempat membuat penyedia indeks membekukan perubahan untuk pasar Indonesia di Januari lantaran isu investabilitas.
Dari sisi makroekonomi, pemerintah menyiapkan stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun di semester II 2026. Langkah ini diambil sebagai antisipasi gejolak eksternal sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi.
"Berbagai kebijakan tersebut disiapkan untuk memperkuat daya tahan ekonomi domestik di tengah perkembangan geopolitik internasional yang masih berpotensi menimbulkan tekanan terhadap perekonomian dunia," tandasnya.
Pada penutupan pasar Kamis (25/6/2026), indeks dolar AS (DXY) dilaporkan melemah 0,10 persen ke level 101,51. Di waktu bersamaan, rupiah mampu menguat tipis 0,05 persen atau naik 9 poin ke Rp17.943 per dolar AS.
Pada pertengahan hari ini, performa mata uang garuda tercatat sempat menguat 0,14 persen atau naik 25 poin menjadi Rp17.925 per dolar AS.
Sementara pada pembukaan perdagangan pagi, mata uang rupiah terhadap dolar AS sempat lesu ke Rp17.952, atau turun sebesar 93 poin (0,52 persen), beriringan dengan indeks dolar AS yang melemah 0,05 persen ke posisi 101,56.