Emiten ERAA Fokus Pada Efisiensi dan Diversifikasi Merek di Semester 2

Emiten ERAA Fokus Pada Efisiensi dan Diversifikasi Merek di Semester 2
Gerai Erafone Milik PT Erajaya Swasembada Tbk.

JAKARTA — PT Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA) memberikan kepastian untuk terus menggulirkan agenda ekspansi usaha pada paruh kedua 2026 dengan kalkulasi lebih konservatif sejalan dengan naiknya tensi ketidakpastian ekonomi global.

Direktur ERAA Patrick Adhiatmadja memaparkan bahwa alokasi anggaran belanja modal untuk periode tahun ini pada dasarnya tidak memiliki selisih jauh jika disandingkan dengan realisasi pada tahun 2025.

Kendati demikian, gejolak pada aspek eksternal memaksa korporasi untuk bertindak lebih waspada dalam mengeksekusi pendirian gerai baru maupun melebarkan sayap jaringan operasional usaha.

Menurut penjelasannya, setiap instrumen investasi yang dialokasikan demi perluasan bisnis saat ini melewati proses kurasi yang jauh lebih ketat agar tetap mampu menyuguhkan imbal hasil paling maksimal.

"Kami masih optimistis tapi penuh kehati-hatian. Harapan kami kondisi membaik, perang Teluk bisa lebih jelas ujungnya, sehingga kami bisa ngegas pada semester II/2026 ini," ujar Patrick Adhiatmadja.

Dirinya menjabarkan bahwa tren pertumbuhan perseroan pada masa sekarang tidak melulu bertumpu pada pembukaan outlet fisik baru saja di berbagai wilayah.

Perseroan terpantau menggeser fokus untuk mendongkrak produktivitas lini bisnis yang telah berjalan, dibarengi dengan pengetatan efisiensi biaya operasional agar grafik performa perusahaan tetap mencetak raport hijau.

"Kami melihat pertumbuhan dari produktivitas usaha yang sudah ada dengan mengetatkan ikat penyandangan. Kami harap bisa tumbuh tetap sehat dibanding pertumbuhan GDP Indonesia sehingga kami bisa tetap bertumbuh pasarnya," imbuhnya.

Manifes strategi tersebut terlihat nyata pada pencapaian kinerja keuangan perseroan di sepanjang kuartal I/2026, di mana ERAA sukses membukukan pendapatan senilai Rp22,4 triliun.

Raihan tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 41,1 persen secara tahunan yang ditopang oleh performa solid dari akumulasi lini usaha yang dimiliki oleh perusahaan.

Berjalan seiringan dengan lonjakan penjualan, perolehan laba kotor ikut merangkak naik sebesar 33,1 persen YoY menjadi Rp2,4 triliun, dengan catatan gross profit margin (GPM) pada level 10,7 persen.

Perusahaan pun berhasil menekan ongkos operasional, di mana rasio beban operasional (OPEX) terhadap penjualan mencetak perbaikan ke level 7,1 persen pada kuartal I/2026 dari sebelumnya 8,6 persen.

Berkat perpaduan antara akselerasi penjualan dan penghematan tersebut, keuntungan bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk melonjak 122,7 persen secara tahunan hingga menyentuh angka Rp453 miliar.

Pada aspek operasional, Erajaya konsisten mempertegas ekspansi jaringan ritelnya, di mana pada sektor Erajaya Digital, total toko bertambah dari 1.808 unit menjadi 1.859 unit hingga akhir kuartal pertama.

Akumulasi tambahan bersih sebanyak 51 gerai tersebut didapatkan dari realisasi 68 pembukaan gerai baru serta langkah penutupan pada 17 toko yang dinilai kurang produktif.

Sementara itu, pada divisi Erajaya Active Lifestyle yang mengawal sektor gaya hidup dan Internet of Things (IoT), kuantitas toko merangkak dari 205 menjadi 219 outlet fisik.

Untuk proyeksi ke depan, perusahaan memasang target penambahan kisaran 50 hingga 60 gerai baru setiap tahunnya dengan menyisipkan beberapa brand baru secara selektif.

Adapun pada sektor F&B yang berada di bawah bendera Erajaya Food & Nourishment, total gerai melejit dari 77 menjadi 84 toko dengan kontribusi utama disumbang oleh ekspansi merek teh premium Chagee.

Patrick Adhiatmadja menilai strategi diversifikasi portofolio merek bertindak selaku salah satu mesin pertumbuhan baru bagi perusahaan untuk mendongkrak kontribusi pendapatan di masa mendatang.

"Target kami adalah menambah brand. Dengan bertambahnya brand, kami juga akan menambah outlet dan penjualan sehingga dapat meningkatkan revenue perusahaan ke depannya," jelasnya.

Sedangkan untuk ekspansi bisnis di kancah internasional, akumulasi toko milik Erajaya tercatat berada di angka 242 gerai, mengalami sedikit penyusutan dari posisi 243 toko pada periode tahun lalu.

Vice President Director ERAA Hasan Aula mengutarakan bahwa efek tekanan akibat keperkasaan mata uang dolar AS ikut berimbas pada hampir seluruh portofolio bisnis perusahaan.

Oleh sebab itu, manajemen menerapkan manajemen risiko fluktuasi nilai tukar secara ketat, salah satunya melalui implementasi taktik lindung nilai atau hedging.

Menurut penuturan Hasan Aula, setiap muncul kebutuhan transaksi pembelian dalam denominasi dolar AS, manajemen bakal mengambil tindakan preventif dengan mengukur dinamika pergerakan kurs di pasar.

"Kami tetap mengelola forex dengan lebih hati-hati dan melakukan pendekatan yang forward looking," terangnya.

Selain mengandalkan taktik hedging, dampak depresiasi nilai tukar rupiah dinilai masih relatif aman karena mayoritas pasokan produk yang dijual didatangkan dari mitra pemasok lokal.

Hanya sebagian kecil dari lini produk, terutama pada segmen gawai elektronik tertentu, yang pemenuhannya masih mengandalkan jalur impor langsung dari luar negeri.

Selebihnya, sebagian besar barang dagangan Erajaya dibeli di dalam negeri sehingga risiko paparan atas fluktuasi nilai tukar mata uang asing menjadi lebih minim bagi korporasi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index