Mengenal Main Character Syndrome yang Bisa Berdampak Buruk bagi Ego

Mengenal Main Character Syndrome yang Bisa Berdampak Buruk bagi Ego
Ilustrasi Main Character Syndrome.

JAKARTA - Munculnya perasaan seolah-olah menjadi tokoh utama dalam kehidupan sendiri kini marak diperbincangkan. Fenomena psikologis ini akrab disebut dengan istilah main character syndrome di ruang digital.

Kondisi tersebut kerap disematkan untuk melabeli seseorang yang memandang dirinya sendiri sebagai pusat dari segala cerita, sedangkan orang-orang di sekitarnya hanya dianggap sebagai figuran.

Meskipun sekilas dapat memompa rasa percaya diri, pola pikir seperti ini justru berisiko memicu perilaku egois yang merugikan diri sendiri serta merusak keharmonisan hubungan sosial jika diadopsi secara berlebihan.

Menyadur data Cleveland Clinic, pakar psikologi Susan Albers menegaskan bahwa istilah tersebut bukan bagian dari gangguan medis resmi. Walakin, dinamika perilakunya sangat nyata ditemukan pada era digital saat ini.

"Main character energy adalah kondisi ketika seseorang merasa seperti kamera selalu menyorot dirinya," ujar Albers.

Imbas psikologis ini memengaruhi cara individu bertutur kata, memilih pakaian, hingga bersikap di hadapan publik demi membangun narasi kehidupan yang dramatis atau menarik perhatian.

Pada satu sisi, energi ini mampu memberikan dampak positif berupa dorongan motivasi serta keberanian untuk keluar dari zona nyaman karena memandang diri mereka bernilai.

Namun, persoalan serius akan muncul apabila ego tersebut mulai mengikis rasa empati dan mengabaikan eksistensi serta kebutuhan emosional orang lain di sekitarnya.

Seseorang dengan indikasi sindrom ini cenderung memanipulasi topik pembicaraan agar selalu kembali berputar pada kisah pribadinya, termasuk saat mendengarkan keluh kesah dari kerabat.

Mereka juga kerap meromantisasi kepedihan hidup dan menganggap hambatan sebagai bumbu penyedap cerita, yang memicu kemiripan dengan sifat narsistik akibat haus akan atensi publik.

"Akar dari perilaku ini sering kali justru berasal dari rasa tidak aman, kecemasan, atau rendah diri," jelasnya.

Oleh karena itu, persona sebagai seorang tokoh utama sering kali dijadikan sebagai tameng atau topeng untuk menutupi kerapuhan rasa percaya diri yang dialami di dunia nyata.

Platform media sosial dituding menjadi ekosistem subur bagi perkembangan sindrom ini karena kebiasaan pamer konten estetik demi menjaring validasi semu dari netizen.

Adapun beberapa indikator klinis yang patut diwaspadai dari sindrom ini meliputi perilaku dramatis, minim empati, haus validasi, hingga memandang orang lain sekadar sebagai figuran tanpa kendali.

Meski demikian, gairah menjadi tokoh utama tidak selamanya buruk asalkan individu tetap sadar bahwa setiap orang memiliki porsi cerita dan perjuangan hidup yang sama pentingnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index