Strategi Cicil Jaga Keseimbangan Lender Ritel dan Institusi 2026

Strategi Cicil Jaga Keseimbangan Lender Ritel dan Institusi 2026
Ilustrasi teknologi finansial atau fintech.

JAKARTA - PT Cicil Solusi Mitra Teknologi (Cicil) mengamati bahwa minat dari para pemberi dana (lender) individu masih berada di tren positif. Walakin, para pemodal ritel tersebut kini cenderung jauh lebih berhati-hati sebelum mengambil keputusan pendanaan.

Menurut Direktur Cicil Ivan Joshua Tandika, sikap kehati-hatian tersebut dipicu oleh kondisi suku bunga, kebutuhan perputaran kas (cash flow) pribadi, tekanan biaya hidup, serta perhatian terhadap risiko.

“Sehiingga para lender lebih berhati-hati dalam melakukan pendanaan di situasi ekonomi saat ini,” ucapnya kepada Bisnis, dikutip pada Senin (15/6/2026).

Meskipun demikian, ia menilai gairah para lender individu tetap terjaga dengan baik. Hal ini didorong oleh pencarian alternatif instrumen yang menawarkan imbal hasil kompetitif serta tingkat literasi keuangan digital masyarakat yang terus meningkat.

“Serta kepercayaan terhadap platform yang memiliki tata kelola dan manajemen risiko yang baik,” sebut Ivan.

Saat ini, modal pendanaan dari Cicil bersumber dari perpaduan antara lender individu atau ritel dengan lender institusi. Langkah kombinasi ini menjadi strategi utama perusahaan demi menjaga stabilitas serta keberlanjutan sumber pendanaan yang terdiversifikasi.

Bagi Ivan, sokongan dari kedua kategori segmen investor tersebut membuat pihak Cicil mampu memelihara kesinambungan dana. Hal ini sekaligus memperkuat kapasitas penyaluran pembiayaan secara lebih bijak (prudent) di tengah situasi ekonomi yang dinamis.

“Ke depan, Cicil akan tetap mengembangkan kedua segmen lender, baik lender individu/ritel maupun lender institusi. Keduanya memiliki peran yang saling melengkapi dalam mendukung pertumbuhan bisnis perusahaan,” tegasnya.

Ia memaparkan bahwa keberadaan investor perorangan memiliki peran krusial dalam memperluas keterlibatan masyarakat di ekosistem digital sekaligus menyokong inklusi keuangan. Sementara itu, investor institusi berfungsi memperkokoh stabilitas kapital untuk jangka menengah dan panjang.

“Oleh karena itu, strategi Cicil adalah menjaga keseimbangan antara lender individu/ritel dan lender institusi. Pendekatan ini dilakukan agar struktur pendanaan perusahaan tetap sehat, terdiversifikasi, prudent, dan berkelanjutan,” tutup Ivan.

Sebagai informasi tambahan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghimpun data per April 2026 bahwa nilai pendanaan industri fintech peer-to-peer lending yang bersumber dari investor individu bertengger di angka Rp3,33 triliun.

Di sisi lain, investor dari sektor perbankan masih menjadi penopang utama pendanaan di industri ini dengan nilai investasi menembus Rp66,25 triliun atau setara dengan porsi 75,59 persen.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index