JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah diproyeksikan bakal berfluktuasi pada sesi pembukaan perdagangan awal minggu ini, Senin (29/6/2026), seiring sikap para pelaku pasar yang mengantisipasi publikasi rangkaian indikator ekonomi krusial dari ranah domestik maupun global.
Mengacu pada data TradingView, performa mata uang garuda pada sesi penutupan transaksi Jumat (26/6/2026) sebelumnya terpantau terdepresiasi sebesar 0,18 persen menuju ke posisi Rp17.970 per dolar AS.
Analis dari Doo Financial Futures Lukman Leong memaparkan bahwa rupiah sejatinya mengantongi modal untuk berbalik menguat menyusul mulai meredanya proyeksi pasar terhadap wacana kenaikan suku bunga acuan oleh The Fed. Stimulus positif ini turut didorong oleh kelanjutan tren penurunan harga minyak mentah dunia.
Kendati begitu, Lukman memproyeksikan riak fluktuasi masih akan mewarnai pergerakan rupiah pada perdagangan Senin (29/6/2026) lantaran para investor cenderung bersikap wait and see.
"Investor diperkirakan akan mengambil sikap lebih berhati-hati menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting, baik dari dalam negeri maupun luar negeri," ujarnya.
Dari dalam negeri, perhatian pasar bakal tertuju pada rilis rapor ekonomi awal Juli, seperti Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur, tingkat inflasi, hingga performa neraca perdagangan.
Selain indikator makro, pergerakan bursa saham global khususnya volatilitas saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI) turut menjadi perhatian, karena dinilai mampu memengaruhi selera risiko investor untuk menanamkan modal di pasar berkembang seperti Indonesia.
Berlandaskan akumulasi sentimen tersebut, Lukman memproyeksikan rupiah bakal bergerak dinamis di rentang Rp17.900 sampai Rp18.000 per dolar AS pada awal pekan.
Di lain pihak, Direktur Trive Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menilai beban tekanan bagi rupiah masih masif akibat keperkasaan indeks dolar AS yang ditopang oleh solidnya rangkaian data ekonomi dari Negeri Paman Sam.
Faktor pendukung kekokohan dolar mencakup revisi pertumbuhan PDB kuartal 1 AS yang melampaui estimasi, penurunan angka klaim pengangguran, serta angka inflasi inti Core PCE yang masih membubung tinggi, sehingga membuka celah bagi The Fed untuk kembali mendongkrak suku bunga.
Pasar bahkan memprediksi adanya skenario dua kali katrol suku bunga, yakni pada periode Juli atau September serta Desember 2026. Ekspektasi ini mengungkit indeks dolar AS ke level 102,6 dan memicu pelemahan mata uang negara berkembang.
"Rupiah berpeluang menyentuh level Rp18.000 per dolar AS pada akhir pekan cukup besar. Penguatan dolar masih didukung oleh data ekonomi Amerika yang relatif solid," kata Ibrahim.
Ibrahim menambahkan, dari internal, cadangan devisa Indonesia berpotensi menyusut akibat langkah intervensi Bank Indonesia di pasar valas dan obligasi demi mengawal rupiah, meski posisinya dipastikan tetap aman untuk pembiayaan impor dan utang.
Pada sektor riil, PMI manufaktur nasional diprediksi masih terjebak di zona kontraksi bawah level 50 imbas maraknya program efisiensi dan PHK, sementara neraca dagang diyakini tetap surplus walau nilainya menyusut akibat perlambatan ekonomi China.
Di samping itu, pergerakan angka defisit anggaran pemerintah yang mendekati batas 3 persen terhadap PDB turut diwaspadai karena berpotensi menghadirkan sentimen negatif baru bagi mata uang rupiah.
Memasuki sore hari, data Tradingview mencatat rupiah berbalik menguat 0,36 persen ke level Rp17.840 per dolar AS, kontras dengan indeks dolar AS yang justru turun 0,10 persen ke posisi 101,25.
Performa mata uang regional Asia terpantau bergerak variatif, di mana yen Jepang melemah 0,05 persen dan yuan China menguat 0,09 persen, sementara ringgit Malaysia menguat tajam hingga 0,51 persen.
Ibrahim Assuaibi menguraikan bahwa eskalasi ketegangan geopolitik antara AS dan Iran pada akhir pekan memicu keraguan terhadap realisasi kesepakatan damai mereka, walaupun kedua belah pihak dijadwalkan kembali berdialog di Qatar.
Meskipun aktivitas pengiriman logistik via Selat Hormuz mulai berangsur normal dan menekan harga minyak, riak serangan baru pada akhir pekan tetap memicu kecemasan pasar atas rapuhnya komitmen damai AS-Iran tersebut.
Pada pemantauan siang hari pukul 14.19 WIB, rupiah sempat menguat sebanyak 72 poin atau 0,4 persen menuju ke posisi Rp17.850 per dolar AS.
Sementara pada pukul 12.00 WIB, mata uang garuda juga terapresiasi 0,33 persen ke level Rp17.862 per dolar AS, beriringan dengan penguatan ringgit Malaysia sebesar 0,57 persen dan peso Filipina yang naik 0,11 persen.
Sebagai informasi, pada pembukaan perdagangan pagi pukul 09.05 WIB, rupiah mengawali langkah dengan menguat 0,30 persen ke posisi Rp17.868 per dolar AS, di mana penguatan terbesar di Asia dipimpin oleh ringgit Malaysia yang melesat 0,40 persen.