JAKARTA - PT Adhi Karya (Persero) menggerakkan sedikitnya 400 tenaga kerja serta memboyong 300 unit alat berat guna mengakselerasi pengerjaan megaproyek kawasan tambak udang modern terintegrasi di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, dengan target operasional pada tahun 2027.
"Total pekerja yang terlibat, termasuk operator ekskavator, saat ini mencapai sekitar 400 orang," kata Project Construction Manager PT Adhi Karya Abdul Kadir dari Sumba Timur, Selasa.
Dirinya mengutarakan bahwa langkah percepatan pengerjaan fisik ini sengaja diterapkan demi mengejar target operasional perdana dari sentra budidaya udang modern yang masuk ke dalam daftar proyek strategis sektor perikanan tersebut.
Menurut penjelasan Abdul Kadir, jalannya proyek infrastruktur ini ditopang oleh 300 unit armada alat berat yang mencakup 140 ekskavator serta sekitar 160 dump truck untuk menyokong pengerukan, mobilisasi material tanah, hingga pembentukan kolam.
Dari akumulasi alat berat yang diterjunkan di lapangan, sebanyak 30 unit di antaranya disewa dari wilayah lokal Pulau Sumba, sementara sisanya dikirim langsung dari berbagai penjuru wilayah domestik demi menyuplai kebutuhan konstruksi.
"Mobilisasi alat berat dalam jumlah besar menjadi bagian dari upaya mempercepat pekerjaan di lapangan sesuai target yang telah ditetapkan," ujarnya.
Ia memaparkan bahwa memasuki fase akhir Juni 2026, catatan progres fisik dari proyek pembangunan kawasan tambak udang modern terintegrasi ini dilaporkan telah menyentuh angka 4,21 persen.
Akumulasi capaian awal tersebut mencakup pendirian bangunan fasilitas temporer, penggalian kolam utama untuk budidaya udang, hingga pengerjaan tatanan pengolahan limbah pada klaster area pemeliharaan.
"Progres pekerjaan 4,21 persen ini terdiri atas pekerjaan fasilitas sementara, pekerjaan kolam budidaya udang, dan pekerjaan fasilitas pengolahan limbah klaster," katanya.
Proyek perikanan modern yang mengambil lokasi di kawasan Desa Palakahembi ini menelan modal investasi fantastis berkisar Rp7,2 triliun dengan total luas lahan operasi menembus angka di atas 2.000 hektare.
Sentra budidaya komoditas udang ini dikonsepkan sebagai kawasan terpadu yang dipasangi jaringan sarana pendukung komplet, termasuk instalasi pengolahan limbah mandiri, untuk mewujudkan tata kelola tambak yang efisien dan ramah lingkungan.
Realisasi dari pengerjaan proyek berskala makro ini diharap tidak cuma mampu mendongkrak volume produksi udang nasional saja, melainkan sanggup menyerap banyak tenaga kerja baru serta memicu stimulasi ekonomi bagi warga Sumba Timur dan NTT.